Kasepuhan Padangan merupakan otoritas kultural bertumpu perjuangan ideologis dari zaman ke zaman. Sebuah ideologi yang ditanam Sidi Jamaluddin Husain pada abad 14 M silam.
Sebagai kawasan pembatas provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur, Padangan sejak lama dikenal sebagai wilayah yang tak ramah pada penjajah. KH Wahab Hasbullah (1888 – 1971) menyebutnya poros pergerakan Islam. Syaikhina Maimoen Zubair (1928 – 2019) menjulukinya Tanah Para Wali. Sementara Gus Dur (1940 – 2009) menulisnya sebagai kawah toleransi.
Penulis Belanda bernama Roorda van Eysinga, dalam Handboek der Land en Volkenkunde (1850), menyebut Padangan sebagai Kota Tua yang strategis. Eysinga tentu punya alasan. Berabad-abad sebelumnya, Padangan masyhur sebagai Kasepuhan yang menjadi simpul perlintasan gagasan dari zaman ke zaman.
Informasi mengenai Kasepuhan Padangan, mungkin akan hilang dari peradaban, andai catatan Sidi Abdurrohman Klotok (w.1877 M) tak ditemukan. Untungnya, catatan bertarikh 1820 M itu masih ditemukan. Ia menulis informasi mengenai rantai ideologis-genealogis Kasepuhan Padangan.
Selain produktif menulis banyak kitab, Sidi Abdurrohman Klotok ulama yang sangat takdhim pada para leluhur. Sehingga sering menulis riwayat para leluhurnya. Nama leluhur paling sering ia tulis, adalah Sidi Sabil ing Padangan, Sidi Sambu ing Lasem, dan Sidi Jabbar ing Jojogan Singgahan.
Sidi Abdurrohman Klotok, secara genealogis, adalah keturunan ke-4 dari Sidi Jabbar (Mbah Jabbar Jojogan) sekaligus keturunan ke-5 dari Sidi Sabil Padangan (Mbah Sabil Padangan). Tak heran jika dalam sejumlah catatannya, ia menulis kedua leluhurnya tersebut dengan penuh rasa takdhim.
Kasepuhan Padangan
Secara kultural, Padangan disebut kasepuhan karena menjadi tempat persemayaman para sesepuh keturunan Sidi Jamaluddin Husain (Sidi Jamaluddin Kubro), leluhur para Sidi Padangan yang membuka dan membangun peradaban Islam di wilayah tersebut. Padangan menjadi tempat di mana ajaran Sidi Jamaluddin dirawat dan dikembangkan dari zaman ke zaman.

Pada abad 14 M, Sidi Jamaluddin membangun pangkalan dakwah di Gunung Jali Padangan, sebuah perbukitan di dekat lintasan sungai Bengawan. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), dalam berbagai ceramah publiknya, kerap bercerita mengenai tauladan Sidi Jamaluddin di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah tersebut.
Dalam buku The Passing Over (1998), Gus Dur menulis, keberadaan Sidi Jamaluddin di perbatasan Blora dan Bojonegoro tersebut, bukan hanya memperkenalkan syariat. Namun juga sikap moderat dalam memperlakukan makhluk Allah, termasuk alam. Sikap ini, menjadi “ideologi” yang terus diugemi lintas generasi.
Thomas Stamford Raffles dalam magnum opus-nya berjudul The History of Java (1817), menyebut kawasan Gunung Jali sebagai pusat dakwah Syekh Jumadil Kubro (Sidi Jamaluddin). Dalam buku itu, Raffles mendeskripsikan Sidi Jamaluddin sebagai: “a devotee who had established himself on Gunung Jali” (hal:127).
Maka bukan kebetulan jika Manuskrip Padangan (1820 M), catatan yang ditulis Sidi Abdurrohman Klotok, menyebut wilayah dakwah Sidi Jamaluddin ini sebagai FiddariNur (kota cahaya). Sebuah penegasan semiotik atas ajaran sekaligus warisan ideologis Sidi Jamaluddin yang terus dirawat di wilayah Padangan.
Gunung Jali bukan wilayah administratif, melainkan bentang alam berupa savana hutan maha luas dan perbukitan yang dilintasi aliran Sungai Bengawan. Kawasan Gunung Jali, kini menjadi ruang simpul sejumlah kecamatan, penghubung dua kabupaten, dan pengikat dua provinsi.

Jejak peradaban Gunung Jali Padangan, tak hanya disebut literatur. Namun diperkuat prasasti dan bukti arkeologi. Fakta ini menunjukkan, jauh sebelum kedatangan Islam, kawasan ini menjadi pusat aktivitas manusia, ruang hidup yang memiliki nilai strategis sebagai tumbuhnya tradisi, pengetahuan, dan peradaban yang mapan.
Kawasan Gunung Jali secara beruntun disinggung dalam Prasasti Pucangan (1041 M) yang dirilis Raja Airlangga pada abad 11 M, Prasasti Maribong (1264 M) yang dirilis Raja Wisnuwardhana pada abad 13 M, dan Prasasti Naditira Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk pada abad 14 M. Ketiga prasasti itu menyebut perbatasan Blora dan Bojonegoro sebagai penghubung pesisir dan pedalaman Jawa.
Sementara riset arkeologi dilakukan Museum 13 Bojonegoro dan Tim UGM pada 2011, menemukan banyak subjek masa silam di kawasan itu. Baik fosil prasejarah maupun artefak kuno. Para arkeolog menyatakan, kawasan Gunung Jali tak hanya dipenuhi fosil purba. Namun serpihan arca (Hindu-Budha) dan asesoris berinskripsi Arab (Islam).
Ideologi yang Berkelanjutan
Di Gunung Jali, Sidi Jamaluddin tak hanya memperkenalkan syariat ubudiyah. Namun juga membangun peradaban muamalah. Ajaran mengenai sikap wasathiyah pada makhluk Allah, terus diugemi para penerusnya menjadi bermacam kaidah ekosufistik.
Bersikap baik pada manusia dan alam, menjadi sistem nilai yang terus dirawat para penerus Sidi Jamaluddin di masa-masa berikutnya. Di Padangan, ideologi ini menjadi tradisi yang tak hanya menekankan sikap harmoni, tapi juga menegaskan sikap anti-feodalisme.
Sikap anti-feodalisme itu tercermin dalam pepatah Padangan: ngasorake sing luhur, ngeluhurake sing asor-— merendahkan yang merasa tinggi dan meluhurkan mereka yang direndahkan. Di Padangan, pepatah ini menyublim dalam laku hidup dan menjadi kompas moral atas sikap egalitarianisme.
Memasuki abad ke-15 M, kawasan Gunung Jali dipandegani Sidi Usman Khaji atau Sunan Jipang (Mbah Ngudung). Ayah Sunan Kudus ini, menjadikan ideologi Sidi Jamaluddin sebagai landasan membangun pusat ekonomi. Masyhur, Mbah Ngudung membangun kawasan Gunung Jali tidak hanya dengan basis pengetahuan Islam, namun juga kedaulatan ekonomi.
Mbah Ngudung mengajarkan masyarakat untuk mensyukuri nikmat sungai, dengan memanfaatkannya sebagai pusat perniagaan. Banyaknya perahu niaga, digambarkan sampai ngudungi (menutupi sampai penuh) permukaan sungai. Dalam cerita tradisi, nama Ngudung melekat karena kebijaksanaan-nya tersebut.
Lantas pada abad ke-16 M, Sidi Abdulhalim Benawa menjadi umara yang melanjutkan ideologi itu sebagai pondasi peradaban perahu: pusat ekonomi dan keilmuan berbasis sungai. Sementara di sisi ulama, figur Syekh Nursalim dari Giri Kedaton melanjutkan estafet dakwah di Gunung Jali Padangan. Syekh Nursalim juga dikenal dengan Mbah Jimat Tegiri.

Kasepuhan Padangan menjadi otoritas kultural yang memelihara ajaran ideologis itu dari zaman ke zaman. Sebuah ideologi tak terlembagakan, tapi menyublim dalam kehidupan: norma yang tak tampak di permukaan, namun hidup pada laku, tradisi, dan cara pandang kolektif dalam memuliakan sumber alam.
Kemudian pada abad 17 M, Kasepuhan Padangan jadi titik pertemuan Mbah Sabil Padangan dengan dua ponakannya, yaitu Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Jojogan. Ketiganya membangun ekosistem pendidikan Islam. Tiga dzuriyah Sidi Jamaluddin itu, mereplikasi ekosistem Gunung Jali, melalui keberadaan pesantren Menak Anggrung.
Pada masa ini, ajaran ideologis Sidi Jamaluddin mengenai sikap moderat pada alam, dikembangkan menjadi bermacam kaidah yang mudah dipahami masyarakat. Bajul Destoroto, Bledhug Geni, hingga Lemah Balad menjadi ageman ekosufistik yang mengajak masyarakat untuk hidup selaras dengan alam.

“Kiai Sabil putrane sekawan sedaya. Engkang pembajeng Kiai Saban ing negara Padangan. Nuli Nyai Sambu ana ing Kauman negara Lasem. Nuli Nyai Jabbar ing Jojogan negara Tuban. Nuli Bagus Abdurrokhim ing Sendang Kaliwuluh Pedusunan Sambeng”.
Mbah Sabil Padangan adalah paman dari Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Singgahan. Untuk memperkuat jaringan ideologis, Mbah Sabil Padangan menjadikan dua keponakannya itu sebagai menantu. Ikatan keluarga ini, kelak melahirkan rantai genealogi yang semebyar ke berbagai daerah.
Jaringan Kasepuhan Padangan semebyar di kawasan utara Pulau Jawa. Terutama Bojonegoro, Blora, Tuban, Rembang, Gresik, dan Nganjuk. Membentuk jejaring kultural yang terhubung secara genealogi dan tradisi, serta otoritas spiritual yang terus berkelanjutan lintas zaman.

Mayoritas jaringan keluarga ini, ngugemi ajaran Sidi Jamaluddin melalui pendirian pesantren di masing-masing wilayah. Lebih dari sekadar institusi pendidikan agama, namun jadi ruang pembentukan nilai yang menekankan sikap egaliter, serta penolakan pada struktur feodal yang menindas.
Di tangan mereka, ideologi wasathiyah, egalitarianisme, dan sikap anti-feodal yang ditanam Sidi Jamaluddin itu, tidak hanya dipertahankan, tapi diproyeksikan sebagai kekuatan kultural yang adaptif terhadap dinamika perubahan zaman, sehingga tetap relevan dan berpengaruh pada masa-masa berikutnya.
Sikap yang telah mendarah-daging dan berakar dalam, menjadikan jaringan keluarga ini tak hanya berperan dalam dakwah keagamaan Islam, tetapi juga kerap menjadi embrio lahirnya berbagai perlawanan kultural terhadap praktik-praktik penindasan yang datang bersama arus kolonialisme.
Kronik Peristiwa
Sebagai otoritas kultural pelestari ideologi Sidi Jamaluddin, Kasepuhan Padangan kerap berhadapan dengan kolonialisme. Sebab, mental kolonial tak pernah sejalan dengan ideologi para pinisepuh. Sebuah keniscayaan ketika kelak dikenal sebagai kawah kaum pejuang. Dalam sejumlah peristiwa, tempat ini kerap menjadi poros penentu geopolitik Jawa.
1. Pengapesan Panembahan Senopati
Pada 1589 M, Panembahan Senopati hendak memperluas kekuasaan dengan menundukkan Surabaya. Pasukan Panembahan Senopati bergerak ke arah timur melewati koridor sungai Bengawan, penghubung Jawa Pedalaman dengan Jawa Pesisiran. Namun ekspedisi itu tak berlangsung mudah. Ketika sampai di kawasan Jipang, Panembahan Senopati menghadapi kendala serius yang mengharuskan-nya pulang.
Ketika Panembahan Senopati mengkudeta Kesultanan pada 1582, Pangeran Abdulhalim Benawa memang hilang dari peredaran. Namun, ideologinya tumbuh subur (Sunyoto, 2012). Putra Halim Benawa yang bernama Bagus Halim Sani (Pangeran Sumohadiningrat) memilih hidup di bantaran sungai, dan tak kembali ke istana. Para kabilah Bagus Halim Sani itu, kerap disebut Menak Lelana (bangsawan yang meninggalkan istana) atau Sinare. Gus Dur (2006) menyebut mereka sebagai para pandega di luar dinding istana.
Di sepanjang abad 16 M, kawasan Bengawan yang membentang dari Jipangulu hingga Jipangilir, dikenal sebagai pusat keberadaan para Menak Lelana (Sinare) yang tak pernah mengakui kedaulatan Mataram. Para Sinare inilah yang kelak melucuti pasukan Panembahan Senopati, sekaligus memaksa mereka balik kanan atau mati.
Tak bisa melewati wilayah Jipang, menjadi penyebab mengapa Surabaya tak pernah dikuasai Panembahan Senopati. Para sejarawan mencatat, sampai akhir hayatnya, Panembahan Senopati tak pernah menguasai Surabaya. Ini alasan, kawasan Jipang masyhur sebagai Tanah Pengapesan Panembahan Senopati.
2. Menegur Sultan Agung
Pada 1620, 1622, dan 1623, Sultan Agung mengadakan ekspedisi militer untuk menaklukkan Surabaya. Bengawan menjadi jalur perlintasan pasukan. Di perjalanan, rombongan pasukan tak hanya melintas. Namun juga merampas harta rakyat kecil. Begitu memasuki Jipang, rakyat melawan. Mereka memaksa rombongan pasukan Mataram untuk tak merampas apa pun di sepanjang Bengawan. Jika melanggar, akan menerima malati dari langit.
Pada masa itu, Jipang menjadi kawasan yang dihuni banyak Menak Lelana. Bagus Halim Sani (Pangeran Sumohadiningrat) bersama tiga putranya yang bernama Kiai Kaputran (Pangeran Sumohadinegoro), Kiai Sabil (Pangeran Dandangkusumo), dan Kiai Silarung (Pangeran Silarungkusumo) telah membangun jejaring kekuatan sosial dan kedaulatan lokal berorientasi gerakan tarekat. Mereka mengajarkan masyarakat untuk hidup berdaulat.
Para sejarawan mencatat, ekspedisi Sultan Agung pada 1620, 1622, dan 1623 itu mengalami kegagalan. Banyak pasukan Sultan Agung mati kelaparan akibat kekurangan logistik dan pasokan pangan. Ini alasan sungai Bengawan dihilangkan dalam narasi ekspedisi Sultan Agung. Sebab, sungai Bengawan menyimpan malati sekaligus aib kegagalan secara beruntun.
3. Memangsa Londo Jowo
Pada paruh pertama abad 17 M, tepatnya pada dekade 1640 M, Kasepuhan Padangan menjadi tempat konsolidasi Mbah Sabil Padangan dengan dua ponakan sekaligus menantunya, yakni Mbah Sambu Lasem dan Mbah Jabbar Jojogan dalam membangun keseimbangan atas dominasi Sunan Amangkurat. Kemesraan VOC dan Amangkurat Mataram, telah memicu kerusakan dan kekejaman.
Mbah Sabil bin Bagus Halim Sani bin Abdulhalim Benawa adalah figur yang hidup sezaman dengan Sultan Agung bin Anyakrawati bin Panembahan Senopati. Mbah Sabil, Mbah Sambu, dan Mbah Jabbar pernah menenggelamkan Amangkurat Mataram ke dalam lumpur, akibat kerakusan dan kekejaman-nya.
Semiotika lumpur ini mengandung makna mendalam. Kisah mengenai lumpur ini diceritakan dalam berbagai kisah tutur Hikayat Padangan. Bahwa apapun berbau Londo Jowo, akan menghadapi infiltrasi total, perlawanan kultural, bahkan konfrontasi senyap yang melenyapkan.
4. Perjuangan Trunojoyo
Pada paruh kedua abad 17 M, tepatnya pada 1676 M, puluhan ribu pasukan Mataram yang dipimpin Amangkurat Ameral, melintasi sungai menuju Timur Tuban, untuk menangkap Trunojoyo. Dalam perang berpusat di sisi timur Tuban itu, sebanyak 50 ribu pasukan Mataram yang dipimpin Amangkurat Ameral kocar-kacir dan secara tragis, digulung oleh hanya 9 ribu pasukan gabungan Trunojoyo.
Pada masa ini, Padangan terdapat sejumlah figur berpengaruh besar dalam konteks sosial dan geopolitik. Di antaranya Sidi Abdurokhim Kaliwuluh, Sidi Kamaluddin Oro Bogo, dan Sidi Imamuddin Kuncen. Ketiganya berperan sebagai simpul hubung antara pengetahuan, spiritualitas, dan ruang ekologis di lintasan jalur bengawan.
Sunan Amangkurat Ameral lupa. Sungai mereka lintasi adalah Padangan, tempat di mana kutukan para Sidi masih diberlakukan. Melintasi sungai Padangan, berarti memicu konfrontasi senyap melenyapkan. Ini alasan 50 ribu pasukan Amangkurat Ameral sudah tidak utuh, saat sampai di wilayah Tuban. Sehingga pasukan Trunojoyo dengan mudah melumpuhkan.
5. Perjuangan Giyanti
Pada masa Perjuangan Giyanti (1755 M), Kiai Wirosentiko atau Raden Ronggo I (Bupati Madiun), Kiai Tjarangsoko atau Raden Malangnegoro I (Bupati Padangan), dan Kiai Notowijoyo Sepuh atau Raden Notowijoyo I (Bupati Panolan), kerap bertabaruk di Padangan.
Pada periode ini, Kasepuhan Padangan terdapat sejumlah tokoh di antaranya Kiai Biddin Ujuh, Kiai Tamid, dan Kiai Tatron yang merupakan para pandega dan masyayikh di Kasepuhan Padangan. Mereka bukan hanya dikenal sebagai ahli agama, tapi juga figur memiliki ketajaman intuitif dalam membaca arah zaman.
Kiai Tamid dan Kiai Tatron Padangan adalah figur yang pernah memperingatkan Sultan Hamengkubuwana, Sunan Pakubuwana, dan Mangkunegara untuk tak bertindak sewenang-wenang dalam berebut tahta. Sebagaimana logam mulia kehilangan nilai akibat pengikisan. Tiga penguasa itu juga terancam hilang martabat akibat keserakahan.
6. Perjuangan Alas Jati
Pada perjuangan Alas Jati (1810 M), Raden Prawirodirjo Madiun (Raden Ronggo III), Raden Sumonegoro Padangan (Raden Malangnegoro III), dan Raden Notowijoyo Panolan III — cucu dari para pejuang Giyanti — memimpin perlawanan terhadap monopoli hutan jati yang dilakukan Daendels dan Londo Jowo. Seperti para leluhurnya, tiga tokoh ini juga berkonsolidasi di Padangan.
Pada periode Alas Jati ini, Padangan terdapat sejumlah figur ulama memiliki pengaruh besar. Mereka adalah Kiai Nursaddin Kuncen dan Kiai Syahiddin Oro Bogo. Dua figur ulama tarekat berpengaruh besar, dengan basis utama di kawasan hutan. Mayoritas santrinya adalah para blandong hutan.
Raden Ronggo adalah ayah Sentot Ali Basya, Raden Sumonegoro Padangan adalah ayah mertua Kiai Modjo, dan Raden Notowijoyo Panolan adalah ayah mertua dari Pangeran Diponegoro. Bukan kebetulan jika para pejuang ini, punya hubungan emosional dengan Kasepuhan Padangan.
7. Perjuangan Perang Jawa
Pada masa Perang Jawa (1825-1830 M), Padangan jadi pusat konsolidasi bagi rombongan Diponegoro, Kiai Modjo, Sentot Ali Basya, dan Sosrodilogo, yang merupakan tokoh utama Perang Jawa. Di Padangan, mereka membentuk divisi bernama Malangnegoro, untuk bertabaruk dengan pejuang pada masa sebelumnya.
Dua istri Pangeran Diponegoro yang bernama RA Retnakusuma binti Notowijoyo Panolan dan RA Retnaningsih binti Sumoprawiro Padangan, berasal dari wilayah ini. Sementara istri Kiai Modjo yang bernama Nyai Maya binti Sumonegoro Padangan juga berasal dari kawasan ini.
