Menerima dan mengasihi, banyak berterima kasih dan bersyukur; barangkali, adalah bahagia yang tak akan pergi kemana-mana.
Jika mendengar kata bahagia, apa yang kemudian terpikirkan? Barang-barang yang bertahun-tahun ingin sekali untuk dimiliki? Baju mewah dengan harga selangit? Liburan keliling dunia? Bertemu si pacar? Makan makanan enak? atau punya uang segedung yang bisa digunakan untuk apa saja?
Beberapa pertanyaan yang menjadi perumpamaan di atas, sebagian wujud bahagia berbentuk materi, yang agaknya sulit untuk direalisasikan dengan waktu cepat, atau pula di masa-masa sulit seperti saat ini.
COVID-19 atau disebut juga virus corona merupakan awal baru dari perubahan makna bahagia bagi seluruh populasi manusia.
Bukan tanpa sebab, semenjak virus ini menyebar hampir di seluruh belahan dunia rasa-rasanya manusia terpenjara dan semakin “jauh” dipisahkan oleh jarak tak kasat mata.
Di masa pandemi saat ini jangankan untuk bahagia; bernafas saja rasanya sulit, bergerak pun sulit, sekolah dan perkuliahan diliburkan untuk kemudian beralih menjadi serba daring.
Beraktivitas keluar rumah pun kemudian dipandang sebagai penjahat kelas kakap dengan dosa tak terampuni yang tak henti-henti dicurigai.
Lalu belakangan ini ada banyak sekali manusia yang bermusuhan dengan dirinya sendiri. Entah yang terlalu banyak merasakan emosi sampai pusing sendiri, atau pula yang tak merasakan emosi sama sekali: hampa, katanya.
Bahkan selama pandemi ini, penyakit lain yang lebih berbahaya selain virus corona itu sendiri, adalah penyakit mental yang banyak menyerang masyarakat, khususnya remaja.
Banyak yang mengeluh seputar kondisi mereka yang sangat sulit melakukan sosialisasi di luar rumah, sedikitnya kontak langsung dengan manusia lain, dan kehidupan tidak teratur selama di rumah membuat semua orang berada pada titik jenuh yang penuh akan ketakutan akan masa kini dan masa depan.
Maka dapat disimpulkan, kondisi seperti ini jauh dari bahagia, kan?
Terlalu dini untuk menyimpulkan kebahagian kita di tahun ini, terlalu remeh jika hanya menggambarkan kebahagiaan selama satu tahun penuh ini dengan hal-hal duniawi yang itu-itu saja.
Lalu, apa saja hal-hal manis yang tepat untuk menggambarkan bahagia di tahun 2020?
Hal paling tepat untuk menggambarkan bahagia di tahun 2020 yakni dimulai dengan kegiatan menyikat gigi. Di tahun ini rasanya menyikat gigi begitu nikmat dan membahagiakan, tak perlu terburu-buru seperti biasanya, tak perlu sering-sering juga seperti dulu sebab sekarang mandi pun seingatnya.
Menyikat gigi perlahan sembari menyenandungkan lagu-lagu kesukaan yang tiba-tiba menjadi playlist kala menyikat gigi adalah sebuah kebahagiaan yang baru disadari di tahun ini.
Jika membahas playlist, ini juga menjadi sebuah kebahagiaan baru di tahun 2020. Banyak-banyak mendengarkan lagu di Spotify lalu membuat playlist sesuka hati, menamainya sesuka hati, menentukan cover dan deskripsi menarik apa yang pantas untuk disematkan pada tiap-tiap playlist di Spotify adalah kebahagiaan kawan.
Jangan bilang ini sederhana, ya, sebab ini tidak sederhana. Untuk satu akun premium dengan durasi 3 bulan kamu membutuhkan dana sebanyak 25-45 ribu rupiah.
Jadi, sekali lagi, ini tidak sesederhana seperti yang ada di kepalamu, tapi ini sungguh membahagiakan.
Di tahun ini, meminum kopi susu dengan sirup pandan atau gula aren juga menjadi kegiatan yang sangat membahagiakan. Meskipun bisa dilakukan sebelum pandemi, namun rasa-rasanya kopi susu gula aren beberapa bulan ini terasa sangat menggiurkan.
Sebab, mengonsumsinya sambil bercengkrama dengan teman atau pacar merupakan sebuah momen mahal.
Terlepas dari hal-hal membahagiakan di atas, tahun ini mengajarkan kita tentang seberapa berharganya pemaknaan kata terima kasih. Sebab tahun ini melatih kita untuk banyak menerima.
Menerima banyak kejadian pahit yang kadang harus ditelan mentah-mentah, menerima diri sendiri dengan segala emosi yang tak jarang begitu merepotkan, menerima rindu, menerima rumah sebagaimana seharusnya rumah, dan menerima banyak hal baru yang tak jarang begitu meresahkan untuk sekadar dipikirkan.
Di tahun ini juga, kita banyak diajarkan tentang bagaimana menjaga orang-orang terkasih, mengasihi selagi mereka semua masih ada, memberi kasih tulus untuk semua doa-doa baik dari manusia-manusia baik yang agaknya masih dapat kita jumpai di tengah keosnya hidup dan kehidupan.
Jadi sejatinya ada banyak hal yang mampu membuat kita bahagia di tahun 2020 yang-amat-suram ini.
Tuhan tidak pernah memberikan sesuatu tanpa jalan keluar terbaik untuk masing-masing penganutnya yang setia, maka bahagia tak akan sulit ditemukan jika kita menerima hal-hal kecil yang luput dari pandang selama ini sebagai sebuah kebahagiaan baru.
Menerima dan mengasihi, banyak berterima kasih, bersyukur, adalah bahagia yang tak akan kemana-mana.








