Acara upgrading kader yang dirangkai dengan bedah buku diselenggarakan oleh PAC IPNU–IPPNU Dander, Bojonegoro, pada 31 Februari 2026 sebagai refleksi momentum satu abad Nahdlatul Ulama. Kegiatan ini menjadi forum literasi yang tidak biasa karena mengangkat buku Majalah Kuburan Terapung: Pembunuhan Massal PKI 1965 di Bojonegoro karya Perpustakaan Jenggala. Sebanyak 42 peserta yang terdiri dari pelajar SMP, SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum mengikuti kegiatan ini dengan antusias.
Diskusi dipandu oleh Niella dari PAC Dander, dengan dua pemateri utama, Rudi dan Adam. Ketua IPNU PAC Dander, KHafit, menyebut kegiatan ini sebagai langkah penting dalam membangun kader yang aktif, kritis, dan memiliki perspektif luas terhadap sejarah.
Adam sebagai pemateri pertama menjelaskan bahwa buku tersebut menghimpun kesaksian dan rekonstruksi peristiwa genosida 1965 di wilayah Bengawan Bojonegoro. Ia menekankan pentingnya membaca sejarah dari berbagai sudut pandang agar generasi muda tidak hanya menerima narasi tunggal.
Sementara itu, Rudi menegaskan bahwa buku ini bukan pembelaan terhadap ideologi tertentu, melainkan keberpihakan pada korban genosida 1965 di Bojonegoro maupun Indonesia secara umum. Baginya, diskusi semacam ini adalah ruang empati sekaligus refleksi agar tragedi kemanusiaan tidak terulang.
Respons peserta menunjukkan forum ini membuka dialog yang hidup. Vina, anggota IPPNU, mengaku sebelumnya belum pernah menemukan pembahasan dengan tema serupa. Ia menilai diskusi ini bisa menjadi sumber pembelajaran baru, tergantung bagaimana individu mengambil sudut pandang secara bijak.
Della, anggota IPPNU lainnya, melihat kegiatan ini sebagai strategi literasi yang relevan bagi generasi muda. Ia menilai kader IPPNU perlu terbiasa menghadapi wacana beragam sebagai bagian dari pendewasaan organisasi.
Dewi, siswi SMK Dander sekaligus anggota IPPNU, mengatakan acara ini terasa sangat berkesan karena ia belum pernah mempelajari sejarah langsung dari cerita warga. Ia teringat kisah yang pernah disampaikan kakeknya yang dulu ikut menjaga situasi desa saat konflik 1965. Menurut cerita keluarganya di Desa Karangsono, saat itu masyarakat hidup dalam ketegangan karena isu PKI membuat orang mudah saling curiga. Dewi menuturkan bahwa kakeknya bercerita seseorang bisa dicap terkait PKI hanya dari kebiasaan tertentu, termasuk soal praktik ibadah. Karena itu banyak warga berusaha menunjukkan identitas keagamaannya agar tidak disalahpahami. Baginya, cerita keluarga tersebut membuat diskusi terasa lebih nyata karena menggambarkan bagaimana tekanan sosial benar-benar dirasakan masyarakat waktu itu.
Sementara itu, Dikta, ketua panitia yang juga pelajar SMK dan kader IPNU–IPPNU Dander, menilai diskusi ini penting untuk membuka cakrawala berpikir kader. Menurutnya, latar belakang organisasi yang dekat dengan tradisi NU tidak menutup kemungkinan untuk mempelajari perspektif lain, termasuk perspektif korban.
Peserta termuda, Mila yang masih duduk di bangku SMP, mengakui bahasa dalam diskusi cukup menantang baginya. Namun ia melihatnya sebagai motivasi untuk meningkatkan kemampuan diri. Ia merasa senang dapat menyaksikan langsung perdebatan argumentatif yang memperkaya wawasan.
Kegiatan ini disebut sebagai salah satu forum pertama di lingkungan IPNU–IPPNU Bojonegoro yang secara terbuka membahas genosida 1965. Keberanian mengangkat isu sensitif tersebut dipandang sebagai langkah progresif dalam membangun budaya literasi kritis di kalangan pelajar. Upgrading ini tidak hanya menjadi agenda organisasi, tetapi juga penanda bahwa generasi muda mulai mengambil peran aktif dalam membaca ulang sejarah secara reflektif dan bertanggung jawab.








