Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sidi Jamaluddin: Ajaran Moderasi Gunung Jali Padangan

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
17/08/2025
in JURNAKULTURA
Sidi Jamaluddin: Ajaran Moderasi Gunung Jali Padangan

Ilustrasi: Klopo Jowo Kurmo Arab

Banyak nilai dan ajaran Sidi Jamaluddin dalam membangun selarasnya peradaban. Mulai prinsip moderasi hingga sikap toleransi dalam simbol Klopo Jowo Kurmo Arab. 

Jipang (Bojonegoro) merupakan lumbung peradaban yang menampung bermacam zaman. Tempat ini menjadi saksi atas megahnya Medang Kamulan, besarnya Kahuripan, digdayanya Jenggala, bijaksananya Singhasari, hingga selarasnya Majapahit. Di tempat ini, tradisi Medang Kamulan mendarah daging selama berabad-abad, dalam denyut nadi budaya masyarakat.

Tatkala Sidi Jamaluddin datang ke Gunung Jali Padangan pada paruh pertama abad 14 M, ia tak berdakwah di tengah ladang perdu yang kosong. Jipang Padangan, kala itu dipenuhi para Brahmana Kasogatan dan Kasaiwan yang merupakan para penjaga tatanan kosmik. Sebagai seorang pendatang, Sidi Jamaluddin tahu diri, statusnya hanyalah Mleca — status nomor 6 (paling bawah) dari 7 status manusia Jawa.

Dalam tradisi kuno Medang Kamulan, terdapat 7 strata manusia meliputi;  Brahmana (intelektual), Ksatria (pekarya), Waisya (petani), Sudra (pengusaha), Candala (algojo), Mleca (orang asing), dan Tuja (penipu). Seorang pendatang (Mleca), secara otomatis berstatus budak rendahan, dan diharamkan berbicara mengenai agama.

Baca Juga: Jejak Literatur Dakwah Sidi Jamaluddin di Gunung Jali Padangan

Jawa Utara, khususnya Jipang, pada masa ini, merupakan kawasan peradaban maju. Wilayah yang punya wibawa kebudayaan. Ia dibentuk sejak Medang Kamulan, Kahuripan, Jenggala, Singhasari, hingga Majapahit. Artinya, tidak mudah memasukan ajaran baru. Apalagi dibawa seorang Mleca. Tentu tak bisa diterima. Sebab, hanya Brahmana yang boleh berbicara agama.

Ilustrasi: Jipang yang kini dikenal dengan Bojonegoro, sudah masyhur bahkan sebelum Majapahit berdiri. Jipang merupakan pewaris Medang Kamulan yang namanya diabadikan dalam Prasasti Maribong, 1246 M. (Maps of Java)

Sidi Jamaluddin tentu tahu statusnya sebagai seorang Mleca yang tak boleh berbicara agama. Masyhur diceritakan bahwa Sidi Jamaluddin berkebun dan bertani selama bertahun-tahun. Dia bertani untuk meningkatkan strata dari sekadar Mleca (pendatang) menjadi Waisya (petani). Kelak di kemudian hari, ia juga membantu mengobati orang sakit, sehingga dikenal sebagai seorang Janggan (tabib).

Dalam kosmik Medang, status Janggan setara Brahmana. Hal ini membuat Sidi Jamaluddin mulai bisa diterima, bahkan berdialektika dengan para Brahmana Kasogatan dan Kasaiwan yang ada di sana. Inilah momen ketika Sidi Jamaluddin membangun sinkretisme — menjahit harmoni sosial-kosmik yang kelak dikenal sebagai Sufisme Jawi.

Klopo Jowo Kurmo Arab, Jowo Temoto Arab Ngetrap (yang lama sudah tertata, yang baru menyesuaikannya), merupakan kredo dan simbol Sufisme Jawi yang diusung Sidi Jamaluddin. Kredo ini masyhur diceritakan dari zaman ke zaman, melalui hikayat folklore di lingkup pertarekatan. Klopo Jowo Kurmo Arab adalah manifestasi makna penyelaras peradaban.

Jawa sudah tertata dengan wibawa ajaran lama. Karena itu, Islam datang dengan kerendahan hati sebagai rahmat saking pengeran; air yang menyegarkan, angin yang menyejukkan, dan api yang menghangatkan. Kedatangannya tak memicu banjir, tak menuai badai, dan tak membuat kebakaran.

Sidi Jamaluddin memperkenalkan Islam sebagai mekanisme keselamatan yang berporos pada sikap kasih sayang; memperhalus konsep karma, memperkenalkan pertaubatan, dan menawarkan kesetaraan derajat manusia. Klopo Jowo Kurmo Arab menjadi simbol moderasi, toleransi, serta implikasi epistemik atas ayat: wakadzalika ja’alnakum umatan wasathan (Al Baqarah 143).

Dalam konteks ajaran Sidi Jamaluddin, Umatan Wasathan tak hanya dimaknai sebagai sikap toleran terhadap beragam manusia. Namun juga sikap menjaga keseimbangan kosmos— tidak merusak alam, tidak mengeksploitasi ciptaan, dan hidup selaras dengan tatanan Ilahi.

Hikayat Padangan menyimpan beragam cerita folktale tentang ajaran-ajaran wasathiyah Sidi Jamaluddin. Baik berhubungan dengan etika sosial berupa sikap toleransi, prinsip moderasi (seimbang) dalam beragama, maupun ageman ekologi — mekanisme menjaga sumber daya alam (SDA) sebagai amanah tugas hidup manusia.

Tags: Gunung JaliKlopo Jowo Kurmo ArabMakin Tahu IndonesiaSidi JamaluddinSufisme JawiZawiyah Gunung Jali
Previous Post

Refleksi Kemerdekaan: Memperjuangkan Kebebasan dan Kesetaraan Perempuan

Next Post

Bojonegoro Krisis Transportasi Umum

BERITA MENARIK LAINNYA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026
Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini
JURNAKULTURA

Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini

08/03/2026
Golek Wengi: Aktivitas Masyarakat Bojonegoro Jelang Berbuka
JURNAKULTURA

Golek Wengi: Aktivitas Masyarakat Bojonegoro Jelang Berbuka

26/02/2026

Anyar Nabs

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

Ketika Perang Menang, Masa Depan yang Kalah

27/03/2026
Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

Obituari Jurgen Habermas: Jejak Demokrasi di Desa-desa Indonesia

26/03/2026
‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

‎Metode Padangan: Oikos Theos Logos untuk Masa Depan

25/03/2026
Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Riwayat yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

24/03/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: