Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Dampak Guyonan dan Komedi pada Penurunan Cuaca Panas di Bojonegoro

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
06/11/2019
in JURNAKULTURA
Dampak Guyonan dan Komedi pada Penurunan Cuaca Panas di Bojonegoro

Serupa apa yang dikatakan Maxwell Boykoff, saat suhu udara di Bojonegoro mencapai 42 hingga 44 derajat celcius, langsung guyonan saja, siapa tahu suhu langsung menurun hingga -8 celsius kayak di Rusia.

Suhu udara di Bojonegoro mencapai 42 hingga 44 derajat celcius. Dengan rata-rata suhu harian hingga 34 derajat celcius. Tentu saja, ini terjadi saat sedang tidak hujan. Dan akan menurun saat hujan terjadi.

Diakui atau tidak, Bojonegoro memang panas. Dan ini sudah sejak lama. Jadi nggak dimulai tahun-tahun ini saja. Dan kian hari kian panas. Tapi, kian hari kian panas tak hanya terjadi di Bojonegoro. Melainkan di seluruh kota di Indonesia. Atau bahkan di kota-kota di dunia.

Jadi, jangan sok-sokan memonopoli rasa gerah sendiri. Yang merasa panas nggak cuma kita yang tinggal di Bojonegoro. Tapi bermacam kota yang ada di seluruh Indonesia atau bahkan di seluruh bumi.

Nabs, ada siasat unik nih untuk menurunkan cuaca panas. Yakni, dengan cara mengumbar guyon. Lho, beneran ta? Iya, jangan dianggap guyon. Ternyata, perubahan iklim dan cuaca panas bisa diturunkan dengan guyonan.

Saya nggak guyon. Ini beneran. Ada penelitian tentang cara menurunkan perubahan iklim dan cuaca panas yang, anehnya, menggunakan komedi dan kelakar guyonan.

Maxwell Boykoff, Professor Studi Lingkungan dan Direktur Pusat Penelitian Kebijakan Sains dan Teknologi University of Colorado Boulder Amerika Serikat telah meneliti dampak guyon terhadap perubahan iklim.

Penelitian yang dia lakukan, berdasar pada hipotesis yang amat sederhana. Perubahan iklim selalu serius dan tidak menyenangkan. Peningkatan emisi gas rumah kaca yang merusak bumi hingga penyebab kebakaran hutan.

Publik yang awalnya merasa gerah secara biologis, akhirnya mencapai titik jenuh bila terus menerus disodori kondisi perubahan iklim yang suram, menyedihkan, dan mengancam makhluk hidup yang tinggal di bumi.

Bermacam ajakan dan metode untuk mencegah perubahan iklim tak pernah menghasilkan apa-apa. Alasannya sederhana. Menurut Boykoff, tak ada keterlibatan masyarakat untuk menanggulanginya secara sungguh-sungguh.

Kondisi itu menginspirasi Boykoff untuk melakukan penelitian yang intinya, penyampaian pesan tentang perubahan iklim melalui komedi dan humor bisa mengurangi dampak cuaca panas. Tentu saja ini tidak guyon. Boykoff telah mempelajari dan mempraktikkan komunikasi iklim selama kurang lebih 20 tahun.

Boykoff juga menulis sebuah buku berjudul Creative (Climate) Communications yang menghubungkan ilmu sosial serta praktik humaniora untuk menjalin hubungan setiap orang melalui isu yang mereka pedulikan secara lebih efektif dan penuh keterlibatan.

Dalam esainya di The Conversation, Boykoff mengutip ucapan novelis Jonathan Franzen yang menegaskan: menghentikan perubahan iklim merupakan tujuan yang sudah jelas selama 30 tahun belakangan, dan meski sudah ada upaya, pada dasarnya, kita tidak membuat kemajuan sama sekali.

Benar sekali. Serupa tak ada dampak apa-apa pada perubahan iklim, meski sesungguhnya iklim dan peningkatan suhu merupakan isu yang seksi untuk dibahas dan ditanggulangi. Itu semua, kata Boykoff, disebab kurang tepatnya penyampaian dan cara berkomunikasi.

Boykoff meyakini sains sangat penting untuk memahami dahsyatnya perubahan iklim dan bagaimana masalah ini terhubung dengan masalah lain seperti bencana, keamanan pangan, kualitas udara lokal, dan migrasi.

Tapi, menurut Boykoff, cara penyampaian ilmiah gagal melibatkan dan menggerakkan khalayak luas secara signifikan. Bahkan, tak ada dampak eksekusi yang jelas terkait informasi tersebut.

Pendekatan dan interpretasi yang suram, kata Boykoff, biasanya akan membuat penonton takut dan bukannya menginspirasi untuk melakukan sesuatu. Tapi bakal diabaikan agar tak jadi beban pikiran. Karena itu, menyampaikan informasi tentang perubahan iklim secara guyonan dianggap lebih berdampak.

Secara konsisten, seperti yang dijelaskan dalam buku yang dia tulis, Creative (Climate) Communications, penelitian menunjukkan bahwa komunikasi yang emosional, menyentuh, dan berdasar pengalaman dapat diterima oleh banyak orang.

Boykoff menegaskan jika melalui penelitian, komedi dan guyonan mampu menangguhkan aturan sosial dan menghubungkan orang dengan ide-ide dan cara berpikir atau tindakan yang baru. Komedi, kata dia, mampu mengeksploitasi celah dalam argumen.

Guyonan terbukti menggelitik, menohok, memecut, dan menarik perhatian mereka yang tidak sesuai, munafik, palsu, dan sok. Hal ini membuat dimensi kompleks dari perubahan iklim terlihat mudah dijelaskan dan mudah untuk dihadapi. Keterlibatan pun terbangun secara natural.

Dengan penanganan dan keyakinan semacam itu, saya percaya jika konsep Boykoff diterapkan di Bojonegoro, mungkin bisa berdampak. Mengingat, stok humoris di Bojonegoro masih sangat banyak. Jika merasa suhu amat panas, tinggal guyonan saja, biar tertawa dan suhu panas pun menurun.

Serupa apa yang dikatakan Maxwell Boykoff, saat suhu udara di Bojonegoro mencapai 42 hingga 44 derajat celcius, langsung guyonan saja, siapa tahu suhu panas bisa turun menjadi 9 derajat celcius. Semakin lucu, suhu semakin mengalami penurunan.

Tags: BojonegoroPemanasan GlobalSuhu Panas
Previous Post

Pentingnya Support System di Kehidupan Nyata dan Media Sosial

Next Post

Dendam, Maaf dan Tuhan Tahu tapi Menunggu

BERITA MENARIK LAINNYA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional
JURNAKULTURA

Skateboard Bojonegoro Makin Diminati, Anggota Komunitas Bertambah Usai Kejuaraan Nasional

06/09/2026
Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia
JURNAKULTURA

Buluqiya dan Tujuh Lautan Menuju Ujung Dunia

27/08/2026
Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez
JURNAKULTURA

Ketika Kekuasaan Kehilangan Akal Sehat, Membaca Novel Garcia Marquez

25/08/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Lokakarya Media 2026: Ketika Industri Butuh Cerita

Lokakarya Media 2026: Ketika Industri Butuh Cerita

17/09/2026
SKK Migas: Pers Profesional Jadi Mitra Strategis Industri Hulu Migas

SKK Migas: Pers Profesional Jadi Mitra Strategis Industri Hulu Migas

16/09/2026
Ketika Tanah Bertemu Kekuasaan

Ketika Tanah Bertemu Kekuasaan

16/09/2026
Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

Dedolarisasi dan Si Kancil di Jazirah Arab

15/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: