Memilih di Antara Pil Pahit: Demokrasi, Tawa, dan Kandang Bernama Pilihan
Kita merasa sedang melawan kekuasaan, padahal sedang merawatnya. Kita bangga jadi warga kritis. Namun lupa, siapa yang merancang panggung kritik ...
Kita merasa sedang melawan kekuasaan, padahal sedang merawatnya. Kita bangga jadi warga kritis. Namun lupa, siapa yang merancang panggung kritik ...
Jika suatu hari kekuasaan terasa terlalu nikmat, barangkali itu pertanda bahaya: bukan karena mereka terlalu kuat. Tapi karena kita terlalu ...
Lapar, pada akhirnya, adalah bahasa. Ia berbicara tentang siapa yang kita salahkan, siapa yang kita lindungi, dan sistem seperti apa ...
Perubahan sosial, pada akhirnya, selalu bersifat kolektif. Ia menolak pahlawan tunggal dan merayakan kerja bersama—langkah kecil yang diulang, tangan yang ...
Selama kita masih merasa bersih di tengah sungai yang kotor, demokrasi tak lebih dari busa: tampak banyak, mengilap sesaat, lalu ...
Jika desa kehilangan nafas, negara akan kehilangan akarnya. Dan pohon tanpa akar, betapapun tinggi gedungnya, akan roboh oleh angin sejarah ...
Kelak, ketika tahun-tahun bergeser dan nama-nama memudar, semoga ada yang mengingat kita bukan karena kemenangan, melainkan karena keberpihakan. Bukan karena ...
Ada sesuatu yang bergeser pada Natal kali ini. Ia tidak lagi berdiri tegak dengan dada dibusungkan cahaya, melainkan menunduk pelan, ...
Desa hari ini sedang diuji: apakah ia tetap menjadi ruang hidup yang merdeka, atau sekadar ladang basah bagi predator berseragam ...
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi setebal buku telepon. Aset terbaik kita adalah keberanian mengambil risiko dan ...