Sudah tiga kali ini Ika mendapat surat berwarna merah jambu. Ia tak pernah tahu siapa si pemberi surat. Hanya ada tulisan Jingga Yang Sedang Merindu Senja. Hanya itu, siapa Jingga, siapa Senja? Ia sama sekali tak pernah tahu.
Bagaimana tidak? Sebab semua lelaki di kelasnya adalah para kaum adam yang sikapnya begitu dingin. Mana mungkin ada yang bersikap seromantis itu kepadanya?
Ini sudah hari ke delapan, surat berwarna merah jambu kembali menempati loker mejanya. Hanya satu pertanyaan yang memenuhi benak gadis pendiam yang sama sekali belum pernah pacaran itu.
“Dari siapa?”
Marina mengintip di balik punggung sahabatnya. Ia berbahagia, jika sekarang ini Ika sudah mengenal apa itu cinta. Sebab, usia Ika sudah terbilang cukup untuk memulai jenjang hubungan yang lebih serius.
Hatinya makin penasaran, apalagi ditambah kata “Jingga dan Senja” yang tertulis di pojok kanan atas surat itu. Ah … semakin membuatnya penasaran saja.
Secret Admirer
Ika berbisik, pipinya memerah karena malu. Sontak pernyataan dari perempuan berhijab cokelat ini membuat Marina membulatkan matanya. Ia terkejut, sekaligus bahagia. Sebab, sahabatnya telah jatuh cinta kepada si pengirim surat.
Semalaman, Ika tak dapat tidur sambil menerka-nerka, siapa agaknya si pengirim surat. Namun, di balik rasa penasaran yang memburunya. Hati Ika tetap berkeyakinan, bahwa Rein pengirim surat itu. Lelaki yang begitu pandai memainkan diksi dalam sekumpulan sajak-sajak indah bak Chairil Anwar.
Memang, mereka sedang dikabarkan dekat akhir-akhir ini. Ah malamnya hanya dipenuhi dengan wajah dan senyuman Rein saja. Matanya terjaga, hatinya berbunga-bunga membayangkan saat lelaki itu meletakkan sepucuk surat berwarna merah jambu.
Menurut perasaan gadis berhidung mancung itu, Rein adalah sosok pria yang ideal. Penyair kampus handal, yang jika siapa pun membaca tulisannya, pasti akan terpesona.
Matahari menyembulkan sinarnya dengan gagah, menjadikan siapa pun bersemangat melangkah memulai aktivitas. Namun, baru saja hendak memasuki kelas, Ika melihat Rein berdua dengan seorang wanita. Mereka nampak sangat berbahagia dan penuh cinta.
“Rein sama siapa, Mar?” tanya Ika kepada Marina.
“Oh itu, Eidelweiss, pacar baru Rein, baru seminggu mereka jadian,” jawab Marina.
Deg! Ika tersentak, mendengar pernyataan Marina. Dugaannya meleset, ia salah besar. Baru saja ia hendak mengucapkan terima kasih atas surat merah jambu itu kepada Rein. Ternyata perkiraannya salah.
Lantas, siapa pengirim surat ini? Mengapa dia tahu betul apa yang disukai Ika? Sebentar kemudian, seorang lelaki beralis tebal keluar dari kelas, dan tersenyum ke arahnya.
Bojonegoro, 17 Januari 2020








