Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Pesantren Menak Anggrung, 400 Tahun Berpijar di Bumi Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
02/04/2023
in Headline, JURNAKULTURA, Manuskrip
Pesantren Menak Anggrung, 400 Tahun Berpijar di Bumi Bojonegoro

Membaca sisi ilmiah Pesantren Menak Anggrung, lembaga pendidikan islam di Bojonegoro yang berdiri 4 abad silam.

Pesantren Menak Anggrung kerap digambarkan dengan banyaknya rombongan perahu pembawa obor yang memecah keheningan malam, melintasi sungai Padangan-Kasiman. Perahu-perahu yang tampak melintas, tak lain adalah para penuntut ilmu di sebuah pondokan terletak di pinggir sungai.

Para penumpang perahu berpegang obor itulah, rombongan santri yang kelak dikenal Para Pesuluk Cahaya. Sementara tempat mereka belajar, adalah pondokan berada tepat di atas jurang sungai. Kelak, tempat mereka belajar itu dikenal dengan Pesantren Menak Anggrung.

Pesantren Menak Anggrung memang terdengar serupa mitos nan melegenda. Namun sesungguhnya, ada referensi ilmiah menjelaskan keberadaannya sebagai fakta empiris. Bahkan ia disebut sebagai episentrum peradaban islam pasca periode Wali Songo yang pernah ada di Bojonegoro.

Secara ilmiah, Pesantren Menak Anggrung adalah tempat konsolidasi dan pertemuan 3 ulama besar abad 17 (1600 M) yang kelak menurunkan banyak ulama di Tanah Jawa. Ketiganya adalah Syekh Sabil Padangan, Syekh Sambu Lasem, dan Syekh Jabbar Singgahan Tuban.

Manuskrip Padangan, Manuskrip Bungah Gresik, dan Manuskrip Kedungpring Lamongan menjelaskan secara detail hubungan ketiga ulama tersebut (Syekh Sabil Padangan, Syekh Sambu Lasem dan Syekh Jabbar), sebagai satu rumpun keluarga Bani Kesultanan Pajang.

Informasi dari masa silam: Manuskrip Padangan, Naskah Kedungpring Lamongan, dan Naskah Bungah Gresik

Ketiga manuskrip juga menyebut secara jelas, Syekh Sabil Padangan adalah ayah mertua dari Syekh Sambu Lasem dan Syekh Jabbar Singgahan. Tak hanya anak menantu, Syekh Abdul Jabbar Singgahan Tuban juga ponakan dari Syekh Sabil Menak Anggrung Padangan.

Selain sebagai tempat konsolidasi ketiga ulama, Pesantren Menak Anggrung adalah Kawah Candradimuka dan ruang godok para penyebar agama. Ini terbukti dari keberadaan para santri Menak Anggrung yang kelak memegang estafet persebaran islam di periode-periode berikutnya.

Syekh Sabil Menak Anggrung

Syekh Sabil merupakan pendiri Pesantren Menak Anggrung. Cukup banyak sumber dari abad 18 M dan 19 M yang menceritakan figur Syekh Sabil Padangan. Di antaranya Manuskrip Padangan, Naskah Kedungpring Lamongan, Naskah Bungah Gresik, dan Naskah Kedung Pakuncen. Kesemua sumber menyebut Syekh Sabil sebagai putra Kesultanan Pajang.

Dari sejumlah sumber tulis, diketahui Syekh Sabil (w.1665 M) memiliki beberapa nama. Di antaranya Pangeran Kedung Pakuncen, Kiai Pakuncen, Pangeran Hario Timur, Sinare Ing Pekuncen, hingga Pangeran Adiningrat Dandangkesumo.

Bahkan, Syekh Sabil juga dikenal dengan nama Mbah Menak Lelono. Secara harfiah, Menak berarti bangsawan. Lelono berarti pengelana. Syekh Sabil dikenal sebagai bangsawan pengelana. Ini alasan ia dikenal Mbah Menak Lono.

Hanya, nama Syekh Hamid Kuncen dan Pangeran Adiningrat Dandang Kusumo justru muncul belakangan. Dari sumber manuskrip kuno, tak ada yang menyebut dua nama tersebut. Besar kemungkinan, dua nama itu baru muncul pada buku sosialisasi yang ditulis pada abad 20 M.

Nasab Syekh Sabil

Dari sejumlah sumber manuskrip, semua menulis nasab Syekh Sabil bin Abdul Halim (Benawa Tsani). Secara lengkap, Syekh Sabil bin Abdul Halim (Benawa Tsani) bin Abdullah (Benawa Awal) bin Abdurrohman Pajang (Sultan Hadiwijaya) bin Abdul Aziz (Ki Ageng Kebo Kenongo) bin Abdul Fattah (Makurung Andayaningrat) bin Sayyid Ishak (Pangeran Petak) bin Sayyid Muhammad Kebungsuwan (Puyang Bungsu Sutabaris). Sayyid Muhammad Kebungsuwan adalah putra terakhir Sayyid Jamaluddin Akbar.

Sanad Ilmu Syekh Sabil

Selain belajar pada keluarganya di Kesultanan Pajang, terutama sang ayah, Syekh Sabil merupakan santri Ampel Denta. Selain seorang santri, dari jalur neneknya, Syekh Sabil juga masih punya hubungan keluarga dengan Sunan Ampel.

Jamak diketahui Pesantren Ampel Denta merupakan pusat lembaga pendidikan islam pertama di Pulau Jawa. Hanya, era Syekh Sabil nyantri di Ampel Denta, tentu tak bersamaan dengan masa hidup Raden Rahmat (Sunan Ampel).

Sejarah Pesantren Menak Anggrung

Pesantren Menak Anggrung didirikan Syekh Sabil bersama karibnya, Mbah Hasyim. Keberadaan pesantren tersebut bermula dari perjalanan sungai yang ditempuh Syekh Sabil dari Kesultanan Pajang menuju Ampel Denta, di tengah huru-hara yang melanda Kesultanan Pajang pada periode sekitar 990 H (1582 M) hingga 995 H (1587 M).

Sesampainya di sungai Kedung Pakuncen (Kuncen Padangan), perjalanan Syekh Sabil diberhentikan Mbah Hasyim yang bermukim di pinggir sungai. Mbah Hasyim meminta Syekh Sabil untuk menghentikan perjalanan, dan memintanya menyebarkan islam di tempat tersebut.

Dari tempat itulah, Syekh Sabil bersama Mbah Hasyim kemudian mengembangkan tempat itu jadi pondokan santri belajar. Syekh Sabil mengasuh pesantren, dan Mbah Hasyim membantunya sekaligus jadi juru tulis. Sejak saat itu, Mbah Hasyim dikenal dengan nama Katib Hasyim.

Syekh Sabil dan Katib Hasyim menjadikan tempat pinggir bengawan yang semula kecil menjadi lebih luas, disertai musala dan pondokan tempat belajar. Posisi pondok yang tampak magrung-magrung (besar) dari arah sungai, membuat tempat ini dikenal Menak Anggrung — pondoke Mbah Menak sing magrung-magrung.

Pesantren Menak Anggrung aktif pada periode 1600 M. Ini sejurus dengan runtuhnya Kesultanan Pajang (1587 M), dan mulai menetapnya Syekh Sabil di Padangan (c. 1582 M). Pada dekade pertama abad 17 M (1610 M), Pesantren Menak Anggrung memiliki sejumlah santri yang digambarkan hilir-mudik memenuhi sungai Padangan – Kasiman.

Jika dihitung hingga kini, Pesantren Menak Anggrung berusia lebih dari 400 tahun. Meski tak menyisakan bangunan fisik, energinya terus berpijar secara musalsal melalui keberadaan para Santri Menak Anggrung yang melipat berganda dan selalu hidup di tiap era.

Di Padangan, Pesantren Menak Anggrung (1600 M) melanjutkan peradaban islam yang sebelumnya dibangun Syekh Nursalim Tebon (1500 M). Sementara Syekh Nursalim Tebon, juga melanjutkan peradaban yang sebelumnya telah dibuka Sayyid Jamaluddin Akbar di wilayah Tebon Padangan (1340 M).

Ini menjadi bukti empiris bahwa islam mengalami perkembangan pesat di Bojonegoro, jauh sebelum Kerajaan Mataram Islam didirikan. Terlebih, gerak antar peradaban selalu berlanjut musalsal secara faktual dan kontekstual.

Keramat Menak Anggrung

Lokasi Pesantren Menak Anggrung berada di Desa Kuncen sebelah utara. Tepatnya arah timur-laut dari Tugu Pahlawan Kuncen Padangan. Tempat itu, saat ini sudah menjadi aliran sungai. Dan hanya menyisakan reruntuhan pesanggrahan yang ada di tepi sungai.

Peta Belanda tahun 1866 M sempat merekam reruntuhan Pesantren Menak Anggrung yang sudah berupa Pesanggrahan

Sang muasis pesantren (Syekh Sabil dan Katib Hasyim) kelak dikenal dengan sebutan Mbah Menak Anggrung. Makam beliau berdua juga berdampingan. Makam tersebut dikenal dengan makam Keramat Menak Anggrung, Kuncen Padangan.

Makam Menak Anggrung sempat dipindah 3 kali, untuk menghindari longsor bantaran sungai. Tepat pada Jumat Kliwon, 13 Robiul Awal, 1369 H (3 Maret 1950 M), makam kedua ulama tersebut dipindah untuk yang ketiga kalinya. Dalam pemindahan itu, kedua jasad ulama masih utuh.

Keramat Menak Anggrung masih ada hingga saat ini. Masyhur, wilayah di sekitar lokasi pesantren Menak Anggrung yang berada di Kedung Pakuncen (Desa Kuncen bagian utara), tak bisa dihuni aristokrat dan birokrat jahat. Hal ini sudah jadi semacam konsensus para ulama yang ada di Padangan.

Kawasan Menak Anggrung dikenal Tanah Keramat, neraka bagi para birokrat jahat. Selain tak bisa dihuni birokrat jahat, masyhur wilayah tersebut tak bisa digunakan menggelar hiburan. Baik gong-gongan, wayangan, atau apapun yang berhubungan dengan hiburan.

Santri Pesantren Menak Anggrung

Bukti empiris nan sahih terkait keberadaan sebuah pesantren, adalah jejak para santrinya. Pesantren Menak Anggrung memiliki banyak santri yang meninggalkan banyak jejak. Namun, yang tercatat dalam tarikh ada 5 santri.

Di antaranya adalah; Mbah Kamaluddin Oro-oro Bogo, Mbah Abdurrohman Saban, Mbah Mamuddin (Imamuddin), Mbah Jaenuddin (Zaenuddin), dan Mbah Moyumuddin (Muchyidin). 5 santri yang kelak memegang estafet persebaran islam pasca wafatnya Syekh Sabil.

Nama Mbah Abdurrohman Saban sering tertukar dengan Mbah Abdurrohman Klotok. Padahal keduanya beda orang dan beda periodisasi masa hidup. Mbah Abdurrohman Saban santri sekaligus cucu Syekh Sabil. Nama lengkapnya Abdurrohman bin Saban bin Sabil.

Sementara Mbah Abdurrohman Klotok adalah dzuriyah (keturunan) Syekh Sabil yang tak menangi masa hidup Syekh Sabil secara langsung. Nama lengkapnya adalah Abdurrohman bin Syahiddin bin Syyidi bin Khatib bin Abdul Jabbar (menantu Syekh Sabil).

Para santri Menak Anggrung itulah, para pemegang estafet dan energi gerak dakwah Syekh Sabil Menak Anggrung. Sepasca Syekh Sabil Menak Anggrung wafat pada 1650 M, muncul peradaban Pesantren Klotok yang berkibar pada abad 19 (periode 1800 M).

Tags: Makin Tahu IndonesiaMakintahuindonesiaPeradaban PadanganPesantren Menak Anggrung
Previous Post

Suwuk Sunan Kalijaga dan Orong-Orong yang Putus Kepalanya

Next Post

4 tempat Golek Wengi yang Asyik di Kota Bojonegoro

BERITA MENARIK LAINNYA

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan
Cecurhatan

Pager Negoro: Padangan dalam Jejak Perjuangan Mancanegara Wetan

18/05/2026
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman
JURNAKULTURA

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

08/04/2026
Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

Sang Pengasuh dalam Bayang-Bayang Sejarah: Kisah Sarinah dan Jejaknya dalam Hidup Soekarno

31/05/2026
Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

Jejak Intelijen Indonesia dan Tokoh di Baliknya

29/05/2026
Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

Sebuah Saung di Pinggir Sawah Seleksi Tanaman, Klaten. Sore Hari

28/05/2026
Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

Aku dan Mimpiku yang Belum Selesai

27/05/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: