Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Sikap Warga Nahdiyyin Menghadapi Fenomena Gus-gusan

Widodo Ramadhani by Widodo Ramadhani
04/11/2025
in Cecurhatan
Sikap Warga Nahdiyyin Dalam Menghadapi Fenomena Gus-gusan

Fonomena Gus-gusan kini tuai banyak kritikan. Dari medsos hingga berbagai kalangan. Seperti kemladeh (parasit) dalam tubuh pohon, agenda “kapitalisasi agama” semacam ini memang harus dikritik dan dihilangkan. 

Kapitalisasi agama sedang marak dibahas. Penyebabnya, banyak oknum gus-gusan yang sedang cari perhatian (caper) membangun branding diri. Fenomena ini, tak pelak membangun sikap ilfilitas (ilang filing) di mata umum.

Sebagai kader NU kultural. Kini banyak juga yang merasa resah. Melihat NU yang semakin dikritik terus oleh orang-orang non-NU. Sebagai kader NU tidak tinggal diam saja. Melihat hal semacam ini sangat risi.

Media sosial kerap muncul gus yang membawa rokok dan menyelupkan tangan ke air. Atas dalih barokah dan doa, para jamaah juga mau. Nah, apakah ini menjadi cermin Nahdlatul Ulama sekarang? Tentu tidak seperti itu.

Sebagai warga Nahdiyyin, adanya hal tersebut membuat geram sejumlah kalangan. Dari Nahdiyyin yang jagong di warung kopi, kini harus berani menyampaikan otokritik terhadap Gus-gusan yang mengatasnamakan NU tapi tidak mencerminkan NU sama sekali.

Postingan akun-akun tiktok memperlihatkan gus asal kediri. Orang tersebut mencelupkan tangannya ke air yang dibawa jamaah, bahkan bersalaman dengan lawan jenis. Tentu hal tersebut kurang etis dalam pandangan islam.

Islam tidak pernah mengajarkan hal tersebut. Apalagi bersentuhan dengan lawan jenis. Maka kita sebagai warga Nahdiyyin harus benar-benar mampu mengcounter hal itu di lingkungan kita masing-masing.

Bagaimana sikap kita sebagai warga Nahdiyyin?

Belajar dari Padangan — salah satu pusat intelektual Islam kuno di Bojonegoro, di mana para masyayikhnya melarang keras sikap feodal. Bahkan di Padangan cenderung tidak ada Gus, meski banyak para Gus yang ada di sana. Ini harus jadi tauladan penting bagi kita.

Dari zaman ke zaman, para masyayikh Padangan tak pernah mengajarkan sikap feodal. Khususnya dalam menjual agama ataupun mengobral wibawa. Sikap ini, bahkan dilarang secara keras di wilayah Padangan. Ini penting untuk menunjukan bahwa tak semua yang berhubungan dengan agama itu bisa dibenarkan.

Dalam melihat fenomena gus-gusan ini, sikap kita yang pertama, adalah melihatnya sebagai kasus yang harus ditelaah terlebih dahulu. Kenapa hal ini terjadi? Kenapa bisa melakukan seperti ini? Baru kita simpulkan. Jangan ujug-ujug menyimpulkan sebuah fenomena ini. Jika memang gus-gusan tadi hanya menjual perihal untuk kepentingan pribadi, maka harus dibrantas dengan beragam cara.

Setiap fenomena memiliki ibrah sendiri, jadi memandang kejadian ini harus memakai sudut pandang dan analisa yang berbeda. Agar kita juga bisa mengambil dari kejadian tersebut lebih baik untuk diri kita sendiri.

Kedua, sampaikan baik dan kurang baik kepada kalangan sendiri. Teman-teman dekat kita, mari diajak diskusi mengenai hal tersebut -fenomena gus-gusan- itu. Bagaimana menurut kawan-kawan jika ini diskusikan.

Warga Nahdiyyin harus siap menjadi ujung tombak jika hari fenomena tersebut semakin gencar. Menjadi ujung tombak yang bagaimana? Minimal diri kita mengajarkan yang tidak seperti -fenomena gus-gusan- itu. Sebat rokok sambil nyelupin tangan ke air jamaah.

Saya berpikir demikian. Banyak kiai-kiai NU yang tidak mau berdakwah dalam dunia maya. Ini juga menjadi jawaban yang viral akhir-akhir ini. Orang jika sudah masuk media sosial. Siap-siap kemanapun pergi akan dipantau oleh nitizen.

Minimal ketika dikritik jangan malah mengejek yang ngiritik. Kalau mengkritik kau anggap iri. Itu adalah tanggapan yang salah. Apalagi yang mengkritik sesama warga Nahdiyyin dan pemangku pesantren.

Setidaknya menjadi sebuah pelajaran untuk intropeksi diri agar lebih baik dari hari kemarin. Presiden saja memiliki Dewan Pertimangan Presiden. Apalagi Gus-gus yang mengampu majelis. Pasti memiliki guru.

Maka kita sebagai warga Nahdiyyin yang baik. Sampaikan kritik tersebut dengan cara yang baik. Jangan menjadi jamaah yang buta, hanya menganut orang sudah tidak sejalan dengan ajaran-ajaran Islam Aswaja. Lihat, baik bagi kita, belum tentu baik buat semuanya.

Tags: Gus ViralGus-gusan
Previous Post

Mentradisikan Baca di Warkop

Next Post

Pitutur Luhur Reksabumi: Kidung Leluhur untuk Menjaga Harmoni

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: