Scholar Activist (Skolar Aktivis) merupakan istilah menggambarkan kerja-kerja memicu perubahan sosial-ekologis ke arah positif, melalui intervensi ruang akademik dan non-akademik.
Kuliah Luar Kampus (Kulak) yang sering diberikan Fauzi Rachman, P.hD (Om Oji) kepada kami, memang ditujukan sebagai tempat “kulak” pengetahuan. Sebab, kami benar-benar kulakan (belanja) banyak pengetahuan dari Dosen Psikologi Komunitas, Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran itu.
Kegiatan belajar bersama Om Oji yang digelar melalui bermacam medium itu, sering pula kami istilahkan sebagai Studi Luar Kampus (Suluk). Sebab, kegiatan ini menjadi suluk yang mampu mendekatkan diri kami pada bermacam paradigma ilmu pengetahuan — studi akademisi berbingkai aktivitas kemasyarakatan.
Agenda ini, tentu dalam rangka menyemai para Pandega Berkeadilan dan Pandu Perubahan: generasi yang mandegani dan mengajak masyarakat untuk merawat nilai-nilai luhur ke arah perubahan positif, di tengah dinamika perubahan sosial-ekologis yang kian hari sangat membahayakan.
Takdir manusia sebagai Khalifah fil Ardh (Pandega Bumi), mengemban tugas “kepandegaan” dalam merawat, menjaga, dan mengelola bumi dan seisinya, sebagai bagian dari amanah Sang Pencipta. Dalam kaidah ekosufisme, manusia dituntut memiliki sikap adil dalam mengelola dan menjaga keseimbangan alam.
Pandega Berkeadilan dan Pandu Perubahan, tentu tak bisa muncul begitu saja. Tapi harus dimunculkan melalui ketekunan menggelar giat-giat pembelajaran dan dialektika. Baik dengan cara Kulak Pengetahuan dari para akademisi kampus (Profesor), mupun Panen Pengetahuan dari para praktisi kampung (Empu).
Dalam rangka penyemaian para Pandega Berkeadilan dan Pandu Perubahan itulah, Om Oji sering memberikan ruang studi alternatif pada kami. Beliau mengirimi buku-buku bacaan berkualitas, untuk kemudian kami baca dan pahami. Om Oji tak hanya memberi pemahaman aktivisme di lapangan, tapi juga konsep akademik di ranah teori.
Giat-giat penyemaian para Pandega Berkeadilan menjadi penting, sebagai bagian dari upaya menjaga tradisi belajar sepanjang masa. Sehingga, proses belajar tak berhenti di bangku kuliah formal yang kaku, tapi tetap berlangsung bahkan saat sudah menjadi bagian dari masyarakat itu sendiri. Om Oji mengistilahkan para Pandega Berkeadilan dan Pandega Perubahan ini, dengan istilah Scholar Aktivis.
Skolar Aktivis
Om Oji yang juga pengajar di Kampus Perdikan Jogja itu menyebut, Skolar Aktivis adalah istilah umum yang menggambarkan perubahan pengetahuan, komitmen, perilaku, budaya, hingga kebijakan dan praktek-praktek tata kelola organisasi dan kelembagaan dalam mengatasi krisis sosial ekologis yang sedang berlangsung.

Seorang Skolar Aktivis, menurut Om Oji, harus mampu bekerja dalam situs-situs perundingan, kontestasi, dan perjuangan yang beragam, saling berhubungan satu sama lain, membentuk dan memanfaatkan kesempatan yang terbuka untuk suatu agenda perubahan.
Menurut Om Oji, ruang hidup masyarakat adat dan lokal yang beraneka ragam, mengalami perubahan ke arah negatif sebab dari bekerjanya konsesi-konsesi untuk ektraksi dan eksploitasi sumber daya alam, atau proyek-proyek pembangunan raksasa.
Cukup banyak studi mengenai perubahan posisi, kondisi, dan ruang hidup masyarakat adat dan masyarakat lokal akibat konsesi pertambangan, kehutanan, hingga perkebunan. Sebagai Pandega Berkeadilan, menurut Om Oji, Skolar Aktivis bertugas membantu mengungkap cara kerja kekuasaan, dan menantang ketidakadilan sosial melalui kombinasi kerja-kerja aktivisme.
Om Oji menyebut, ada dua jenis Scholar Aktivis. Yaitu: (1), aktivis gerakan sosial yang terus-menerus memanfaatkan, serta bekerjasama dengan kalangan dunia akademik. Dan (2), akademisi yang mau terlibat dalam ruang non-akademik, bergiat sebagai aktivis dan bekerja sama dengan aktivis lain di ruang gerakan.
Om Oji menyebut, dengan segala keterbatasannya, seorang Scholar Aktivis mampu memahami ragam kolaborasi dan kontradiksi antara cara kerja aktivisme dan akademisi. Selain itu, Scholar Aktivis juga bisa memadukan suara aktivis dan akademis sekaligus, pada saat dan kesempatan tertentu.
Kiprah seorang Skolar Aktivis, menurut Om Oji, senantiasa kontekstual dengan dasar kerja lapang gerakan sosial, dan dengan analisis sosial yang kongkrit dan spesifik. Kompas intelektual, politik, dan moral dari Scholar Aktivis adalah perjuangan keadilan sosial demi dunia lebih adil dan lebih baik hati.
Seorang Skolar Aktivis tak hidup dalam menara gading intelektualitas ruang metoda dan teori. Namun mampu membawa konsep-konsep itu ke aras masyarakat secara langsung. Mereka mampu hidup sebagai bagian dari masyarakat, namun di saat bersamaan, juga mampu mengolah data dan metoda dari ruang pustaka.
Skolar Aktivis senantiasa kontekstual dengan memperhatikan unit analisis yang kongkrit dan spesifik. Analisa sosial berbasis teori-teori kritis dan akademik interdisipliner yang luas, dengan dasar kerja lapang gerakan sosial, yang bercirikan:
1). Komitmen pada perubahan nasib komunitas golongan-golongan
rakyat yang lemah, marjinal dan bahkan tertindas;
2). Analisis sosial, penelitian, pendidikan populer, dan pengorganisasian komunitas, dalam menjalankan kerja-kerja lapangnya;
3). Penggunaan prinsip partisipasi dan representasi dalam mengembangkan kerja-kerja kolaborasi dengan kelompok pro-perubahan dalam organisasi non-pemerintah, akademisi, dan
birokrat, termasuk promosi dan advokasi kebijakan;
4). Artikulasi kritis terhadap berbagai penggunaan kekuasaan, termasuk dalam karya tulis ilmiah dan forum-forum.
Scholar Aktivis, secara umum, merupakan istilah dan status untuk menggambarkan kerja-kerja para Pandega Berkeadilan dan Pandega Perubahan, dalam rangka memicu perubahan sosial- ekologis melalui kerja kolaboratif antara ruang akademik dan ranah non-akademik.
**
Tulisan ini bagian dari sedimentasi pembelajaran dalam program Study Luar Kampus bagi Pandu Perubahan (Suluk Pandan) yang dibina langsung Dosen Psikologi Lingkungan Universitas Padjajaran Bandung, Noer Fauzi Rachman, PhD.








