Lirboyo. Masihkah tebu-tebu berderet manis melambai di sepanjang jalan menyambut langkah gamang santri anyar menuju gerbangmu? Ataukah seperti di mana-mana pabrik-pabrik dan bangunan bangunan bergaya spanyolan yang angkuh dan genit menggantikannya? (Gus Mus, Puisi Lirboyo Kaifa Halk?)
Kediri, 1957, menjelang waktu Dhuhur. Sang Bagaskara tengah menunjukkan keperkasaannya. Sinarnya jatuh mengenai seluruh permukaan bumi tanpa terkecuali. Daya panasnya terserap hingga ke ubun-ubun—membuat kepala serasa mendidih. Hari itu, Kota Kediri, berada di puncak musim kemarau.
Suhu udara siang hari rata-rata 31-33°C. Itulah saatnya musim panen tebu—yang acapkali terjadi pada bulan Mei sampai menjelang akhir Oktober. Tanaman dengan nama latin Saccharum officinarum Linn tersebut, merupakan komoditas utama pada masa Kolonial Belanda. Bahan utama pembuatan gula. Di Kediri, telah berdiri beberapa pabrik gula (PG) yang masih beroperasi hingga sekarang, seperti; PG Meritjan, Kras, Pesantren Baru, Ngadiluwih dan Sumberejo.
Kisah ini dimulai dengan seorang remaja bernama Ahmad Musthofa—salah satu santri Lirboyo. Sosok yang dikemudian hari dikenal dengan nama Gus Mus (KH. A. Musthofa Bisri). Siang itu, ia lewat didepan ndalem (rumah) sederhana KH. Marzuki Dahlan (1906-1975), pengasuh Pesantren Lirboyo, Kediri. Kiai dengan wajah teduh nan lugu tersebut tengah duduk di depan rumahnya. Ia tak memakai baju—hanya mengenakan sarung motif kotak-kotak. Kiai Marzuki tengah mencari angin di teras rumah saat gerahnya musim kemarau sembari mengamati kondisi di sekeliling pesantren.
“Gus, gus, mriki Gus,” (gus, gus, kesini gus) ucap Kiai Marzuki demi melihat Musthofa yang kebetulan lewat, sembari melambaikan tangan kanannya.
“Mriki Gus!”
“Inggih kiai,” (iya kiai) jawab Musthofa singkat. Ia tampak gemetaran.
“Njenengan dhoyan tebu?” (anda mau tebu)
Musthofa terdiam—dunia serasa terbalik. Lidahnya kaku—hanya menganggukkan kepala. Dalam hatinya berkata; Bagaimana mungkin Kiai Marzuki bisa tahu? siapa yang berkhianat diantara teman-temannya? Sejurus kemudian Kiai Marzuki masuk ke dalam rumah. Selang satu menit kemudian, ia kembali lagi sembari menenteng beberapa batang tebu.
“Niki kulo pilihaken sing sae-sae, sakderenge di tebang,” (ini saya pilihkan tebu yang terbaik, sebelum ditebang) ujar Kiai Marzuki sambil menyerahkan batang tebu kepada Musthofa.
“Mangke dibagi kaliyan rencang-rencang lintune njih…,” (Nanti dibagi dengan teman-teman yang lain ya…)
Ketika menerima tebu, tubuh Musthofa terasa membeku. Batang-batang tebu itu seperti memeluk rahasia memalukan, sekaligus yang paling indah.
Taman-teman Musthofa yang menunggu belakang merasa heran. Bagaimana mungkin Musthofa keluar dari rumah Kiai sembari membawa barang yang hendak mereka inginkan. Namun yang pasti, hari itu mereka bersama-sama menikmati tebu pemberian Kiai Marzuki. Rasa manis tebu itu akan selalu mengingatkan pada sebuah keajaiban kecil—tentang seorang guru yang bijak, guru yang lebih dahulu memberi sebelum muridnya sempat mencuri.
Sedikit flashback kebelakang, 1 jam sebelumnya—Musthofa terlibat percakapan dengan teman-temannya.
“Jika tidak nanti sore, mungkin besok, tebu-tebu Kiai akan di tebang,” ujar salah seorang santri.
“Kalau begitu, siang ini kita tebang saja!” usul Musthofa berapi-api.
“Ayo”
Teman-temannya mengangguk semua. Alhasil mereka berniat melaksanakan aksi: Mencuri tebu Kiai Marzuki. Musthofa ditunjuk sebagai yang terdepan, seolah komandan regu. Memang, kamarnya berada dekat dengan ndalem Kiai. Ini bisa jadi resiko, atau keuntungan sekaligus. Jalan menuju kebun tebu harus melewati rumah Kiai. Dan, rencana yang sebelumnya tersusun rapi, hilang dalam keindahan kasih yang datang secara tiba-tiba. Kandas—tergantikan rencanaNya yang lebih baik.
—0—
Pengalaman Gus Mus dengan Kiai Marzuki Dahlan ini, bagi sebagian orang, mungkin sekadar humor santri atau cerita-cerita pesantren—namun didalamnya terdapat pelajaran etis yang dalam. Tentang kearifan, Kebijaksanaan, dan Pendidikan.
Bagaimana dalam sosok Kiai Marzuki Dahlan tergambar sketsa guru yang mempunyai kepekaan terhadap intangibles—nilai tak tertulis, seperti otoritas moral, kepercayaan, teladan, dan komunikasi yang efektif. Guru yang mengalahkan muridnya tanpa amarah, hukuman, atau pukulan. Namun dengan pemberian dan kasih sayang. Guru yang tidak segan-segan menggunakan bahasa kromo inggil terhadap muridnya. Meski secara usia lebih tua, lebih berilmu, atau lebih banyak pengalaman. Dus, Kiai Marzuki Dahlan telah berani menanggalkan seluruh identitas yang melekat dirinya.
‘Mungkin’ dalam pandangan Kiai Marzuki, hukuman tidak melulu soal pukulan, cambukan dan sejenisnya. Tidak. Kadang, hadiah bisa lebih keras dari sekadar pukulan. Kasih sayang bisa meruntuhkan kotornya niat. Dengan ungkapan sederhana: “Njenengan doyan tebu?” dan “Niki kulo pilihaken sing sae-sae” Kiai Marzuki berhasil melunakkan rasa takut menjadi kagum dan hormat—dan pada gilirannya menumbuhkan rasa malu untuk melanggar norma. Disinilah fungsi dan peran adab dalam konteks pesantren: bukan doktrin yang dihafal, melainkan tumbuh di dalam suasana yang menghidupkan empati, rasa malu, dan kesadaran.
Coba bayangkan, andai Kiai Marzuki memergoki—lalu memberi hukuman. Mungkin, Gus Mus dan kawan-kawannya hanya takut satu atau dua hari. Tapi dengan kebijaksanaan, nilai-nilai moral untuk tidak mencuri tertanam kuat ke dalam diri Gus Mus berikut kawan-kawannya. Mereka berubah bukan karena tekanan, tetapi internalisasi nilai. Dalam konteks pendidikan (terutama formal), kita akan bertanya: apakah pendidikan hari ini masih menghargai adab sebagai sesuatu yang relevan, tidak usang, sebagai instrumen pembentukan karakter yang melampau nilai-nilai akademik? Ataukah justru mencampakkannya? Saya yakin, anda tahu jawabannya.
Dus, kisah ini juga mengingatkan kita terhadap puisi Kahlil Gibran—On Children—dalam The Propet :
Your children are not your children
They are the sons and daughters of Life’s longing for it self.
They come through you but not from you,
And though they are with you yet they belong not to you.
……………………………………………..
Anakmu bukanlah anakmu
Mereka adalah putra putri kehidupan terhadap dirinya sendiri
Mereka terlahir lewat dirimu namun tidak berasal dari dirimu
Dan meskipun mereka bersamamu, mereka bukan milikmu
……………………………………………………….
You are the bows from which your children
as living arrows are sent forth.
The archer sees the mark upon the path of the infinite,
and He bends you with His might
that His arrows may go swift and far.
Let your bending in the archer’s hand be for gladness;
For even as He loves the arrow that flies,
so He loves also the bow that is stable.
Kau adalah busur yang meluncurkan anak-anakmu sebagai panah hidup
Pemanah mengetahui sasaran di jalan yang tidak terhingga
Ia melengkungkanmu sekuat tenaga-Nya agar anak panah melesat
Biarlah tubuhmu yang melengkung di tangannya merupakan kegembiraan
Sebab seperti cinta-Nya terhadap anak panah yang melesat
Ia pun mencintai busur yang kuat
Alhasil, kisah semacam ini menjadi inspirasi—bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi transformasi hati. Interaksi antara guru dan murid yang penuh kesadaran, adab, dan kasih sayang. Wallahu a’lam.