Fakta ini menjadi alasan, banyak rombongan Diponegoro melakukan tarbiyah tarekat di Kasepuhan Padangan, terutama di Pesantren Betet dan Pesantren Klotok. Kiai Syihabuddin Betet, dan Kiai Abdurrohman Klotok menjadi figur yang kerap disowani rombongan para pejuang tersebut.
Kiai Munada yang merupakan bagian dari rombongan Pasukan Diponegoro, kelak juga membangun peradaban tarekat di kawasan Robayan, Kuncen, Padangan. Dan dikenal dengan Kiai Munada Robayan. Keberadaan basis tarekat ini, kelak melengkapi berbagai sisi juang masyarakat Padangan.
8. Perjuangan Cultuurstelsel
Pasca Perang Jawa usai, perjuangan belum selesai. Kebijakan kolonial mengenai perbudakan Cultuurstelsel (1830-1870), direspon secara tegas kaum tarekat Padangan. Meski terkesan sporadis, mereka membangun resistensi untuk mengganggu stabilitas kolonial.
Pada masa Cultursteel ini, terdapat sejumlah ulama tarekat yang punya peran penting dalam mengganggu stabilitas kolonial. Di antaranya Kiai Syamsuddin Betet, Kiai Ahmad Munada Robayan, dan Kiai Syahid Kembangan yang menjadikan peguron (pesantren) tempat mereka mengajar, sebagai ruang godok para pejuang.
Bukan sekadar reaksi spontan atas tekanan Cultuurstelsel, melainkan manifestasi kesadaran ideologis yang berakar kuat. Kondisi ini memunculkan gangguan masif terhadap dominasi kolonial. Sebab, pesantren menjadi simpul konsolidasi, tempat nilai-nilai keberanian, kemandirian, dan keberpihakan pada akar rumput terus dirawat dan diwariskan.
9. Perjuangan Sarekat Islam
Pada masa perjuangan Sarekat Islam (SI), Padangan berperan penting sebagai pusat konsolidasi simpatisan SI. Sampai pada 1916 M, SI Bojonegoro masih berpusat di Padangan. Kiai Hasyim Padangan (Kiai Hasyim Jalakan), Kiai Abdul Hadi Munada (Kiai Dulhadi Robayan), dan Kiai Muntaha Syamsuddin (Mbah Ho Padangan), dikenal sebagai ulama ahli geopolitik yang menjadi guru spiritual SI Bojonegoro.
Para simpatisan SI Padangan ini, berperan besar hingga masa perjuangan Surabaya November 1945. Pada masa ini, Padangan jadi melting pot Laskar Hizbullah Bojonegoro. Mbah Ho Padangan merupakan Pembina Laskar Hizbullah Bojonegoro. Riwayat konsensus mengatakan, senjata Laskar Hizbullah Bojonegoro tak boleh dibawa ke medan pertempuran, sebelum disepuh di Padangan.
10. Perjuangan Nahdlatul Ulama
Padangan punya peran sentral dalam masa berdirinya organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Pada awal pendirian NU (1926), KH Wahab Hazbullah sering bertabaruk ke Padangan, menemui Kiai Hasyim Padangan (Kiai Hasyim Jalakan), dalam rangka membangun hubungan strategis dan penguatan organisasi di tengah tekanan imperialisme Belanda.
Kiai Hasyim Padangan dikenal memiliki pemahaman geopolitik internasional. Memiliki jaringan di Singapura, Mesir, hingga India. Selain itu, ia juga dikenal ulama penulis memiliki tradisi literatur cukup kuat. Pasowanan KH Wahab Hasbullah pada Kiai Hasyim Padangan, bukan hanya untuk memperluas jaringan NU. Tapi juga memperkuat pondasi NU dengan tradisi literatur dan keilmuan Islam.
Sumber rujukan:
Manuskrip Padangan (1820), The History of Java (1817), Handboek der Land en Volkenkunde (1850), Tarikh Aulia (1959), Hikayat Padangan, Serat Walisana, Sejarah Kabupaten Bojonegoro (1988), The Passing Over (1998).








