Air merupakan elemen terpenting bagi setiap makhluk di bumi. Dunia telah sepakat memperingati pentingnya air setiap tanggal 22 maret setiap tahun sebagai Hari Air Sedunia. Sudah sejak dahulu kala peradaban manusia tidak bisa lepas dari sumber air.
Salah satu sumber air itu adalah sungai, sudah dibuktikan oleh para ahli, bahwa sejak zaman purba, manusia cenderung menetap di dekat sungai. Pitecantropus Soloensis yang ditemukan di Ngandong, menjadi bukti paling awal tentang pentingnya Sungai besar (Bengawan) yang melewati Blora-Bojonegoro.
Sungai besar (Bangawan) atau sungai, secara umum juga dapat dikatakan sebagai bagian dataran bumi yang letaknya lebih rendah daripada tanah di sekelilingnya yang menangkap dan menjadi wadah mengalirnya air tawar menuju ke laut, danau, rawa, atau langsung ke sistem irigasi.
Sungai secara garis besarnya bermanfaat; sebagai tempat menampung air hujan, sumber kehidupan, pembangkit energi, dan sarana transportasi.
Bengawan Solo merupakan sungai terpanjang di Jawa, memanjang dari Jawa tengah ke Jawa timur, karena alur dan bentang yang luas ini maka bengawan sangat berguna bagi sarana transportasi, sebelum jalur-jalur darat dibangun mulai abad 19.
Peradaban Nusantara nampaknya dimulai dari peradaban sungai, betapa Kutai di Kalimantan dan Tarumanegara di Jawa membangun kejayaanya direntang waktu abad 5-6 melalui sungai.
Sementara Kahuripan mencapai puncak kemajuannya di Abad 11, setelah Erlangga mampu untuk menguasai seluruh potensi dua Bengawan di Jawa, yaitu Brantas dan Semanggi (Solo).
Prasasti Pucangan mengabarkan bahwa peran Kahudipan yang mendunia itu diawali atau terinspirasi dari tengah-tengah jalur Bengawan, atau Lwaram, dengan Haji Wurawari-nya. Dugaan sementara, Bengawan Sore Jipang dibangun sejak saat itu.
Di abad 16, Jipang, yang pada dasarnya berkedudukan sama dengan Ngloram, dikatakan sebagai wilayah dengan kepemimpinan seorang Arya (Brahmana) yang mengantar dan mempersiapkan sebuah Kasultanan Jawa bernama Pajang.
Apapun kejadian itu, rupanya telah terjadi siklus sejarah 500 tahunan di Bengawan Jipang. Bahwa Jipang nyatanya sanggup untuk mengantarkan perubahan besar dalam peradaban Jawa.
Memaknai peradaban Jipang, tentu juga terkait peradaban Bengawan, karena Jipang berada di posisi tengah antara hulu dan hilir Bengawan, apa yang terjadi pada jalur transportasi air dengan pelabuhan-pelabuhannya ini mengibaratkan kondisi Jawa secara umum.
Kedudukan Jipang membuktikan, bahwa dibutuhkan peradaban yang mapan, agar apa yang terjadi di pelabuhan-pelabuhan dagang laut utara Jawa (dari Jepara s/d Tuban) dan muara Bengawan (Gresik dan Sedayu) dapat berjalan dengan baik sampai dengan Hulu Bengawan (Pajang).
Dan peradaban itu adalah peradaban Islam, kemantaban Jipang dalam menangani jalur transportasi rupanya telah mengantarkan peradaban Islam lebih jauh menuju pedalaman Jawa.
Penerapan sistem baru itu, lebih-lebih di bidang ekonomi, adalah dengan kapal dan perahu dagang, yang tanpa disadar telah membawa muatan ajaran Islam, yang menekankan prinsip-prinsip keadilan antara petani dan pedagang.
Tokoh-tokoh Islam awal, dengan ciri sufistik yang kuat, yang dipelopori oleh Syeh Jumadil Kubro, Wali Santri, dan Sunan Ngudung telah mengantarkan Jipang menjadi paling dominan sepanjang Bengawan di segala lini.
Hal ini tak lepas dari peran mereka dalam menangani transportasi dan juga pasar-pasar, melalui dakwah-dakwah yang langsung merangkul kaum petani dan pedagang, sesuai dengan budaya mereka.
Dakwah yang membudaya itu terekam baik dalam Wayang Gedog (abad 16), dimana diciptakan oleh Sunan Ngampel di atas kapal dan di hilir Bengawan, yang selalu berkisah tentang petualangan dan pengembaraan seorang Menak atau Panji (tokoh berkuda) untuk mencari sebuah peradaban yang lebih baik. Wayang Gedog yang umum terbuat dari Kayu Jati pipih ini dilakonkan oleh seorang Dalang, santri Sunan Kudus.
Bisa jadi tokoh Menak Anggrung adalah salah satu tokoh Panji dalam Wayang itu untuk meneruskan misi dakwah di Bengawan lewat kebudayaan yang telah mengakar jauh di dalam peradaban sebelumnya.
Ditulis sebagai pengantar dalam Ngopi Sareng Peradaban Bengawan Jipang (4/4/2024)








