Suasana semakin panas. Meja diskusi menjadi perdebatan sengit. Otot leher mulai tampak jelas terlihat. Bahkan, dua orang hampir adu jotos. Itu terjadi di sebuah acara televisi swasta, Selasa (14/1/2020).
Malam itu, Program televisis swasta, Indonesia Lawyer Club (ILC) berdiskusi dengan tajuk “Masihkah KPK Bertaji?”. Diskusi tersebut memicu adu mulut antara Praktisi Hukum, Saor Siagian dan Politisi PDI Perjuangan, Masinton Pasaribu.
Cuplikan video debat tersebut masuk dalam 10 trending Indonesia. Melansir channel YouTube ILC, video berjudul “ADU MULUT! Saor Siagian dan Masinton Pasaribu Nyaris Adu Jotos” memang cukup clickbait sih.
Membaca judulnya, sudah pasti kamu penasaran. Sayangnya, yang terekam tidak akan seperti bayanganmu. Sangat biasa saja. Tampak seperti perdebatan dua orang di meja warung kopi. Amburadul gak karuan.
Padahal, berdebat itu ada aturannya, etikanya dan ilmunya. Seperti dalam buku berjudul How to Argue Powerfully, Persuasively, & Positifely karya Jonathan Herring. Buku tersebut mengajarkan untuk memikirkan lima hal penting sebelum berdebat.
1. Apakah berdebatan tersebut bermanfaat?
Jelas saja, untuk apa berdebat jika tidak bermanfaat? Tentu hanya buang-buang energi. Makin parah kalau sambil ngotot-ngotot ga jelas. Bisa darah tinggi dan stroke. Merugikan bukan?
2. Apakah lebih baik melakukan pembicaraan empat mata atau disaksikan dengan banyak mata?
Ini sangat perlu dipikirkan. Mana yang lebih baik dan bermanfaat? Kalau untuk memenuhi ego sendiri, ya ngapain harus debat dalam forum? Bisa bikin malu diri sendiri lho, Nabs.
3. Apakah kamu memiliki informasi yang memadai?
Informasi dan data tentu harus dipersiapkan. Baik sebelum diskusi atau berdebat. Tanpa informasi dan data, itu cuma bikin plonga-plongo. Koyok kethek ditulup. Kalau tidak paham atau kurang jelas, mending bertanya dan jangan berdebat.
4. Apakah kamu siap secara emosional?
Ini sangat fundamental. Emosi harus dipersiapkan. Kalau tidak, sensitifitas akan menarik rasa emosional. Apalagi kalau yang dicari adalah kepuasan. Bakal repot kalau berdebat tanpa manajemen emosi. Bisa-bisa malah adu pukulan seperti kasus di ILC tersebut.
5. Apakah lawan bicara kamu juga siap secara emosional?
Ini penting juga. Melihat psikologis lawan bicara sangat diperlukan. Kamu bisa menilai apa yang dia butuhkan dari debat. Mencari informasi atau memenuhi ego semata. Memahami emosi lawan bicara membantu kamu memenangkan perdebatan.
Buku terbitan 2019 tersebut sudah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia. Belajar sebelum berdebat akan semakin mudah. Tentu kebutuhan berdebat akan menjadi manfaat.
Berdebat termasuk bagian dari belajar. Berdebat menumbuhkan kemampuan otak. Juga, mengembangkan cara berpikir seseorang. Merebus informasi melalui dua atau lebih kepala. Bukan adu banteng untuk saling sruduk kepala.








