Menulis, agar mengerti kudu diperoleh dengan ikut dalam kelas, yang dalam terminologi Jawa “Dingajikan”. Sehingga keberadaannya, ada mentor yang memberi alur jelas bagaimana menyukseskannya.
Sekolah Menulis Jurnaba (SMJ) kolaborasi dengan PC PMII Bojonegoro melakukan itu. Yang ketika tulisan ini dipublis, baru dimulai dua kali dan akan istikamah pada kelas-kelas inspiratif menulis berikut-berikutnya.
Ketika kali kedua akan diselenggarakan –Rabu (25/06/25) ada hal unik perihal tempat. Sebagaimana flyer yang dibuat, kelas menulis bertema “Ngaji Jurnalistik” sedianya bertempat di Gedung Graha PMII Bojonegoro.
Ketika sampai di sana, ternyata ada trobel sedikit perihal penerangan yang butuh perbaikan. Hingga akhirnya, kelaspun dipindah di warung Copitalist tepatnya belakang Graha PMII.
Secara fisik, bagi saya, gedung –Graha PMII bagus, hanya saja masih ada PR perlu ada yang merawat. Sebab, bangunan bila tidak diopeni, tentu akan mangkrak. Cepat rusak. Hal itu nyata saya temukan di pintu masuk, kramik yang menempel di pintu pada lepas.
Kala pelatihan beralih di warkop, meja posisi masih tertata untuk privat. Artinya, kalau kita ngopi; ya ada kursi, di tengah-tengah meja, dan kemudian kursi lagi. Sehingga, posisinya saling berhadapan kala nyeruput minuman yang dipesan.

Oleh karena ada kelas menulis, posisi privat tersebut agar lebar disatukan dalam meja panjang. Jadi, kekhasan privatnya ada, hanya saja disatukan dalam forum kelas dengan format penataan meja memanjang.
Lahirkan Calon Penulis
Kelas menulis bertema “Ngaji Jurnalistik: Asyik Menulis Opini” adalah bagian dari ingin melahirkan generasi penulis masa depan. Apalagi, yang ikut dalam kelas tersebut, tidak hanya berasal dari Unugiri. Terdapat pula dari IKIP PGRI Bojonegoro.
Perihal kelas menulis yang diprakarsai oleh Departemen Media and Cyber PC PMII Bojonegoro, secara hakiki ingin membudayakan menulis. Meminjam bahasa Karimi (2018:3) membudayakan menyusun tulisan yang non-tugas.
Siapa saja akan aras-arasen, bila menulis yang bukan karena tugas. Alasannya, buat apa? Itu mungkin pertanyaan sederhana yang sering terlontar dari bibir manis kebanyakan orang.
Banyak yang masih berpaham salah, bila tuntutan menulis itu sekadar jadi siswa atau mahasiswa. Akhirnya setelah lulus, aktivitas tersebut tidak nampak kembali dalam diri dan lingkungan terdekat kita. Itulah yang dimaksud menulis belum membudaya.
Usaha yang dilakukan oleh sahabat PMII dengan membuat kelas menulis bagi saya kaya manfaat, antara lain:
Pertama, menumbuhkan generasi cakap menulis. Perlu disadari, literasi baca yang dimiliki oleh sahabat PMII Bojonegoro perlu diaktualisasikan dalam bentuk pemikiran yang implementatif.
Artinya, ide, gagasan, personal sahabat pergerakan bisa teraktualisasi semua. Coba dinalar sederhana, dalam forum-forum khusus –entah FGD, workshop dan sejenisnya, kehadirannya juga dalam rangka meningkatkan keterampilan berpikir untuk disampaikan secara publik.
Hanya saja, waktu yang terbatas tidak akan mampu untuk bisa menampilkan keseluruhan peserta untuk ngomong perihal idenya. Justru, melalui menulislah, ide siapapan bisa disampaikan dan bisa didengar secara luas.
Kedua, sarana penyamaan hobi. Untuk melahirkan penulis-penulis hebat masa depan, komunitas menulis kudu dibentuk. Karenanya, saya apresiasi bila PC PMII Bojonegoro memprakarsai hal itu, hingga terbentuk wadah kecil tersebut.
Sehingga, kala saya memberikan materi, kelas ini tidak sekadar berhenti level seremonial pelatihan –terlaksana ya sudah. Tetapi, lebih kepada produk nyata. Semisal buku. Dan ending itulah yang saya tandaskan kepada peserta kelas menulis.
Apalagi, portal Jurnaba.co telah memiliki penerbit sendiri bernama “Penerbit Jurnaba”. Tentu, akan sangat bisa mewujudkan kelas itu berwujud buku sebagai produk pelatihan. Semoga hal itu bisa terwujud, untuk membumikan literasi di Bumi Bhinnasrantaloka ini.
*Penulis adalah Dosen Prodi PAI Fakultas Tarbiyah Unugiri.








