Sholawat memang memiliki daya tarik sangat luar biasa. Namun, tak semua mau merawat dan melestarikannya sedemikian rupa.
Hadrah termasuk salah satu upaya melestarikah bentuk cinta terhadap sholawat. Para pemuda merintis seni hadrah di Desa Wedoro Kecamatan Sugihwaras ini begitu gigih. Perjuangannya patut diapresiasi.
Pada 2013, saat gencar-gencarnya sholawat modern lagi naik daun. Sekelompok pemuda desa merintis grup sholawat. Yang awalnya dari Madrasah Diniyah Roudlotul Ulum.
Siapa yang berjuang pasti akan medapat keberkahan. Grup sholawat Roudlotul Ulum memiliki perpaduan antara laki-laki dan perempuan. Aliran sholawatnya modern. Paduan rebana lokal dan piano. Yang biasa disebut orjen.
Seiring berjalannya waktu, para personil sudah mulai dewasa, tepatnya kelas 3 Tsanawiayah atau SMP. Grup pun mulai berkembang, para personil sudah mulai bertambah. Melihat berbagai usulan, akhirnya berhenti mengenakan orjen.
Setelah itu, grup mulai berkembang secara perlahan. Banyak diundang di hajatan-hajatan di lingkup desa maupun kuar desa. Setiap diundang hajatan pasti dapat bisyaroh, atau disebut upah. Upah itu tidak dibagikan ke personil, melainkan dikumpulkan untuk beli alat hadrah.
Perajalanan syiar sholawat begitu lama, dari beberapa personil sudah mulai banyak. Pada akhirnya membuat grup sendiri-sendiri laki-laki dipisah dengan yang perempuan. Bulan April 2016 menjadi pergantian nama.
Dari Roudlotul Ulum menjadi Riyadlul Jannah. Sebab, personil tidak dari Madin saja. Sudah ada dari luar desa. Para pemain tidak kesulitan latihan. Karena mereka sudah pada bisa, backround dari para crew hadrah adalah lukusan pesantren. Jadi, tidak tabu akan hal semacam hadrah.
“Para pemainnya banyak yang dari lulusan pesantren, jadi tidak terlalu bingug untuk latihan. mereka sudah pada bisa bermain hadrah. Entah itu terbang mapun yang lainnya,” ujar Kang Aziz salah satu personil Riyadlul Jannah.
Hadrah tidak berjalan mulus bak jalalanan beton yang dibangun oleh Ibu Pembangunan kita. hambatan dan gronjalan pasti datang secara disengaja, bahkan tiba-tiba. para pemain kebayakan masih pelajar, ada juga yang sudah bekerja.
Untuk meluangkan waktu mengikuti hadrah juga sedikit sulit. Bahkan saat open recruitmen anggota baru, juga sedikit yang minat dalam hal hadrah ini. Dari situlah bisa kita lihat, bahwa generasimuda yang mau menggeluti dunia hadrah sangat jarang.
“Inilah yang sangat sulit, menumbuhkan generasi baru yang mau meneruskan perjuangan para pendahulunya sangat jarang sekali. Namun, dibalik itu semua. Kami dan beberapa orang masih tetap istiqomah,” ucapnya.
Banyak rintangan dan halangan tidak menyurutkan semangat Aziz dan Aris Wahyudi, setelah Hadrah Riyadlul Jannah terbentuk, kami masih utin hingga saat ini. Pantang menyerah, walau ada hambatan masih tetap ada.
Hari ini para penerus grup sudah ada. dan sudah sangat berkembang dai yang dulu. rutian setiap minggu yang dilaksanakan setiap malam Kamis Pahing masih aktif hingga saatsaat ini dan sejak terbentuknya hadrah Riyadlul Jannah.
Begitulah Nabs, ulasan dari saya tentang Hadrah Riyadlul Jannah Desa Wedoro Kecamatan Sugihwaras Kabupaten Bojonegoro ini. jangan lupa tetap istiqomah dalam hal ibadah di bulan yang penuh berkah ini ya, Nabs.








