Dalam komunitas internasional, filantropi Islam mampu menawarkan solusi yang berharga dalam menanggapi krisis kemanusiaan.
United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), badan PBB untuk urusan pengungsi, meluncurkan Laporan Tahunan Filantropi Islam 2023 melalui sebuah kegiatan khusus di Jakarta pada 7 Maret 2023. Acara itu, diikuti sejumlah peserta dari berbagai organisasi Islam terkemuka di kawasan Asia-Pasifik.
Melalui laporan tahunan Filantropi Islamnya, UNHCR umumkan sebanyak 1,6 juta pengungsi dan orang-orang yang terpaksa melarikan diri karena perang, telah dibantu melalui mitra Zakat dan Sadaqah secara global pada 2022.
Melalui acara ini, UNHCR juga menyoroti pentingnya mitra filantropi Islam dalam memberikan dampak bagi kehidupan para pengungsi dan orang-orang terpaksa melakukan pelarian yang rentan di Asia dan di seluruh dunia.
UNHCR telah membantu 1.595.778 pengungsi dan pengungsi internal (IDP) di lebih dari 20 negara secara global, melalui distribusi Zakat dan Sadaqah yang diterima pada 2022 dari mitra-mitra berbasis Islam yang begitu dermawan.
Kepala Perwakilan UNHCR di Indonesia, Ann Maymann, menyampaikan sambutan pada acara peluncuran tersebut. Dia menyebut, sejak 2021, UNHCR Indonesia telah bermitra dengan lebih dari 12 organisasi Islam yang berbeda.
Dukungan tersebut, menurut dia, memungkinkan pihaknya memberikan dampak bagi kehidupan orang-orang yang terpaksa mengungsi di Indonesia dan seluruh dunia. Dia menambahkan, pihaknya percaya pada kemampuan komunitas Muslim yang berada di Asia dan Pasifik untuk bersatu membantu mereka yang membutuhkan untuk mendorong perubahan.
“Saya mengucapkan terima kasih atas kontribusi Anda dan untuk berdiri dalam solidaritas bersama dengan perjuangan para pengungsi”. Kata dia.
Penasihat Senior dan Perwakilan UNHCR untuk Dewan Kerjasama Negara- negara Teluk, Khaled Khalifa menyoroti, sampai saat ini, tren pengungsian terus meningkat dan tidak menunjukkan tanda-tanda melambat. Pada 2022, pihaknya melampaui titik paling tragis di mana lebih dari 100 juta orang secara global terpaksa mengungsi, lebih dari 50% berasal dari negara-negara mayoritas Muslim.

“Dalam komunitas internasional, filantropi Islam mampu menawarkan solusi yang berharga dalam menanggapi krisis kemanusiaan.” ungkap Khaled Khalifa.
Nabs, UNHCR meluncurkan Dana Zakat Pengungsi sebagai alat kemitraan yang kredibel, sesuai aturan zakat, dan efektif untuk memanfaatkan kekuatan Zakat dan Sadaqah dalam membantu pengungsi penerima manfaat dan populasi pengungsi secara internasional.
Sejak peluncuran pertama Refugee Zakat Fund pada 2017, kontribusi Zakat dan Sadaqah dari mitra donor telah memungkinkan UNHCR untuk mendukung dan memberi manfaat lebih dari 6 juta pengungsi dan pengungsi internal di 26 negara.
Selain itu, dana Zakat dan Sadaqah yang diterima UNHCR berkontribusi terhadap realisasi beberapa Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG). Terutama, Tanpa Kemiskinan (SDG 1), Tanpa Kelaparan (SDG 2), Kesehatan dan Kesejahteraan yang Baik (SDG 3), Pendidikan Berkualitas (SDG 4), Kesetaraan Gender (SDG 5), dan Air Bersih dan Sanitasi (SDG 6).
Pada 2023, kebutuhan global UNHCR meningkat menjadi $10,2 miliar untuk membantu sekitar 117,3 juta pengungsi, pengungsi internal, dan orang lain di bawah mandat UNHCR.
Termasuk lebih dari $2,7 miliar yang dibutuhkan di negara-negara di mana UNHCR mendistribusikan Zakat dan Sadaqah, untuk membantu lebih dari 17 juta pengungsi dan pengungsi internal dengan berbagai intervensi, termasuk bantuan tunai yang sangat dibutuhkan dan barang-barang penting lainnya.
Tentang badan PBB untuk Pengungsi (UNHCR)
UNHCR, Badan Pengungsi PBB, melindungi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka karena konflik dan penyiksaan. Kami bekerja di lebih dari 130 negara, melindungi jutaan orang dengan memberikan dukungan penyelamatan jiwa, menjaga hak asasi manusia, dan membantu mereka membangun masa depan yang lebih baik. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi www.unhcr.org








