Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Suwuk Sunan Kalijaga dan Orong-Orong yang Putus Kepalanya

Branda Lokamaya by Branda Lokamaya
01/04/2023
in JURNAKULTURA
Suwuk Sunan Kalijaga dan Orong-Orong yang Putus Kepalanya

Hewan orong-orong yang kepalanya putus lalu disambungkan kembali dengan tatal kayu jati, adalah satu kisah cukup populer dari Sunan Kalijaga.

Syahdan, saat melakukan pembangunan Masjid Demak, Wali Songo datang tepat waktu, kecuali Sunan Kalijaga. Sehingga, tiang masjid yang berdiri belum lengkap, kurang satu buah.

Karena telat, Sunan Kalijaga kemudian mengumpulkan sisa-sisa potongan kayu (tatal) yang telah dipakai oleh sunan-sunan yang lain untuk melengkapi tiang tersebut.

Saat mengumpulkan potongan-potongan kayu, secara tidak sengaja, Sunan Kalijaga menebas leher seekor hewan orong-orong dengan parang yang beliau gunakan.

Dengan sangat menyesal, Sunan pun meminta maaf pada Allah kemudian menyambung kepala dan badan hewan tersebut dengan serpihan kayu jati.

Hewan orong-orong itu pun hidup kembali. Sampai kini, ada legenda dan kepercayaan: kalau kita melihat atau memisahkan kepala dan tubuh orong-orong, akan keluar serpihan kayu jati dari lehernya.

Di berbagai kalangan, kisah tersebut sangat masyhur diceritakan. Bahkan, ada yang menganggap kisah tentang Sunan Kalijaga yang menyambung kepala seekor orong-orong adalah sebuah pesan filosofis.

Yang disambung Sunan Kalijaga menggunakan tatal kayu jati adalah kepala dan badannya. Maksudnya, ilmu dan kebijaksanaannya. Ilmu dan kebijaksanaan, harus bertaut dalam tubuh.

Sebab kepala tanpa kepekaan hati adalah kesombongan. Sedang hati tanpa kepala (ilmu) tentu kekosongan. Sementara hikmah adalah kepala dan hati yang saling dipertautkan.

Sunan Kalijaga atau Raden Said dikenal sebagai Wali yang seniman sekaligus budayawan. Beliau mendakwahkan Islam menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah.

Tags: Kisah WaliSunan Kalijaga
Previous Post

SKK Migas dan ExxonMobil Indonesia Lakukan Kerjasama Eksplorasi di Area Terbuka Indonesia

Next Post

Pesantren Menak Anggrung, 400 Tahun Berpijar di Bumi Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok
Cecurhatan

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
Alkemis Kebudayaan
JURNAKULTURA

Alkemis Kebudayaan

05/10/2026
Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Kapak Purba Berusia 4.000 Tahun Ditemukan di Bojonegoro

29/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

Camping Ground dan Sarasehan Budaya Ramaikan Festival Lantung

15/10/2026
Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

Kenapa Kita Manut Sama Apa Saja: Dari Jurnal Tier Atas Sampai Jebakan Nalar Impor

15/10/2026
TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

TPS3R Sudu Bojonegoro Matangkan Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan

14/10/2026
Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

Menghayati Siklus Abadi Sungai Bengawan: Kemarau Tak Bisa Cebok, Penghujan Tak Bisa Jongkok

13/10/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: