Jika untuk sampai kita harus menginjak kepala sesama, mungkin yang sebenarnya jatuh bukan mereka, melainkan kemanusiaan kita.
Aku teringat catatan harian Soe Hok Gie yang ditulis dengan tinta kemarahan yang dingin, bukan meledak, tapi mengendap. “Saya jijik melihat orang-orang ambisius yang rela menginjak kepala temannya untuk mencapai kedudukan yang lebih tinggi.” Kalimat itu berdiri seperti batu nisan kecil di tengah sejarah: sunyi, tegas, dan menolak dilupakan. Ia bukan sekadar luapan emosi seorang mahasiswa idealis, melainkan putusan moral—bahwa ada garis yang tak boleh dilangkahi manusia, betapapun menggiurkannya tangga kekuasaan.
Dalam kehidupan sehari-hari, kita menyaksikan bagaimana ambisi sering menyamar sebagai profesionalisme. Ia memakai jas rapi, berbicara dengan bahasa pencapaian, KPI, dan target. Di baliknya, perlahan-lahan empati disisihkan, solidaritas dilipat rapi lalu disimpan di laci paling bawah. Kawan seperjalanan berubah menjadi kompetitor, lalu menjadi batu pijakan. Kita diajari untuk naik, bukan untuk bertanya siapa yang tertinggal di bawah.
Gie seperti ingin berbisik: kemenangan semacam itu rapuh. Ia dibangun dari puing-puing kepercayaan, dari persahabatan yang dipotong diam-diam, dari kompromi kecil yang berulang hingga membentuk watak. Di titik inilah ambisi kehilangan kemurniannya. Ia tak lagi menjadi daya dorong untuk bertumbuh, melainkan alat untuk menjustifikasi segala cara. Ketika kepala orang lain diinjak, yang hancur bukan hanya relasi, tapi juga cermin tempat kita seharusnya melihat diri sendiri.
Dalam politik, organisasi, bahkan ruang-ruang aktivisme yang mengaku paling bersih, kita kerap menemukan paradoks yang menyakitkan: orang-orang yang berbicara lantang tentang perubahan justru paling lihai merawat hierarki. Idealisme dijadikan jargon, sementara praktiknya meniru pola lama—menyingkirkan yang lemah, menyingkat jalur, menghalalkan intrik. Seolah sejarah tak pernah memberi pelajaran, atau kita memilih lupa karena lupa itu menguntungkan.
Gie menolak lupa. Ia memilih berdiri di tepi, memelihara kejernihan meski tahu harga yang harus dibayar adalah kesepian. Dari sana, ia mengingatkan kita bahwa ada hal yang lebih berharga daripada jabatan: kemanusiaan dan integritas. Bahwa keberhasilan yang sejati bukan diukur dari seberapa tinggi kita berdiri, melainkan dari seberapa utuh kita tetap menjadi manusia.
Pada akhirnya, ambisi memang tak perlu dimatikan. Ia bisa menjadi api yang menghangatkan, bukan membakar. Tapi ia harus diawasi—oleh nurani, oleh ingatan akan kawan, oleh kesadaran bahwa hidup bukan sekadar lomba mendahului. Jika tidak, seperti yang diam-diam dituliskan Gie, kita mungkin sampai di puncak, tapi kehilangan alasan untuk bangga telah sampai.
Maka barangkali pertanyaan yang paling jujur bukanlah sejauh apa aku sudah melangkah, melainkan siapa saja yang telah kutinggalkan di belakang. Sebab di ujung ambisi, selalu ada cermin yang tak bisa diajak berbohong. Di sana, jabatan tak lagi berbicara, tepuk tangan menguap, dan yang tersisa hanyalah wajah kita sendiri—utuh atau retak. Jika untuk sampai kita harus menginjak kepala sesama, mungkin yang sebenarnya jatuh bukan mereka, melainkan kemanusiaan kita.








