Di dunia yang bergerak begitu cepat, sering kita merasa hanya menjadi penumpang yang terlambat menaiki armada. Setiap sekon ada kabar baru, tren baru hingga kebahagiaan baru yang di tampilkan oleh orang lain.
Layar gawai menjelma jendela kecil yang menayangkan pagelaran kehidupan orang-orang, seolah-olah dunia tak pernah berhenti berpesta. Dalam perasaan aneh yang sulit dijelaskan itu; rasa takut tertinggal, takut tidak termasuk sampai takut tidak ikut serta, perasaan ini sering disebut FOMO; fear of missing out.
Baca Juga: FOMO dan Alasan Kenapa Kita Tak Bisa Jauh dari Gadget?
FOMO muncul dari kegelisahan modern, sebuah bayangan yang muncul membuntuti setiap langkah kita di era yang serba terhubung. Ia membisikkan “kamu harus ikut, kalau tidak kamu akan jauh”, seperti sebuah tuntutan untuk hadir pada ruang yang sebenarnya bukan menjadi ruang yang benar-benar kita pijak, merasa mengetahui segala hal agar tak tersisih dari yang lain. Sehingga memunculkan sebuah paradoks yang menyakitkan: semakin sibuk kita takut tertinggal, semakin jauh kita meninggalkan hati kita sendiri. Sungguh dunia modern tak memberi ruang bahkan sudut nyaman yang benar-benar kita inginkan.
Seberapa sering kita memaksa tersenyum dalam sebuah pengambilan foto, mengikuti segala percakapan yang tidak kita pahami, bahkan sampai menyapa dunia dengan topeng agar kita selalu terlihat in touch. Kita hanya takut dianggap orang lain asing, padahal kita malah asing dengan hati kita sendiri.
Dalam keheningan yang kita coba hindari, muncul suara kecil yang sesungguhnya ingin kita dengar; suara jiwa yang lelah dan rindu untuk pulang. Pulang bukan berarti ke rumah secara fisik, melainkan kembali pada batin yang damai, titik di mana kita tak perlu membuktikan apa pun ke orang lain.
Dunia modern tak memberi ruang dan waktu kita untuk mencari jeda. Kita di paksa percaya bahwa berhenti merupakan sebuah kegagalan, absen adalah tanda kekalahan. Padahal mungkin justru dalam keheningan dan keterlambatan itu kita dapat menemukan makna. Hidup bukan hanya tentang hadir dalam setiap riuh, hidup juga tentang berani memilih mana yang layak untuk diikuti. Takut tak ikut adalah kewajaran bagi manusia. Tetapi berani pulang untuk kehendak hati dan batin diri sendiri adalah jalan menuju kebebasan.
Tetapi mengakui itu tidak mudah. Dunia modern telah menjadikan keterhubungan itu sebagai harga diri. Siapa yang tak terlihat, maka dianggap tidak ada. Siapa yang tak hadir, dianggap ketinggalan zaman. Dalam tekanan seperti ini, kita dilatih untuk terus memaksakan diri, menjejalkan tubuh dan pikiran ke dalam ruang-ruang yang tak selalu kita inginkan. Kita menukarkan keheningan dengan kebisingan, menukar keaslian dengan pencitraan, menukar kedamaian dengan kegelisahan hanya agar kita selalu di sebut ada.
FOMO pada akhirnya menyamar sebagai rasa takut yang menjadi kebutuhan. Kita merasa butuh ikut, padahal sebenarnya kita hanya takut untuk di tinggal dan di abaikan. Kita merasa butuh tampil, padahal jiwa hanya ingin pulang. Rasa takut ini seperti bayangan yang selalu mengejar yang tak pernah berhenti mengingatkan bahwa ada sesuatu yang sudah kita lewatkan. Kita tidak sadar bahwa hidup ini selalu penuh dengan kehilangan.
Kita tidak akan bisa menggenggam semuanya dengan telapak mungil yang kita miliki, dan kita tak bisa hadir pana semua ruangan dengan langkah kaki kita yang terbatas, tidak bisa memiliki semua cerita, dan itu semua tidak apa-apa.
Barangkali dari sanalah kebijaksanaan tumbuh, menerima bahwa kita tidak harus berada di mana-mana, ada ruang-ruang yang memang bukan untuk kita, pesta-pesta yang harus kita lewati, sampai beberapa cerita yang tidak harus kita ikuti. Sebab hidup yang benar-benar utuh tidak menghitung seberapa banyak kita hadir, melainkan seberapa dalam kita benar-benar menikmati hidup.
Yang sebenarnya kita khawatirkan bukanlah kehilangan momentum, melainkan ketinggalan diri kita sendiri. Kita takut terlambat mengenal diri kita sendiri yang menyebabkan takut terlambat pulang (karena belum mengenal diri sendiri).
Solusi selanjutnya adalah menata ulang makna kehadiran, kehadiran tidak selalu di tandai dengan “ikut”, bisa juga dengan “terhubung”. Kita mungkin tidak hadir pada sebuah pesta, tapi kita bisa hadir dengan sepenuh hati ketika sahabat bercerita.
Kita mungkin tak mengunggah ribuan foto, tetapi kita bisa hadir utuh di meja makan bersama keluarga. Kehadiran tidak dinilai dari berapa like yang di dapatkan di platform media sosial, namun kehadiran yang bernilai adalah kehadiran yang benar-benar dapat di rasakan. Dengan cara ini, kita belajar memberi prioritas yang memberi arti, bukan sekedar menambah daftar.
Dan yang paling penting solusi dari FOMO adalah merawat rumah dalam diri. Kita bisa pulang kapan saja ke ruang batin tempat kita merasa nyaman dan cukup. Entah lewat doa, perenungan, menulis, atau berbincang dengan orang terdekat, semua itu merupakan pintu menuju rumah.
Sebab saat jiwa telah menemukan rumahnya, ia tak lagi resah dengan undangan dunia. Meski tak selalu ikut, namun tetap penuh. Meski tak selalu hadir, namun selalu ada. Belajar melepaskan dan mencari jati diri merupakan seni mendewasakan jiwa.
Kita berlari, mencoba mengejar cahaya
Padahal hati hanya ingin beristirahat saja
Takut tak ikut, takut tak terlihat
Padahal jiwa hanya ingin tenang, ingin hangat.
Apa makna hadir di setiap pesta
Jika diri sendiri justru tiada?
Tak harus ada dimana-mana
Cukup ada di suatu ruang yang penuh makna
Sebab pulang bukan sekedar kembali
Pulang adalah berani jujur
Tak ikut meski tertinggal
Jiwa tetap penuh, jiwa tetap pulang.
Sehat-sehat generasiku.








