Tirto dan Pramoedya adalah satu entitas yang hidup pada zaman berbeda. Keinginan bupati Blora menjadikan Tirto sebagai nama jalan, mengingatkan kita pada kegagalan sebelumnya: menjadikan Pramoedya sebagai nama jalan.
Pemerintah Kabupaten Blora berencana mengabadikan nama Tirto Adhi Soerjo, tokoh pers nasional, sebagai nama salah satu ruas jalan di wilayah setempat. Wacana tersebut mencuat usai rombongan Pemkab Blora berziarah ke makam Tirto Adhi Soerjo di TPU Blender, Bogor, Jawa Barat (15/12/2025).
Nama Tirto Adhie Soerjo bukan sekadar catatan dalam buku sejarah nasional. Ia adalah pelopor pers nasional, penggagas jurnalisme modern pribumi, sekaligus salah satu tokoh awal kebangkitan kesadaran politik rakyat Hindia Belanda.
Ketika namanya direncanakan untuk diabadikan menjadi nama jalan di Kota Blora, langkah itu bukan hanya bersifat administratif, melainkan simbolik—menghubungkan ruang kota dengan ingatan sejarah dan nilai-nilai kebangsaan.
Tirto Adhie Soerjo (1880–1918) dikenal luas sebagai pendiri dan pengelola Medan Prijaji, surat kabar pribumi pertama yang dikelola secara profesional dan berani menyuarakan kepentingan bumiputra. Serupa Pramoedya, Tirto juga lahir di Blora.
Melalui tulisannya, Tirto memperkenalkan jurnalisme sebagai alat perjuangan: membuka ketidakadilan, mengkritik kekuasaan kolonial, serta membela rakyat kecil yang tak memiliki suara.
Ia bukan hanya wartawan, tetapi juga organisator.
Tirto terlibat dalam embrio pergerakan nasional, menanamkan kesadaran bahwa pena dan pikiran kritis dapat menjadi alat perubahan sosial. Dalam banyak hal, ia meletakkan fondasi bagi tradisi pers kritis yang kelak dilanjutkan generasi berikutnya.
Blora dikenal sebagai wilayah yang kaya akan tradisi intelektual dan sastra. Nama Pramoedya Ananta Toer—tokoh sastra besar Indonesia—tak bisa dilepaskan dari Blora. Bahkan, nama Tirto bisa diketahui berkat jasa Pramoedya dalam menulis kisah-kisahnya. Tanpa Pramoedya, bisa jadi, nama Tirto juga tak akan diketahui orang lain.
Dalam konteks ini, penamaan jalan dengan nama Tirto Adhie Soerjo menjadi sangat relevan. Sebab, Blora diposisikan sebagai kota yang menghormati tradisi berpikir, menulis, dan keberanian untuk bersuara. Tepat seperti apa yang digambarkan Pramoedya.
Tirto dan Pramoedya, meski berbeda zaman, memiliki esensi yang sama: berpihak pada rakyat, mengkritik ketidakadilan, dan yakin bahwa tulisan mampu menggerakkan kesadaran. Tirto dan Pramoedya adalah satu entitas yang hidup pada zaman berbeda.
Untuk diketahui, nama Pramoedya Ananta Toer juga pernah digadang-gadang menjadi nama jalan di Blora. Namun faktanya, belum ada bupati yang bisa mewujudkannya.
Pertanyaannya, apakah semangat bupati Blora untuk menjadikan Tirto Adhie Soerjo sebagai nama jalan akan berakhir sekadar gimick dan angan?








