Generasi 90-an Kota Bojonegoro pasti mengenal Taman Tirta. Kolam renang ini, bisa dikatakan, bagian penting dari masa kanak-kanak generasi 80-an dan 90-an di Bojonegoro.
Taman Tirta adalah wahana belajar tentang cara bertahan hidup sekaligus bermain. Ya, ialah kolam renang umum pertama yang ada di Kota Bojonegoro.
Taman Tirta, bisa dikatakan sebagai tempat yang turut mendewasakan diri. Banyak di antara kita bisa berenang karena belajar di sana semasa sekolah. Meski, tentu saja, lebih banyak bermainnya.
Ada yang ingat nggak Nabs jenis permainannya? Salah satunya adalah melempar koin. Koin dilemparkan ke tengah kolam, lalu kita berramai-ramai menyelam mencarinya. Siapa yang berhasil menemukannya adalah pemenang.
Kemudian, pemenang itu melempar koin berikutnya untuk dicari lagi. Memang tidak ada hadiah. Tapi, bukankah bermain dan tertawa bersama merupakan hadiah terindah ketika kelak dewasa mempersempit itu semua?
Selain itu, masih ingatkah dengan menu andalan yang sangat khas dari Taman Tirta? Naaahhhhh…. Iya, gorengan yang hanya ada di Taman Tirta. Tidak ada di tempat lain.
Waktu itu, 3 gorengan harganya cuma 500 perak. Gorengannya sangat tipis, tapi ukurannya sangat lebar. Apa ya namanya? Hehe
Menikmati gorengan di sana tidak bisa tidak menyebut saus yang amat melegenda di Bojonegoro. Saus berwarna merah bening dengan tingkat kecairan yang hampir sama dengan air kolam renangnya.
Itu jenis kuliner yang sungguh berbeda dari tempat lain. Ketika berkunjung ke Taman Tirta, pasti para generasi 90-an pernah menikmatinya.
Selesai menikmati gorengan, piring plastik wadah gorengan yang berwarna-warni tidak langsung dikembalikan ke kantin. Malah digunakan bermain semacam friesbie di kolam. Hihi
Satu pelempar piring, dan lainnya di tengah kolam berebut untuk menangkapnya. Meskipun kita semua tahu dan paham bahwa itu dilarang, tetap saja dilakukan. Ketika pengawas kolam atau petugas kantin tahu, pasti marah-marah. Mungkin pernah juga ada yang sampai dijewer? Hehe
Taman Tirta memiliki fasilitas persewaan ban. Dulu, teman-teman yang tidak bisa berenang biasanya menyewa ban untuk dijadikan pelampung. Biasanya, bagi mereka yang kreatif memilih tidak menyewa ban. Tapi memanfaatkan ban yang tergeletak atau mengapung tanpa tuan untuk bermain bersama.
Satu teman didudukkan di atas ban, lalu diputar dengan kecepatan sekencang mungkin. Pasti pusing kan yang duduk di atas ban tersebut. Pernah juga membuat air kolam berkecamuk dengan cara menggoyangkan ban dengan kekuatan penuh. Hal itu dilakukan bersama-sama untuk menciptakan efek ombak di kolam.
Masih ingatkah tentang satu hal yang ikonik di Taman Tirta? Sebuah tanda peringatan yang cukup unik dan selalu dijadikan bahan guyonan. Terdapat tulisan “Dilarang Salto! Kepala Bisa Krowak”. Di samping tulisan itu ada gambar semangka yang pecah dan semburat buahnya. Wkwkwk orang jaman dulu keren ya.
Kalimat itu merupakan tanda peringatan agar pengunjung selalu berhati-hati. Para pengunjung dilarang melakukan salto di kolam dan berlarian di samping kolam. Itu jelas membahayakan si pengunjung sendiri. Namun, saat ini tanda peringatan tersebut sudah hilang karena pengecatan yang baru.
Lalu, kapan kita terakhir kita kesana? Masihkah ingat dengan keadaan dan suasananya?
Bagi kita yang mengalami masa-masa belajar di awal 2000-an, itu bukan hal biasa. Taman Tirta merupakan kolam renang legendaris di Bojonegoro. Selain berisi air, kolam-kolam di sana juga berisi kisah-kisah haru, senang dan bahagia.
Mungkin bercampur juga dengan air mata atau air pipis orang iseng. Yang jelas, hingga saat ini, Taman Tirta masih beroperasi dengan perubahan yang tidak begitu signifikan sejak awal 2000-an.
Taman Tirta berdiri sejak 1982. Pada awalnya, Taman Tirta memiliki 3 kolam. Kolam tersebut dibagi berdasarkan kedalamannya. Kolam yang paling dangkal untuk anak usia balita. Kolam yang sedang untuk usia anak-anak dengan fungsi tempat belajar berenang.
Sedangkan kolam ketiga, yang paling dalam, untuk kegiatan lomba atau event olahraga renang. Pada 2007, Taman Tirta menambah jumlah kolam renang menjadi 4. Kolam baru ini dibuat dengan kedalaman 145 cm.
Selain itu, fasilitas lain seperti kamar mandi juga diperbanyak jumlahnya. Bersamaan dengan itu, fasilitas seperti toilet dan musala pun juga diperbarui. Terdapat pula perombakan di beberapa bagian dari Taman Tirta ini.
Ada penambahan fasilitas seluncuran di 2 kolam yang ada. Selain itu, kolam ke 3 yang paling dalam itu, saat ini dibagi menjadi 2 bagian.
“Yang kolam besar kan sekarang sudah tidak dipakai lomba lagi.” kata Johan, pengelola Taman Tirta.
Setiap pagi, Taman Tirta diramaikan pelajar dari sekolah untuk mata pelajaran olahraga renang. Pada sore hari pun ramai dikunjungi. Selain para pelajar yang berolahraga, ada juga para atlet renang yang berlatih atau les kelompok. Harga tiket masuk Taman Tirta saat ini sebesar Rp 7 ribu untuk dewasa.
Untuk anak-anak dan rombongan sekolah, sebesar Rp. 5 ribu. Harga tiket ternyata masih tidak terlampau jauh dibanding ketika awal tahun 2000-an.
“Masih banyak pelajar kalo pelajaran olahraga, tapi jumlahnya gak dihitung tiap hari.” tukas Johan.
Meski sudah banyak kolam renang umum di Bojonegoro, Taman Tirta masih tergolong pilihan sebagai tempat berlatih renang. Untuk kolam yang besar memang sudah tidak digunakan menjadi tempat lomba.
Karena itu sekarang kolam besar di bagi menjadi dua. Kolam tersebut saat ini digunakan untuk tempat les renang pelajar tingkat SD.
“Lumayan sering kalo ke sini untuk mengantar anak les renang.” kata Ema, ibu dari peserta les renang.
Jadi, bagi kawan-kawan yang lama tidak mengunjungi tempat ini, bolehlah mampir walau hanya untuk sekadar bernostalgia. Dinamakan kenangan memang bukan untuk dilupakan, tapi untuk dikenang sebagai reward untuk diri sendiri. Sebagai pengingat bahwa kita pernah mengalami masa kanak-kanak yang menyenangkan dan membuat kita bahagia.








