Kota Bojonegoro tak mudah roboh diterpa gempa kebudayaan. Sebab, ia berpondasi balungan-dongkel-jati para “intelektual bersarung” yang tak hanya masyhur keramat, tapi juga menulis karya ilmiah.
Atmosfer intelektual di Kota Bojonegoro sudah sepatutnya bisa berkembang pesat. Sebab, sejak ratusan tahun silam, nama Bojonegoro masyhur di berbagai belahan dunia, sebagai wilayah yang menetaskan banyak Intelektual Bersarung dan Kiai Akademisi pemikir peradaban.
Saat KH Yahya Cholil Staquf mentakwil PBNU sebagai Perjuangan Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), keesokan harinya, saya ikutan mentakwil PBNU sebagai Peradaban Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Takwilan saya itu, kemudian dimuat di kolom opini NU Online pada (28/5/22) lalu.
Saya beranggapan, “juang” dan “adab” adalah dua sayap esensi PBNU. Dari perjuangan yang beradab inilah, NU membentuk tradisi peradaban. Sebuah tradisi yang membuatnya terus bergerak dan beterbangan melintasi bermacam dinamika zaman.
Juang dan Adab, menurut hemat saya, adalah keyword NU. Ini alasan kenapa NU selalu diisi para ulama memiliki daya “juang” yang berpegang pada kredo keramat, Al adabu fauqol ilmi: “adab” lebih tinggi dari ilmu. Daya juang dan adab, dua partikel yang mengkristal dan mendarah-daging dalam karakter NU.
Kota Bojonegoro sebagai tlatah peradaban, tentu fakta sahih yang tak terbantahkan. Pada abad 20 M, nama Bojonegoro sudah sangat masyhur di Tanah Hijaz (Makkah-Madinah), Singapura, hingga India, sebagai wilayah yang melahirkan para Intelektual Bersarung dan Kiai Akademisi.
Dalam kitab Jawahir al-Hisan fi Tarajum al-Fudhala karya Syekh Zakaria Billah, Kota Bojonegoro disebut sebagai bagian dari jejaring internasional rantai sanad Aswaja di Tanah Hijaz pada abad 20 M. Ini terbukti dari keberadaan Syekh Sulaiman Kurdi Al Bojonegori Al Jawi, yang menjadi ulama pengajar di Tanah Hijaz.
Popularitas ulama Bojonegoro juga tersiar hingga Singapura dan India. Terbukti dari keberadaan kitab Terjemah Jawi Alfiyah Ibnu Malik yang dicetak di Kampung Mlayu Singapura pada 1232 H (1905 M), dan kitab Tasrifan Padangan yang dicetak di Bombai India pada 1237 H (1910 M). Keduanya merupakan karya Syekh Muhammad Hasyim Al Fadangi Bojonegoro.

Lebih dari itu, penemuan manuskrip dan karya tulis dari abad 18 hingga 19 M, memperkental bukti bahwa tradisi intelektual NU di Bojonegoro sudah lahir sebagai energi, jauh sebelum ia berwujud organisasi. Energi sejak ratusan tahun silam itulah, embrio lahirnya NU pada 1926 M.
Ini sesuai dawuh KH Achmad Shiddiq Jember dalam Risalah Khittah Nahdliyah (1979). Dalam mukadimah kitab tersebut, beliau menyebut bahwa energi dan esensi NU sudah ada sejak zaman Wali Songo. Energi dan esensi itulah, yang dipadat-formalkan para muasis pada 1926, menjadi Jam’iyah Nahdlatul Ulama.
Di Kota Bojonegoro, khususnya Padangan, telah ditemukan ratusan judul kitab dan risalah tulisan tangan (manuskrip) yang ditulis sejak 1202 H (1788 M) hingga 1342 H (1924 M). Itu belum termasuk manuskrip Mushaf Quran dan catatan Tarikh.

Kitab-kitab tulisan tangan itu, tidak ditulis dalam satu lintasan zaman, tapi ditulis secara musalsal dalam beberapa spektrum lintasan generasi intelektual. Mulai dari generasi abad 18 (1700), abad 19 (1800), hingga abad 20 (1900).
Diawali era Wan Khaji Syihabuddin (1750-1860 M) dan Wan Khaji Abdurrohman Klotok (1776-1877 M). Dilanjut era murid-muridnya yang bernama Syekh Qodir Bringan dan Syekh Abdurrohman Stren. Lalu era muridnya yang bernama KH Hasyim Al Fadangi (1850-1942). Kemudian diteruskan era muridnya lagi yang bernama KH Ahmad Basyir Petak (1871-1967).
Nama-nama ulama di atas, dikenal secara konsensus sebagai Wali Keramat. Namun wajib diketahui bahwa mereka tak sekadar meninggalkan hikayat mistis-hiperbolis. Tapi juga mewariskan bermacam keilmuan yang realistis-empiris. Tentu ini sangat penting untuk diutarakan.
Wan Khaji Syihabuddin menulis beberapa kitab. Di antara yang bisa dibaca hingga saat ini adalah Kitab Tafsir Jalalain dan Kitab Hidayatul Insan Li Syarhil Hikam. Sementara Wan Khaji Abdurrohman Klotok menulis puluhan kitab dan risalah. Di antaranya Kitab Muharor, At-Tafriq, Fathul Mannan, Al Mubarikullah, Hadist Arbain Klotok, dan lainnya.
Wan Khaji Abdurrohman Klotok menulis dengan keterangan waktu cukup detail dan lengkap. Kitab-kitab itu ditulis dari periode 1202 H (1788 M) hingga 1292 H (1875 M). Terdiri dari berbagai fan keilmuan mulai fiqih (syariat), aqidah, tasawuf, hadits, dan tentu saja Mushaf Quran.

Murid-murid Wan Khaji Abdurrohman Klotok juga masyhur para penulis kitab. Banyak kitab-kitab yang ditulis para santri Syekh Abdurrohman Klotok kini ditemukan. Ini menunjukan atmosfer dan dialektika ilmiah benar-benar terjaga secara alami.
Di antara santri beliau yang bernama Syekh Qodir Bringan dan Syekh Abdurrohman Stren juga dikenal sebagai ulama penulis produktif. Syekh Qodir Bringan misalnya, menulis kitab Al Muqoyyad. Sementara Syekh Abdurrohman Stren juga meninggalkan karya Tafsir Jalalain.

Selanjutnya, murid Syekh Abdurrohman Stren yang bernama KH Muhammad Hasyim Al Fadangi juga masyhur menulis banyak kitab. Di antaranya kitab Tashrifan Padangan dan Lughoh Jawi Alfiyah Ibnu Malik, keduanya diterbitkan di luar negeri.
Kemudian, murid KH Muhammad Hasyim Al Fadangi yang bernama KH Ahmad Basyir Petak, juga masyhur menulis banyak sekali kitab ilmiah. Di antara karya beliau adalah Kitab Bahjatul Ulum, Al Miftah fi Syarhil Marifatil Islam, dan 2 Jilid lengkap Kitab Syarh Hikam.
Daftar ini masih berlanjut. Murid KH Ahmad Basyir Petak yang bernama KH Zuber Umar Salatiga (1909 -1990), kelak dikenal sebagai ulama besar ahli Falak penulis kitab Khulashatul Wafiyah, sebuah kitab Falak yang jadi rujukan utama para ulama Al Azhar Mesir dan Timur Tengah.

Saking sayangnya KH Basyir Petak pada muridnya itu, beliau menulis sebuah kitab berjudul Kitab Khotbah dan memberikannya pada KH Zuber Umar sebagai hadiah untuk bekal mengembara dalam pencarian ilmu.
Tradisi intelektual bergerak secara musalsal tanpa berhenti. Syekh Zuber Umar adalah santri dari Syekh Ahmad Basyir Petak. Syekh Basyir Petak adalah santri dari Syekh Muhammad Hasyim Al Fadangi. Syekh Hasyim Al Fadangi adalah santri dari Syekh Abdurrohman Stren. Sementara Syekh Abdurrohman Stren adalah santri dari Wan Khaji Abdurrohman Klotok (Sidi Syekh Abdurrohman Klotok).
Jika mau diruntut lagi ke atas, Sidi Syekh Abdurrohman Klotok adalah santri dari sufi besar dan penulis banyak kitab, Sidi Syah Abdullah Dahlawi alias Syekh Ghulam Ali Dahlawi (1743-1824 M), figur ulama besar yang beliau temui saat belajar di Makkah al Mukaromah dan Kalkuta India. Beliau juga santri dari Sidi Syekh Daud Al Fatani (1720-1879 M) dan Sidi Syekh Abdushomad Al Falimbani (1704 -1832 M), yang merupakan ulama besar dan para penulis produktif.
Sanad ilmu dan tradisi kepenulisan Syekh Abdurrohman Klotok bersambung secara tegak lurus pada tiga ulama besar Aswaja. Di antaranya adalah; Sidi Syah Abdullah Dahlawi (1743-1824 M), Sidi Syekh Daud Al Fatani (1720-1879 M), dan Sidi Syekh Abdushomad Al Falimbani (1704-1832 M).
Ini alasan Kota Bojonegoro tak mudah roboh saat diterpa gempa kebudayaan. Sebab, ia berpondasi balungan-dongkel-jati para “intelektual bersarung” yang tak hanya masyhur keramat, tapi juga meninggalkan banyak karya ilmiah.
Sudah sepatutnya atmosfer intelektual di Kota Bojonegoro bisa berkembang pesat. Sebab, sudah sejak ratusan tahun silam nama Bojonegoro masyhur di berbagai belahan dunia, sebagai wilayah yang menetaskan banyak pemikir peradaban.








