Memunculkan sisi ilmiah, memelihara folklore dan kisah-kisah karomah.
Sejak kecil saya sering mendengar kisah Keramat Aulia Padangan. Saya juga sering mendapati cerita tentang banyaknya Aulia di Padangan. Namun, saya tak mengira jika kelak, diberi kesempatan untuk meriset dan menulis historiografi ilmiah dari para Aulia tersebut.
Padangan identik wilayah bertuah. Terutama soal perlawanan terhadap penjajah. Jika pernah mendengar ada tempat paling dihindari Belanda dan Jepang, itulah Padangan. Di sana, ada lokasi yang dikenal dengan Lemah Keramat, ruang apes bagi para penjajah atau pegawai pemerintah yang berafiliasi dengan penjajah.
Tak hanya mengintai para penjajah, Lemah Keramat juga mengeksekusi para Pegawai Pemerintah. Konon, jika ada pegawai pemerintah yang hidup di sana, jika tidak wafat biasanya turun pangkat. Tak ayal, Lemah Keramat jadi momok menakutkan bagi para pegawai pemerintahan.
Bahkan, jika ada warga yang diangkat jadi Pegawai Desa misalnya, mayoritas memilih pindah domisili dan alamat rumah. Folklore tentang Lemah Keramat masyhur selama ratusan tahun.
Sampai pada 1960 M, masih banyak Pegawai Desa yang tak berani masuk ke dalamnya. Bahkan untuk memanggil warga yang kebetulan tinggal di dalam wilayah tersebut, kala itu, mereka harus memakai kentongan dari luar. Sebab, tak berani masuk ke dalam.
Menurut cerita tutur, Lemah Keramat adalah respon masyayikh Padangan terhadap perilaku jahat para penjajah. Masyayikh “nyabda” tempat itu agar tak bisa diinjak penjajah. Tiap ada penjajah atau orang-orang pemerintah (yang berafiliasi dengan penjajah) memasukinya, selalu ilang dalane!.
Kisah di atas hanya sedikit bagian dari banyaknya hikayat keramat di Padangan. Hampir semua ulama Padangan yang dikenal Wali, memiliki kisah keramat sendiri-sendiri. Dari yang dikawal macan atau buaya, air bekas mandinya membuat kebal senjata, hingga berjalan di atas air adalah perihal biasa.
Di Padangan juga banyak peninggalan para ulama; kitab, benda pusaka, hingga makam dan petilasan yang dikeramatkan. Banyak pula benda-benda dikeramatkan. Tak hanya serpihan kentongan masjid atau serpihan kitab, masyhur pada era 90-an, para peziarah dari luar daerah mencuil nisan makam untuk dijadikan azimat.
Karamah tentu keistimewaan. Karomah aulia bersaksi atas kebenaran Kanjeng Nabi Saw. yang telah memperlihatkan mukjizat. Itu alasan karamah hanya dianugerahkan Allah pada orang-orang tertentu. Pada orang-orang yang memiliki kedekatan khusus pada Allah, melalui kecintaan pada Kanjeng Nabi Saw.
Identitas Padangan sebagai tanah bertuah, tentu karena didiami banyak Waliyullah Keramat. Namun, yang harus dipahami, unsur keramat hanya bonus dari peradaban intelektual islam yang pernah ada di Padangan.
Sisi Ilmiah Aulia Padangan
Di Padangan, cukup banyak kitab-kitab ilmiah karangan para ulama, yang selama ini dikenal sebagai Wali Keramat. Banyak sisi intelektual para ulama yang tertutup kisah-kisah karomah. Sebab, belum banyak yang tahu, dan mengkaji keberadaan kitab-kitab tersebut.

Ada berbagai sumber literatur ilmiah. Mulai dari Naskah Kedung Pakuncen, Manuskrip Padangan, bahkan masih ada ratusan judul kitab karya ulama yang masih terjaga dan rapi tersimpan. Karena itu, sisi historiografi harus dihadirkan. Sebagai penyeimbang sisi keramat yang sudah kadung masyhur duluan.
Pada Ramadhan 2022, saya menerima pesan khusus dari sejumlah Kiai Padangan, yang tak lain adalah pakde-pakde saya sendiri. Diantaranya KH Athoillah Maimun, KH Ismail Sulaiman al-Hafidz, dan Kiai Furqon Azmi.
Beliau berpesan pada saya, agar mulai bergerak memelihara sisi ilmiah para Aulia Padangan, dengan cara menulis dan mengkaji sisi historiografinya.
“Awakmu tugase yang ilmiah-ilmiah saja. Yang nggak ilmiah sudah terlalu banyak”. Berulangkali KH Ismail al-Hafidz berpesan pada saya begitu.
Pesan itu sangat wajar. Sebab sampai saat ini, Padangan masih dikenal dari sisi keramatnya. Hampir semua kisah berhubungan para Aulia di kawasan Padangan, lebih dominan sisi keramat. Para Aulia dan ulama di Padangan, banyak dikenal justru dari sisi karomahnya.
Saya dan sejumlah kerabat pun melakukan riset sederhana. Melalui pembacaan manuskrip, wawancara narasumber, dan berkunjung ke sejumlah makam leluhur. Dan, memang banyak informasi penting yang kami dapatkan. Terutama sisi ilmiah yang selama ini tertutup kisah-kisah karomah.
Tahun Penemuan
Banyak ulama-ulama waliyyun min auliyaillah di Padangan yang tak hanya meninggalkan kisah keramat. Tapi juga banyak karya ilmiah berupa kitab-kitab tulisan tangan beliau sendiri. Banyak sisi intelektual nan ilmiah para Aulia Padangan, yang mulai bermunculan.
Pada 27 Juli 2022, hasil riset sederhana kami dibaca oleh Pakde KH Athoillah Maimun pada acara Haul leluhur kami, Syekh Abdurrohman Klothok. Hasil riset itu menunjukan betapa sosok beliau yang selama ini dikenal dari sisi karomah, ternyata punya banyak sisi intelektual nan ilmiah.
Terbukti, beliau menulis ratusan risalah dan puluhan judul kitab ilmiah. Bahkan, kami juga menemukan bukti literatur tentang dibangunnya Pesantren Klothok pada 1218 H (1803 M). Ini bukti autentik karena ditulis tangan oleh Syekh Abdurrohman Klothok sendiri.
Pada 18 Agustus 2022, hasil riset kami yang lain juga dibaca Pakde Kiai Furqon Azmi pada acara Haul leluhur kami, Syekh Sabil Menak Anggrung. Hasil riset itu menunjukan betapa sosok Mbah Sabil tak hanya meninggalkan dongeng. Tapi juga jejak persebaran islam secara nyata, empiris, dan ilmiah.
Terbukti, Menak Anggrung bukan sekadar istilah. Tapi nama sebuah pesantren abad ke-17 M (1600 M). Sebuah entitas peradaban islam yang menghubungkan para penyebar islam koridor Rembang dan Tuban, pasca era Wali Songo. Ini pun terbukti secara empiris, melalui catatan manuskrip leluhur kami.
Riset ilmiah, memang penting dilakukan untuk memahami perjuangan leluhur secara nyata. Sehingga, yang dipahami generasi penerus tak sekadar dongeng belaka. Meski, sisi karomah juga tak boleh ditinggalkan. Sebab, karomah selalu bersaksi atas kenabian Kanjeng Rasul Saw. dan kebesaran Allah Swt.








