Sesuwung-suwungnya urusan adalah proses memaafkan. Ia ibarat proses melahirkan, sakitnya hanya bisa dirasakan sendirian, tapi memicu lega dan menyimpan kejutan.
Momen menangis, bagi saya sangat personal dan bahkan cenderung sulit untuk dilakukan, terutama saat diatur dan ditentukan kapan air mata harus dikucurkan. Seperti perasaan cinta, tangisan datang dengan penuh kesunyian.
Saya tak pernah mengglorifikasi jika tangis seorang lelaki berbeda dengan tangis perempuan. Namun demikian, sudah sewajarnya jika lelaki lebih tahan menahan tangis dibanding seorang perempuan.
Saya bisa kuat menahan tangis saat kaki terkilir dan berdarah akibat main bola. Tapi air mata saya bisa ndlewer begitu saja, kala membaca sebuah cerita pendek karya Leo Tolstoy berjudul Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu. Sebuah cerita tentang permaafan yang keterlaluan bangsatnya.
Beberapa tahun silam, di sudut kamar kosan, saya menangis sembunyi-sembunyi akibat membaca cerita tersebut. Serupa lelaki yang patah hati, saya berupaya menyembunyikan tangis tapi gagal karena air mata dlewar-dlewer tanpa diminta.
** **
Aksionov memutuskan melancong ke kota lain untuk mengunjungi pasar dan berdagang. Istrinya menyarankan agar ia membatalkan rencana untuk pergi, karena merasa firasat buruk mengenai suaminya. Setelah berdebat dengan sang istri, Aksionof tetap memutuskan untuk berangkat.
Di tengah perjalanan, Aksionov berjumpa seorang teman yang juga pedagang. Mereka pun menginap di losmen yang sama. Pagi-pagi saat dia bangun dan melanjutkan perjalanan, ternyata temannya telah mati terbunuh dan dia tidak tahu.
Setelah melanjutkan perjalanan dari losmen tersebut, ia kaget ketika tiba-tiba, polisi menangkapnya. Dia dituduh membunuh temannya. Meski dia membantah, polisi tidak percaya. Sebab, ada sebilah pisau bernoda darah yang ditemukan di dalam tasnya, dia pun dipenjara tanpa tahu apa yang dia lakukan.
Aksionov dijatuhi hukuman cambuk. Setelah itu, dia dibawa ke Siberia bersama para pekerja paksa lainnya. Selama 26 tahun Aksionov hidup sebagai tahanan kerja paksa. Rambutnya memutih. Dia tak lagi ceria. Selalu menunduk. Berjalan pelan. Sedikit bicara. Namun selalu dan tak pernah lupa berdoa.
Di dalam penjara, Aksionov bekerja dan hasil pekerjaannya dia belikan buku agama. Setiap minggu dia ke gereja, membaca pelajaran, dan menyanyi dalam paduan suara. Aksionov mendapat julukan “orang tua yang saleh” dan disenangi para pejabat penjara dan rekan-rekannya.
Suatu hari, sekelompok tahanan baru datang. Salah seorang tahanan itu bernama Makar, berusia sekitar 60 tahunan. Makar bercerita pada Aksionov jika sebenarnya dia tidak bersalah, tapi ditangkap polisi. Padahal, dulu, sekitar 26 tahun lalu, ketika dia merampok dan membunuh seseorang, dia justru tidak ditangkap.
Dari perbincangannya bersama Makar, Aksionov tahu bahwa Makarlah pembunuh temannya kala itu, dan yang kemudian meletakkan pisau di dalam tasnya, sehingga Aksionov ditangkap polisi dan dipenjara tanpa tahu apa yang dia perbuat.
Berhari-hari Aksionov berpikir, apakah akan membalas dendam? 26 tahun telah berlalu. Aksionov kini telah tua. Dia selalu terbayang istri dan anaknya ketika terakhir bertemu. Yang besar memakai mantel dan yang kecil masih menyusu.
Lalu, dia tidak pernah lupa bagaimana dia dicambuk dan dipaksa bekerja, tanpa tahu kesalahannya. Tetapi, setelah tarik-menarik dalam dilema, Aksionov kemudian memutuskan untuk tidak membalas dendam.
Dua pekan setelah itu, Aksionov tanpa sengaja melihat Makar sedang berusaha kabur dengan menggali dinding penjara. Makar mengancam akan membunuhnya jika Aksionov melapor apa yang Makar lakukan.
Aksionov menjawab, “Aku sama sekali tak ingin pergi dari sini. Dan kau tak perlu membunuhku, kau telah membunuhku sejak lama! Tentang perbuatanmu ini, apakah aku akan melaporkan atau tidak, Tuhan yang akan memberi petunjuk.”
Penggalian tanah untuk kabur akhirnya diketahui sipir penjara. Semua penghuni ditanyai siapa yang menggali tanah. Tak ada yang mengaku. Hingga akhirnya Aksionov yang diketahui sebagai orang jujur ditanya. Inilah saat yang tepat baginya untuk membalas dendam dengan mengatakan yang sebenarnya.
Dan Aksionov berpikir, mungkin dengan pengakuannya itu, Makar akan dicambuk mati. Maka, ia pun berkata, “Aku tak bisa mengatakannya, Tuan. Tuhan tidak menghendakiku untuk mengatakannya! Lakukan saja apa yang Anda inginkan atas diriku ini, aku berada di tangan Anda.” Karena Aksionov tidak mau berkata lebih banyak lagi, perkara itu dianggap selesai dan Makar selamat dari hukuman mati.
Malamnya, ketika Aksionov berbaring dan mulai terlelap, Makar diam-diam menghampiri. Dia mengaku bahwa dialah sebenarnya sang pembunuh temannya dulu, 26 tahun lalu. Dia ingin minta maaf dan akan membuat pengakuan agar Aksionov bebas dan pulang kembali ke rumah istri dan anaknya.
Tapi, Aksionov merasa tak memerlukan pengakuan itu lagi. Dia ingin hidup di penjara saja. Makar tidak mau beranjak, dia justru membentur-benturkan kepalanya ke lantai. “Aksionov, maafkan aku!” tangisnya.
“Ketika mereka mencambukku dulu, tidaklah seberapa berat menanggungnya dibandingkan melihatmu seperti saat ini. Bahkan kau pun telah mengasihaniku dengan tidak melaporkanku kepada mereka siang tadi. Demi Kristus, ampuni aku, aku memang brengsek!” Makar pun menangis terisak.
Ketika Aksionov mendengar Makar mengiba sambil terisak begitu, dia pun ikut menangis. “Tuhan akan mengampunimu,” katanya.
Dan dengan kata-kata itu, hati Aksionov terasa ringan dan terang. Kerinduan kepada rumah hilang. Dia benar-benar tak memiliki keinginan lagi untuk meninggalkan penjara dan hanya mengharap agar saat-saat terakhirnya segera tiba.
** **
Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu adalah cerita pendek. Iya, sangat pendek sekali. Tapi mampu membuat saya merenung berhari-hari dan bahkan sempat menangis di sudut kamar kos.
Waktu itu, entah apa yang membikin saya menangis membaca cerita itu. Yang jelas, proses membacanya sebentar namun dampak pasca bacanya yang tak sebentar, sekaligus memicu haru mendalam.
Saya hanya merasa bahwa Aksionov terlalu naif. Sudah sepatutnya dia menuntaskan dendam. Sudah sewajarnya dia memanfaatkan momen untuk membalas apa yang dia timpa, tanpa pernah dia lakukan.
Tapi, dengan kejembaran dada dan kekuatan menahan lara, Aksionov justru memaafkan segalanya. Barangkali, itu yang membikin kelopak mata saya tak mampu menahan beban air mata.
Dendam dan kemarahan terasa begitu murah pasca saya membaca kisah itu. Memaafkan, sebuah laku yang kian asing bagi realitas kehidupan modern, mampu disajikan dengan cara berkisah yang benar-benar mengagumkan, melintasi bermacam zaman.
Saya tak pernah berani menyimpulkan pesan moral dari kisah Tuhan Maha Tahu tapi Dia Menunggu. Saya hanya mampu merasakan bahwa proses memaafkan memang terasa berat, namun amat mulia dan tergurat abadi dalam kehidupan nyata.
Aksionov — meski hanya tokoh rekaan Leo Tolstoy — mampu membuat saya merenung bahwa nasib sial bisa dialami siapa saja. Tapi, kebijaksanaan tergantung dari respon yang dipilih untuk dilakukan: mendendam atau memaafkan.
Saya percaya bahwa sesunyi-sunyinya perkara dan sesuwung-suwungnya urusan adalah proses memaafkan. Ia ibarat proses melahirkan, sakitnya hanya bisa dirasakan sendirian, tapi memicu lega dan menyimpan kejutan.
Dengan kisah pendek yang dia tulis itu, tak heran jika Tolstoy mampu menginspirasi banyak tokoh dunia. Mahatma Gandhi dengan Ahimsa-nya, adalah satu tokoh yang mengaku berguru dari sosok Tolstoy.








