Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

UN, Menteri Millennial, dan Sistem Pendidikan ala Warung Kopi

Ani Anggraeni by Ani Anggraeni
01/12/2019
in Cecurhatan
UN, Menteri Millennial, dan Sistem Pendidikan ala Warung Kopi

Kemarin Sabtu (11/12/2019), Menteri Pendidikan Nadiem Makarim mengumumkan, Ujian Nasional (UN) akan tetap dihelat tahun depan. Tentu ini mengejutkan siswa dan orang tua yang mengharap janji menteri millenial itu, yakni menghapus UN.

Betapa tidak, menunggu kedatangan UN bagi siswa bagai menunggu Negara Api yang siap menyerang. Penuh kewaspadaan dan ketakutan. UN menentukan masa depan, bak Malaikat maut: menentukan hidup mati seseorang.

Tapi kabar baiknya, dalam pengumuman kemarin, Sang Menteri yang berpengalaman dalam menciptakan teknologi aplikasi itu menyadari bahwa UN bukan mengukur kemampuan siswa, tapi menjadi parameter kualitas pendidikan secara keseluruhan.

“Jadi bukan semuanya ini wacana menghapus saja, tapi juga wacana memperbaiki esensi dari UN itu sebenarnya apa. Apakah menilai prestasi murid atau menilai prestasi sistem,” kata Nadiem.

Alasan kenapa UN tetap ada pada akhir Maret hingga awal April tahun depan, semata untuk menghargai para siswa yang sudah belajar, bersusah payah bersiap menghadapi “judgment day” dunia pendidikan itu.

“Yang sudah pasti 2020 kan masih akan jalan UN. Itu kan sudah kami umumkan, biar tenang bagi yang sudah belajar dan sebagainya,” ujar Nadiem.

Nabs, penghapusan UN bisa jadi kabar baik, bisa juga tidak. Jika berkaca pada negara-negara maju seperti Finlandia yang terkenal kualitas pendidikannya nomor wahid, sudah menghapus UN.

Jepang juga sebagai negara penguasa otomotif, sudah tidak lagi memberlakukan UN. Begitu pula Jerman dan Kanada. Dua negara yang mampu menjual sumber daya manusia mahal dalam berbagai sektor.

Meski begitu, di Singapura, negara paling maju di Asia Tenggara ini masih memberlakukan UN. Sama halnya dengan Tiongkok. Namun mereka mampu menunjukkan bahwa UN itu ampuh dalam menakar standar pendidikan berkualitas.

Bisa jadi karena mereka punya sumber daya penyokong pendidikan yang berkualitas. Fasilitas yang super lengkap, serta guru-guru yang super canggih. Bisa jadi lho ya.. lha wong saya saja belum pernah masuk sekolah ke sana. Wqwq

Para pendiri dan pengatur negara kita, tentu punya tujuan baik kenapa UN harus ada. Meski toh masih mencari formula yang pas. Sejak diberlakukan pada 1969, setidaknya sudah 8 kali mengubah nama dan sistem ujian nasional. Mulai dari istilah Ujian Negara hingga Ujian Nasional plus Ujian Sekolah.

Esensi dari ujian ini semuanya sama: ingin mengukur kualitas pendidikan. Seperti yang diamanahkan Pasal 35 ayat 1 Undang-Undang No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Walaupun, penerapannya harus diuji lagi; apakah sesuai dengan Pasal 58 Ayat 1 yang berbunyi: ”Evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan oleh pendidik untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan”.

Sederhananya begini. UN itu ibarat penggaris untuk mengukur kemampuan siswa agar memiliki standar kualifikasi yang sama. Dari kurikulum yang diajarkan, apakah hasilnya sudah sesuai apa belum. Tapi pertanyaan pentingnya: Apakah semua siswa harus diukur dengan penggaris yang sama?

Saya jadi teringat kata-kata Einstein. Manusia jenius berambut gondrong semir putih itu pernah bilang: “Tidak adil menilai kecerdasan ikan dari kemampuan dia memanjat pohon”. Bener juga sih, saya pikir. Tidak adil menilai kecantikan perempuan dari cara seberapa simetris melukis alis. Wqwq ~

Sejatinya, ke depan nanti, Ujian Nasional ini mengukur keberhasilan sekolah, bukan siswa. Menakar seberapa sukses sekolah dalam menerapkan kurikulum. Keberhasilan guru dalam mendidik siswa dalam mata pelajaran tertentu.

Apakah Pemerintah dan sistem pendidikan yang diterapkan sudah berhasil menciptakan suasana pendidikan yang sesuai minat bakat siswa? Apakah sudah bisa mencetak guru-guru yang bisa digugu dan ditiru?

Apakah sudah menciptakan sekolah sebagai tempat belajar dan meningkatkan kemampuan manusia dalam menghadapi hidup? Bukan menjadikan sekolah sebagai penjara bagi anak.

Ini tentu tidak mudah. Pasti akan terpontang-panting, terbentur sana sini dengan birokrasi dan mental patriarki feodalisme primitif. Nah, tapi bukankan Menteri kita sekarang ini pandai menyederhanakan kesulitan dengan teknologi, aplikasi sederhana nan user friendly? Hehe

Kalau saya bilang begitu ke Mas Nadiem (sok akrab manggilnya mas. Haha), pasti dia ngomong: “Tidak semudah itu Ferguso..” haha. Okelah kalau begitu. Saya setujuu ~

Mencetak SDM dalam dunia pendidikan, perlu dukungan dari berbagai pihak. Tidak hanya Pemerintah. Tidak cukup mengandalkan guru dan sekolah. Juga butuh dukungan orang tua yang memiliki tanggung jawab penuh dalam mengarahkan anaknya menuju masa depan cemerlang. Secemerlang kepala botaknya Deddy Corbuzier ~

Mengutip tulisan Marzuki Alie, Pemerintah harus mengavaluasi 5 unsur. Mulai dari: [1] Evaluasi penyelenggaraan UN (harus terus dicari formula terbaik untuk penyelenggaraan UN yang jujur); [2] Evaluasi manajemen pendidikan (dari desentralisasi menuju sentralisasi kembali, untuk menjauhkan pendidikan dari kegiatan politik praktis para elit ekuasaan daerah); [3] Kualitas pendidikan (untuk meningkatkan kualitas pengajaran dari guru kepada murid); [4] Kualitas sarana dan prasarana pendidikan (untuk menunjang pengajaran dalam rangka mencapai hasil belajar yang optimal); dan [5] Peningkatan kesejahteraan pendidik (bagi yang belum menikmati sertifikasi, agar para pendidik tenang dalam bekerja, dan agar mereka lebih dihormati karena tak berkesan kekurangan).

Soal siswa. Seharusnya siswa diajak untuk menghasilkan karya. Bagaimana mereka menerapkan ilmu-ilmunya untuk menjawab persoalan-persoalan hidup. Berat lagi ini Fergusooo.. haha.

Secara pribadi, saya punya konsep sendiri dalam menciptakan generasi masa depan yang unggul. Intinya pada bagaimana memaksimalkan potensi anak yang unik dan sangat personal. Masing-masing indvidu punya bakat unik yang tentu perlu diasah.

Formulanya dimulai sejak pendidikan pra sekolah. Pada fase ini anak diajak untuk bermain, memahami dunia yang baru dikenalnya. Kemudian ketika Sekolah Dasar, bekali mereka dengan inspirasi-inspirasi.

Bagaimana gambaran manusia dewasa. Hal bermanfaat apa saja yang bisa mereka geluti dengan bakat masing-masingnya itu. Nah, di fase inilah anak mulai jelas peta potensinya.

Saat SMP dan SMA anak diajak untuk berkarya. Dikenalkan pada persoalan-persoalan hidup dan alam semesta untuk kebaikan umat manusia. Para siswa dibawa pada simulasi-simulasi problem solving yang sederhana. Sehingga terbentuk karakter pemimpin dengan 6 C: Creativity, Communication skills, Collaborative, Critical thinking, Computation logic, Compassion.

Karakter ini diperkuat saat masuk jenjang kampus. Mahasiswa sebagai agen elpiji agent of change jangan dijadikan sebagai jargon semata. Mahasiswa, sesuai dengan namanya Maha dan siswa, cara belajarnya harus beda.

Mahasiswa dikondisikan sebagai manusia-manusia yang adaptif terhadap perubahan, dan mampu menciptakan perubahan itu sendiri.

Sekarang ini mahasiswa tidak ada bedanya dengan siswa tanpa seragam. Cara belajarnya tidak jauh beda dengan di sekolah, dikejar kelas dan nilai IPK. Dibatasi semester dan SKS serta jenjang dan masa belajar 4 tahun.

Alhasil, harga sarjana sekarang sama dengan lulusan SMEA, SPG, PGA, SMKK, SPKK, dan lain-lain dahulu kala.

Sangat panjang untuk bicara soal pendidikan manusia. Ibarat ngobrol di warkop giraz, bisa sehari penuh. Tapi cukup dengan secangkir kecil kopi pahit. Murah nan melegakan ketegangan saraf otak. Meredakan kantuk meski harus mandi keringat.

Intinya, pendidikan itu penting. Sekolah juga penting.

Ujian itu perlu. Tapi kalau bisa jangan ditambah lagi dengan ujian keimanan, ujian kesetiaan, atau Ujian Nasional dari Negara Api yang membakar semua potensi unik dari tiap anak bangsa.

Ujian perlu, tapi kalau bisa sesuai potensi siswanya. Sehingga nanti, ijazah bisa diganti dengan sertifikat kompetensi sesuai kebutuhan dan potensi yang ada.

Mari bersinergi. Berkarya tanpa henti. Demi manusia Indonesia kualitas tinggi.

Tags: Nadiem MakarimUjian NasionalUN
Previous Post

Mengubah Stigma Negatif tentang ODHA di Bojonegoro

Next Post

Berjumpa Candra Malik dan Saat Saya Diminta Menyeruput Kopi dari Gelasnya

BERITA MENARIK LAINNYA

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah
Cecurhatan

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future
Cecurhatan

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori
Cecurhatan

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

Di Selasar Sunyi Bersama Gandhi: Percakapan tentang Nurani, Kekuasaan, dan Dunia yang Gelisah

11/06/2026
Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

Terjun ke Drenges, KKN Unigoro Petakan Potensi Desa Lewat Misi From Forest to Future

10/06/2026
Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

Aroma Kopi dan Sejarah yang Dikuratori

09/06/2026
Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

Berkah Bumi: Berawal Rembesan Alami, Diubah Jadi Konsesi

08/06/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: