Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Ketika Daun Gugur di Antapani Bernyanyi

Yogi Abdul Gofur by Yogi Abdul Gofur
27/02/2022
in Fiksi Akhir Pekan
Ketika Daun Gugur di Antapani Bernyanyi

Gugurnya dedaunan di Antapani bukan untuk mati, melainkan untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

Malam di penghujung Februari, Darmanto mimpi menikah dengan Darmi. Maklum, karena Darmanto dan Darmi adalah makhluk Tuhan yang saling mencintai. Namun mereka harus berpisah karena Darmanto mendapatkan tuduhan terlibat dalam gerakan separatis cum komunis.

Setelah Darmanto diasingkan di wilayah Ikut Republik Indonesia Anti Natherland (Irian) selama 7 bulan, dia belum diizinkan pulang ke kampung halaman karena terpapar virus yang sedang mewabah di jagat raya.

Sebuah petang di Irian, menjadi saksi bisu perpisahan Darmanto dengan pulau yang bentuknya bak kepala burung. Nyiur yang melambai, mengisyaratkan lambaian perpisahan. Darmanto dan beberapa orang yang lain dibawa masuk ke kapal dan menuju sebuah penjara di Priangan.

Petang di Priangan. Meski secara harfiah terdapat kata riang dalam kata Priangan, hal tersebut berbanding terbalik dengan perasaan hati Darmanto. Setelah beberapa waktu yang lalu, Darmi telah melangsungkan janji suci dengan seorang polisi.

Badan Darmanto kurus, namun dia bersyukur karena berhasil sembuh dari malaria. Ketika menginjakkan kaki di Priangan, Darmanto di tempatkan di sebuah bangunan tua di Antapani.

Sehari-hari dia melamun. Sebelum tidur, berbagai jenis peristiwa bersarang di otaknya. Dan pernah suatu ketika saat tidur bersama Acong, Darmanto menyebut nama, “Darmi…Darmi..dan Darmi”.

Acong merupakan pemuda dari tanah Celebes. Dia juga diasingkan bersama Darmanto. Tinggal dalam satu kamar bersama Darmanto di Antapani.

Meskipun agak bebas dari pada penjara di Irian. Namun Darmanto dan kawan-kawan tidak bisa merasakan kebebasan sepenuhnya. Karena juga ada batasan-batasan yang harus mereka patuhi.

Di pos pengasingan Antapani, Darmanto bersama Acong (Celebes), Mamal (Priangan), Dapink (Borneo), Soares Sarmento atau Sasa (Irian), Bob (Irian), Roman (Sunda Kelapa), dan Pujiwati (Jawa).

Mereka di tempatkan di Antapani dengan tuduhan yang sama yaitu terlibat dalam gerakan separatis cum komunis.

Saban hari mereka melakukan kegiatan yang berbeda-beda. Ada yang menulis, bermain sandiwara, berpuisi, bernyanyi, dan menyendiri. Darmanto senantiasa menyendiri.

Saban pagi, Darmanto membuat kopi dan menikmati secangkir kopi di ruang atas Antapani. Darmanto berkhayal dan melihat daun-daun yang berguguran di Antapani.

Hal tersebut dilakukan hingga terdangar suara azan zuhur dari langgar. Darmanto tidak bisa menuju langgar, karena tempat yang dia gunakan selalu terkunci gerbangnya dan hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk.

Azan zuhur berkumandang, Darmanto tidur. Azan asar berkumandang Darmanto bangun. Dan senja di Antapani dari yang sunyi, berubah mencekam di sanubari. Karena saban senja, aparat keamanan setempat memberi kursus ” Cinta Tanah Air”. Dalam kursus, tak jarang spidol melayang, kemoceng terbang, dan penggaris mendarat di betis. Suara rintihan kesakitan, menjadi penghias saban senja di gedung tua Antapani.

Di suatu siang, Darmanto mencoba membuka kembali lembar-lembar catatan yang dia miliki. Di dalamnya, ada catatan ihwal konsep negara, sejarah, imperialisme, feodalisme, politik perburuhan, marxisme, dan lain sebagainya.

Hal tersebut dilakukan Darmanto untuk menguji keabsahan pemateri kursus dari aparat keamanan yang datang ketika senja menyapa Antapani. Dan waktu kursus tiba.

“Hari ini, kita akan belajar lanjutan tentang cinta tanah air”, kata petugas.

“Cinta tanah air merupakan sebagian dari iman, dan……….”, sambung petugas.

“Ya, mungkin cukup sekian materi kursus cinta tanah air pada sore ini, sebelum saya menutup, apakah ada yang ingin menanggapi apa yang saya sampaikan tadi?”

“Saya, Pak”. Darmanto mengacungkan tangan.

“Baik, Saudara Darmanto, waktu dan tempat saya persilahkan”.

“Oke. Cinta tanah dan air. Bagi saya, melihat fenomena di lapangan yang terjadi, itu bertentangan dengan perilaku bapak dan kawan-kawan. Karena bapak dan kawan-kawan yang lain, bukan hanya rakus terhadap jabatan, sialnya lagi juga rakus terhadap tanah dan air, menjadi pelindung tua tanah dan juga cukong-cukong. Dan ketika bapak menyampaikan komunisme itu tidak bertuhan, itu salah kaprah, menandakan bahwa logika berpikir bapak dan kawan-kawan bapak, tidak jauh berbeda dengan anak-anak yang sedang duduk di bangku taman kanak-kanak, semua yang bapak sampaikan itu bukan berdasar pada fakta, melainkan hanya mitos belaka, sekian”.

Anomali senja. Karena terkadang senja di Antapani mencekam. Senja kali ini, agak ramai, karena Darmanto berhasil membuat malu pengisi materi kursus dan kawan-kawan Darmanto yang lain ikut tertawa terbahak-bahak.

“Eh…Diam…Darmanto, apa maksud kamu?” Petugas yang mengisi materi kursus cinta tanah air mencekik Darmanto setelah itu melepaskan dan memukul Darmanto dengan penggaris, “cetarrrr, suara menggema di gedung tua Antapani”.

“Kalian jangan kurang ajar. Kalian itu siapa? Hanya rakyat jelata, berani-beraninya sama penguasa, Saudara Darmanto harus pindah ke Sukamiskin besok”.

Setelah kursus usai, mereka merayakan kemenangan kecil dan kesedihan dengan makan dan ngopi bersama. Ada raut bahagia, karena Darmanto berhasil membuat malu dan naik darah petugas keamanan. Juga beriringan rasa sedih, karena Darmanto harus berpisah bersama kawan-kawan di Antapani. Sebab esok hari, Darmanto hijrah ke Sukamiskin.

Malam itu, Darmanto dan kawan-kawan bertukar cerita. Kawan-kawan dari Priangan bercerita ihwal Nyai Saritem yang melegenda, yang namanya menjadi tempat wisata syahwat dekat rel kereta. Acong dari Celebes, bercerita mengenai pengalamannya mengorganisir buruh. Pujiwati bercerita ketika belajar bersama petani. Kawan-kawan dari Irian, bercerita mengenai perjuangan mempertahankan kelestarian alam, di tengah maraknya deforestasi, dan kisah Sasa yang berupaya tidak makan nasi karena berhubungan dengan ideologi, Sasa lebih suka makan polo pendem, seperti kentang dan ketela. Dan Darmanto berkisah panjang lebar ihwal perjuangan dan romansa.

Malam itu, hujan turun membasahi bumi Antapani. Langit Antapani nampak muram, dengan kilatan cahaya. Kawan-kawan yang lain, memilih untuk tidur dalam balutan hujan. Sedangkan Darmanto mengambil kertas dan menarikan pena dari balik kaca jendela gedung tua. Merefleksikan berjuta pengalaman yang telah ia alami.

Sembari melihat daun-daun yang berguguran diterpa angin. Darmanto, belajar dari daun yang gugur, bahwa daun yang gugur bukan kalah, melainkan daun yang gugur nantinya akan kembali ke tanah, terjadi dekomposisi yang mempengaruhi kesuburan tanah plus tumbuh dan kembang tetumbuhan.

Darmanto mencoba tenang, meskipun besok dunia baru “Sukamiskin” mengucapkan salam dan selamat datang. Kengerian Sukamiskin, didekonstruksi Darmanto dengan pengetahuan yang ia peroleh, ia meyakini bahwa Sukamiskin bukan berarti senang terhadap kemiskinan, melainkan sebuah tempat wangi, karena secara etimologi/bahasa, berasal dari kata as-suuqu (pasar) dan al misq/misik (minyak wangi).

Darmanto menyambut kepindahan dengan apa adanya, juga sebagai pengejawantahan rasa syukur terhadap Pencipta, karena masih bisa menggunakan akal untuk berpikir, mata untuk melihat berbagai fenomena wabilkhusus daun-daun yang gugur di Antapani, kulit masih bisa menikmati sinar mentari, telinga masih bisa mendengar orang yang bernyanyi, kaki digunakan untuk melangkah, lidah masih bisa merasakan berbagai jenis makanan dan minuman, dan lain sebagainya.

Bandung, 26 Rajab 1443 H

Tags: Fiksi Akhir Pekan
Previous Post

Septi Cahya Lestari, Peraih Medali Emas Porseni Jatim 2022

Next Post

Warkop Literasi: Ilusikah?

BERITA MENARIK LAINNYA

Hikayat Takut Kualat
Fiksi Akhir Pekan

Hikayat Takut Kualat

26/12/2025
Kharisma Kiai Darmin
Fiksi Akhir Pekan

Kharisma Kiai Darmin

30/11/2025
Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 
Fiksi Akhir Pekan

Akar Kehidupan Membentuk Pohon Harapan 

15/05/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Kemarau yang Datang Lebih Awal

Kemarau yang Datang Lebih Awal

16/04/2026
‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

‎Komisi B DPRD Bojonegoro Ungkap Hambatan Pendirian KDKMP di Sejumlah Desa

15/04/2026
Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

Perut yang Menjadi Peta Kemiskinan

14/04/2026
‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

‎Wabup Bojonegoro Beri Perhatian pada Daffa, Si Bocah Jenius yang Bisa Rakit Robot

13/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: