Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Menyongsong 2026: Republik Kenangan

Toto Rahardjo by Toto Rahardjo
02/01/2026
in Cecurhatan
Menyongsong 2026: Republik Kenangan

Republik Kenangan

Kelak, ketika tahun-tahun bergeser dan nama-nama memudar, semoga ada yang mengingat kita bukan karena kemenangan, melainkan karena keberpihakan. Bukan karena kita paling lantang, melainkan karena kita tak pergi saat yang lain membutuhkan.

Tahun 2026 datang tanpa gegap gempita. Ia melangkah seperti seseorang yang tak ingin mengganggu—diam, nyaris sopan—di tengah dunia yang sudah terlalu bising oleh slogan, target, dan angka-angka pertumbuhan. Kita mengucapkan “selamat menyongsong” seolah waktu adalah tamu kehormatan, padahal kitalah yang sesungguhnya sedang diadili olehnya.

Pada akhirnya, hidup manusia memang tidak ditutup oleh nama, gelar, atau daftar pencapaian yang rapi dalam curriculum vitae. Semua itu rapuh, mudah dipindahkan, bahkan bisa dipalsukan. Yang lebih keras kepala justru kenangan: ia menolak pensiun, menolak dihapus.

Ia berdiam di ingatan orang lain—kadang sebagai doa, kadang sebagai luka. Waktu boleh mengikis bangunan, tetapi kenangan punya cara sendiri untuk bertahan, bersembunyi dalam cerita yang diulang pelan-pelan, dalam sikap yang ditiru tanpa sadar, atau dalam rasa ganjil yang muncul tiba-tiba saat sebuah nama melintas di kepala.

Kenangan jarang lahir dari peristiwa monumental yang difoto dan diarsipkan negara. Ia lebih sering muncul dari hal-hal kecil yang tak tercatat: cara seseorang mendengar tanpa memotong, keberanian menemani di saat kalah, atau kejujuran yang disampaikan meski tak menguntungkan. Orang bisa lupa apa yang kita ucapkan di podium, tetapi mereka ingat bagaimana rasanya diperlakukan—apakah sebagai manusia, atau sekadar angka. Di situlah kenangan menjadi pengalaman batin, bukan sejarah resmi.

Di titik ini, kemanusiaan diuji. Dalam masyarakat yang gemar mengukur segalanya—suara mayoritas, elektabilitas, laba—kita sering lupa bahwa keadilan tidak selalu berbentuk kebijakan besar. Ia hidup dalam gestur kecil yang konsisten: tidak merendahkan yang lemah, tidak menghalalkan cara demi kekuasaan, tidak membungkam perbedaan atas nama stabilitas. Demokrasi, bila ia masih punya makna, seharusnya bekerja di wilayah ini: memastikan setiap orang diingat sebagai subjek, bukan residu.

Menyadari bahwa kita kelak hanya menjadi kenangan memberi hidup ukuran yang lain. Ia memaksa kita bertanya: kenangan seperti apa yang sedang kita tinggalkan? Apakah kita akan diingat sebagai mereka yang ikut berteriak, atau yang memilih mendengar? Sebagai penguasa keadaan, atau saksi yang setia pada kebenaran? Di tengah ketidakadilan yang kerap dinormalisasi, ingatan menjadi medan perlawanan paling sunyi—dan paling tahan lama.

Maka menyongsong 2026 bukan sekadar soal harapan ekonomi atau peta politik. Ia tentang etika kehadiran. Tentang bagaimana kita hadir bagi sesama ketika hukum terasa jauh, ketika demokrasi disederhanakan menjadi prosedur, ketika kemanusiaan diperas menjadi komoditas. Yang tertinggal kelak bukan seberapa sibuk kita hidup, melainkan bagaimana kita pernah hadir. Dan mungkin, di ruang sunyi itulah makna hidup menemukan rumahnya: pada kenangan yang adil, pada ingatan yang memanusiakan, pada jejak kecil yang menolak dilenyapkan oleh lupa.

Tahun baru itu seperti halaman kosong yang sengaja dibiarkan putih.
Negara, institusi, dan para pemilik mikrofon akan segera menulisinya dengan janji—tentang stabilitas, pertumbuhan, dan masa depan yang katanya inklusif. Tetapi di sudut-sudut yang tak terjamah pidato resmi, manusia menuliskan tahun dengan cara lain: dengan bertahan hidup, dengan menahan marah, dengan belajar kembali mempercayai satu sama lain. Di sanalah 2026 mulai bekerja—bukan sebagai angka, melainkan sebagai ujian nurani.

Kita hidup di masa ketika ketidakadilan sering tampil rapi, berpakaian prosedur dan legalitas. Ia tak selalu berteriak; ia duduk tenang di balik meja rapat, menandatangani berkas, lalu pulang tanpa rasa bersalah. Korban-korbannya belajar menjadi statistik, sementara pelakunya menuntut dilupakan. Namun ingatan—sekali lagi—menolak tunduk. Ia menyelinap lewat bisik para ibu, lewat arsip kecil yang disimpan jurnalis, lewat keberanian warga yang bersikeras menyebut nama-nama. Demokrasi, jika masih bernapas, hidup di ruang-ruang sempit ini.

Ada kalanya kita lelah berharap. Kata “reformasi” terdengar usang, “keadilan” terdengar abstrak. Tetapi justru di saat bahasa resmi kehilangan daya, bahasa manusia menemukan kekuatannya.
Kita mengingat karena kita peduli; kita bercerita karena kita menolak normalisasi luka. Imajinasi menjadi sekutu fakta—bukan untuk mengaburkan kebenaran, melainkan untuk membuatnya dapat dirasakan. Sebab yang paling berbahaya dari ketidakadilan bukan hanya dampaknya, melainkan kebiasaan kita untuk menerimanya sebagai takdir.

Maka, menyongsong 2026 adalah latihan kesetiaan: setia pada nilai yang tak populer, setia pada yang tak bersuara, setia pada ingatan yang tak memberi keuntungan. Kita mungkin tak mengubah dunia sekaligus, tetapi kita bisa mengubah cara kita hadir di dalamnya—lebih jujur, lebih adil, lebih manusiawi. Di republik kenangan ini, setiap pilihan kecil adalah referendum sunyi.

Dan kelak, ketika tahun-tahun bergeser dan nama-nama memudar, semoga ada yang mengingat kita bukan karena kemenangan, melainkan karena keberpihakan. Bukan karena kita paling lantang, melainkan karena kita tak pergi saat yang lain membutuhkan. Jika itu yang tersisa, barangkali 2026 telah memberi kita hadiah paling sederhana—dan paling radikal: kesempatan untuk menjadi manusia.

Selamat menyongsong 2026—semoga kita layak dikenang.

Tags: Catatan Toto RahardjoMakin Tahu Indonesia
Previous Post

Tirto Adhie Soerjo dan Makna Penamaan Jalan di Kota Blora

Next Post

Mengapa Hari Natal di Mesir pada 7 Januari?

BERITA MENARIK LAINNYA

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur
Cecurhatan

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas
Cecurhatan

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya
Cecurhatan

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026

Anyar Nabs

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

Mekanisme Kekerasan Sistematis dalam Tragedi 1965 Jawa Timur

12/01/2026
Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

Asem Jawi Pangimbang Jati, Kredo Ekologi dari Bojonegoro

11/01/2026
Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

Sang Penjaga Gawang antara Api Tradisi dan Modernitas

11/01/2026
Masa Depan yang Sesungguhnya

Masa Depan yang Sesungguhnya

10/01/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: