Serupa apa saja yang ada di dunia ini, Tiktok punya sisi baik yang belum banyak diketahui.
Beberapa minggu lalu di sebuh group facebook lokal Bojonegoro heboh soal aplikasi Michat. Kehebohan itu datang dari sebuah unggahan anggota group yang menuduh maraknya penjaja seks lewat aplikasi Michat dari sebuah hotel di Bojonegoro.
Sejauh ini Michat memang lebih terkenal sebagai aplikasi transaksi seks. Ya setidaknya itulah yang sering diperbincangkan. Meskipun sebetulnya Michat adalah aplikasi pertemanan yang bisa mendeteksi orang di wilayah terdekat dengan posisi pengguna. Sangat bermanfaat dalam membangun silaturahmi bertetangga. Ya kan.
Mungkin Michat hanya heboh di kalangan tertentu. Berdasarkan data, yang lebih heboh justru tiktok. Menurut laporan yang dirilis We Are Social pada Februari 2022 lalu, Tiktok mengalami lonjakan penggunaan hingga 67 persen. Meskipun belum mengalahlan popularitas Whattapps, namun Tiktok mampu mengubah cara-cara kita berbagi informasi akhir-akhir ini.
Fenomena Tiktok ini menjadi topik diskusi dalam “Bincang-Bincang Media” yang digelar ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) bersama para jurnalis di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, kemarin Kamis (21/4/2022).
Forum ini menghadirkan narasumber dari berbagai organisasi jurnalis seperti Aliansi Jurnalis Independen, Persatuan Wartawan Indonesia, Serikat Media Siber Indonesia, dan Forum Jurnalis Televisi Bojonegoro.
Berbagai perspektif muncul dalam menyikapi fenomena ini. Mulai dari soal pengasuhan (parenting), hingga soal gaya hidup. Menurut salah satu narasumber, Sasmito Anggoro, Tiktok telah mengubah cara orang-orang bermedia sosial.
“Beberapa Youtubers malah pindah jadi Tiktokers karena melalui Tiktok mereka jadi lebih mudah populer,” katanya.
Ini menjadi penanda bahwa Tiktok mampu memberi ruang yang lebih baik ketimbang aplikasi lainnya. Orang cenderung lebih mudah memberi tanda Like dan share atau download video. Bahkan follow akun. Tanpa orang lain tahu.
Bagas, pengelola akun Tiktok Radar Bojonegoro mengakui bahwa aplikasi ini lebih disukai banyak kalangan. Tak heran jika kini akun Tiktok Radar sudah punya 2,7 juta pengikut. Akun Radar pun sudah terverifikasi centang biru.
“Unggahan-unggahan tentang peristiwa banyak disukai,” ucap Bagas.
Menurut Bagas, untuk banyak viewer dan follower intinya soal konsistensi. Kita harus konsisten dalam mengunggah konten. Meskipun mengunggah ulang video orang lain, viewer-nya tetap tinggi.
Dari sekitar 30-an peserta diskusi, memang tidak semuanya punya akun Tiktok. Namun hampir semua pernah lihat video Tiktok. Video-video di group Whattsapp banyak juga yang berlabel Tiktok. Inilah uniknya aplikasi Tiktok.
Video bisa diunduh dan disebar ke banyak lini. Buat kontennya juga mudah. Kita bisa mengedit, menambahi musik dan tulisan dalam satu unggahan. Tidak perlu aplikasi editor tersendiri untuk bikin video yang mungkin viral.
Namun karena kemudahannya ini, Tiktok menjadi rawan. Bambang Yulianto, Ketua Forum Jurnalis Televisi Bojonegoro mengaku khawatir dengan masifnya aplikasi media sosial ini. Kekhawatirannya tertuju pada anak-anak.
“Peran orang tua harus betul-betul ketat. Jangan sampai anak-anak kita, generasi penerus ini rusak karena video Tiktok,” ujarnya.
Memang Tiktok di kalangan tertentu masih identik dengan video “goyang” dan “guyon”. Fitur saringan kamera yang membuat kulit nampak lebih putih, bibir lebih merah, dan alis lebih tebal, memberi citra yang berbeda. Para pengguna berlomba ingin viral.
Tidak sedikit yang terkenal karena viral. Jadi artis karena konten yang heboh. Ada manfaat ekonomi dan psikologi di sana. Namun dari semua itu, media apapun yang kita gunakan, hendaknya bijak dan tetap mempertimbangkan aspek-aspek budaya, etika, dan kemanusiaan.








