Sejak zaman dulu, para ulama memiliki kecintaan pada kitab dan buku-buku. Bahkan, hingga membuat sang istri merasa amat cemburu.
Ada banyak ulama yang kecintaan terhadap bukunya, amat luar biasa. Sebut saja diantaranya; Ibnu Ajjurum As-Sonhaji (1273-1323), Qadhi Iyadh (1083–1149), Imam Sibaweh (760-796), dan lain sebagainya. Kesemuanya memiliki kisah tentang kecintaan pada buku.
Syahdan, Qadhi Iyadh mengunjungi seorang kawan yang baru saja selesai menulis buku. Saat Qadhi Iyadh sedikit membaca buku tersebut, ia langsung kagum. Ia meminta temannya agar mau meminjamkan bukunya tersebut, untuk ia baca lebih lanjut.
Akhirnya buku itu dipinjamkan. Dengan syarat, buku harus kembali dalam keadaan utuh. Sebab, itu naskah satu-satunya dan belum sempat disalin. Jika naskah itu hilang, maka, buku juga akan lenyap. Karena itu, Qadhi Iyadh berjanji akan mengembalikan buku sebaik mungkin.
Buku itu dibawa ke rumah. Qadhi Iyadh begadang demi membaca buku tersebut sampai tuntas. Bersamaan dengan lezatnya membaca, sang istri meminta untuk ditemani. Tapi, Qadhi Iyadh lebih memilih membaca buku. Ajakan sang istri pun tak ia hiraukan.
Waktu pagi tiba. Adzan shubuh berkumandang. Qadhi Iyadh bergegas pergi ke masjid untuk menunaikan shalat jama’ah dan mengajar ngaji para santri di sana.
Saat ia kembali ke rumah, ia mencium aroma yang tak sedap. Ia bertanya pada sang istri.
“Masak nopo e, Dek?”
“Engko lak ngerti-ngerti dewe,” jawab sang istri jutek.
Saat piring disajikan di meja makan, Qadhi Iyadh terkejut setengah mati. Ia melihat, buku temannya yang baru dipinjam itu sudah hangus terbakar. Ternyata, sang istri membakar buku itu karena merasa cemburu. Sebab, semalam dia sudah dicueki gara-gara beliau asyik baca buku.
Dengan hati-hati, Qadhi Iyadh mengambil buku yang sudah tak berbentuk itu. Kemudian, ia mengambil kertas dan pulpen untuk menulis apa yang beliau baca semalam suntuk. Ternyata beliau sudah hafal apa yang dibaca semalam.
Tak lama kemudian, buku itu dikembalikan pada temannya. Saat temannya membaca buku itu lagi, tak ada satupun kalimat yang hilang dari buku tersebut. Ini menunjukkan betapa seriusnya Qadhi Iyadh dalam membaca dan memahami buku.








