Telah kita lewati tanggal 10 Oktober yang setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia, sejak tahun 1992 gerakan Kesehatan mental di inisiasi oleh Federasi Dunia World Federation of Mental Healt (WFMH).
Peringatan ini bertujuan untuk dapat menjembatani jurang pemisah antara stigma dan kenyataan, menunjukkan pentingnya sebuah kesadaran bahwa Kesehatan mental sama pentingnya dengan Kesehatan fisik.
Sehingga penting di ingat oleh masyarakat terlebih aktivis tulen bahwa Kesehatan fisik yang senantiasa kita ucapkan dalam doa khusyuk maupun untuk sekadar basa basi itu perlu kita imbangi dengan cara mengucapkan juga dalam doa khusyuk maupun abal-abal kita untuk Kesehatan mental kita sebagaimana Kesehatan fisik yang kita idam-idam kan tersebut.
Maka mohon izin saya seorang yang bukan siapa-siapa ini berbagi surat cinta kepada anda semua sebagai bentuk Kesehatan mental saya, kamu dan kita semua:
Wahai cendekiawan dan cendekiawati. Tak ada hari tanpa kesibukan, tak ada waktu untuk diri sendiri. Masa bodo dengan diri sendiri, serasa lebih nikmat memikirkan kemaslahatan orang lain.
Makan tak sempat, tidur tak tepat, jadwal yang tersusun pun sering kali terlambat. Ya, semua itu adalah sebuah kebajikan yang biasa kita sebut sebagai cara berfikir yang visioner. Sikap altruistik yang biasa kita jalani, seberapa lamakah kita bisa menahan diri?
Wahai cendekiawan/cendekiawati!
Sejalan dengan kesibukan ini, mari kita saling jaga mental kewarasan bersama-sama. Tidak harus kita meninggalkan kegiatan itu semua, namun yang perlu kita jaga adalah kewarasan kita
Membentuk lingkungan yang tidak toxic, tidak saling merendahkan, mengapresiasi usaha kecil hingga besar dan saling terbuka. Tanpa sadar kita menuntut kawan-kawan di lingkungan kita supaya lebih elit karena membandingkan orang lain yang telah mencapai tingkat yang lebih tinggi, lebih ironis lagi bila kita memaksa orang lain sama dengan segala hal yang kita idealkan.
Mari kita lebih menghormati pendapat orang lain, menerima segala hal yang diluar kontrol kita dan meletakkan empati terhadap usaha orang di sekitar kita, juga tak lupa selalu introspeksi diri dalam rangka perbaikan di waktu yang akan datang.
“Salam Waras” saya ucapkan kepada kawan-kawan pembaca, dalam rangka menjaga kewarasan kita untuk mental yang sehat wal ‘afiat. Terimakasih








