Laporan ilmiah penulis Belanda tentang kehidupan Bengawan Jipang (Blora dan Bojonegoro) pada masa silam.
Sejarah wilayah ini dimulai pada abad pertama dari penanggalan Jawa, ketika Kerajaan Medang Kamulan meluas jauh hingga daerah ini. Menurut legenda Jawa, di abad keenam, Browijoyo Sewolo Colo yang dikatakan sebagai titisan dari Arjuna, datang melewati daerah ini untuk kemudian menetap di Singosari.
Ketika Jenggolo terpecah, Kerajaan Ngurawan atau Browerno berada di bawah kekuasaan Mengarang. Namun, sejarah tidak lagi mencatat kelanjutan dari legenda ini. Dikatakan bahwa kerajaan Islam menyerang Majapahit, wilayah ini seakan menghilang, dan memberi kesan adanya sebuah tindakan perlawanan defensif; saat berada di bawah kekuasaan Demak, di bawah Madura, atau kemudian berada di bawah Pajang.
Pada 1596 M, wilayah yang memanjang di lembah Bengawan ini masuk di bawah Mataram, yang kemudian dinamai Bangwetan. Sebagai tempat yang sebagian besar berupa hutan jati yang terjal, wilayah ini seperti menjadi tempat perlindungan bagi banyak pemberontak, yang sangat menderita selama perang Mataram.
Berdasar kontrak 10 Januari 1811, administrasi negri ini berada di bawah pemerintahan Hindia Belanda. Pada masa pemerintahan Inggris (Raffles), dibangunlah sebuah benteng pertahanan yang diberi nama Rajakwesi, ibukota kemudian dipindah ke tepian Bengawan.
Dengan Surat Keputusan tanggal 27 Februari 1828 No 2, pusat pemerintahan Kabupaten Rajakwesi didirikan di desa Kebon Gadung (Bogadung). Dengan keputusan tanggal 25 September 1828 No.14, nama Kabupaten Rajakwesi diubah menjadi Bojanegara. Ibukota baru ini berada di tepi kanan Bengawan, terletak 30 pal dari Tuban, 69 pal dari Rembang dan 79 pal dari Surabaya.
Dari laporan Residen Rembang paruh pertama abad ke 19, didapat informasi tentang Bojanegara (Bojonegoro); sebuah Paseban dan Alun-alun dibangun megah dan besar. Ada sebuah benteng, yang dibangun dari tanah, yang kemudian berfungsi sebagai tempat tinggal para Prajurit. Ada Dewan Pertanahan untuk rakyat, orang-orang Eropa masuk dalam yurisdiksi Semarang. Budidaya utama di sini adalah tembakau.
Tempat terpenting di sepanjang Bengawan di timur (yang dapat dikata sebagai Jipang Hilir), terdapat Badahan, banyak orang Tionghoa yang berada di sini, di bawah pimpinan Letnan Cina Babad Lamongan. Badahan dan Babad, dengan penambahan sebagian wilayah Lamongan, kemudian membentuk sebuah negri tersendiri, bernama Babad.
Pusat keramaian selanjutnya adalah Browerno, sebuah desa yang besar yang dulunya merupakan kedudukan seorang Bupati, kini menjadi di bawah kendali seorang Mantri. Pelem dan Temayang, menempati posisi terakhir sebagi tanah yang mulai berkapur sampai ke Ngumpak, tempat ibukota Rajakwesi lama dulunya berada. Di sana gundukan benteng masih terlihat. Wilayahnya rendah dan tergenang air saat hujan, karena tidak ada sungai di dekatnya.
Bojanegara sebagai kota utama terletak 6 pal sebelah utara Ngumpak, 28 pal dari Badahan, 16 pal dari Pelem, 22 pal dari Browerno 12 pal dari Temajang. Dari Ngumpak ke barat menuju Kebon Agung berjarak 18 pal melalui hutan yang gersang dan tidak berpenghuni.
Kebon Ageng merupakan perkebunan tembakau dan juga dekat dengam aliran sungai yang lebar dan dalam, berkapur, yang hanya mengalirkan air pada musim hujan.
Dari Kebon Ageng sampai kantor Distrik Padangan tanahnya diolah dan banyak penduduk. Padangan adalah ibukota Jipang lama sebelum Rajakwesi, dan terletak di pinggir Bengawan, 24 pal sebelah barat Bojanegara. Padangan kota yang ramai. Dari sini ada jalan menuju utara menuju Rembang. Dulunya merupakan sebuah kabupaten yang besar dan terkenal dalam sejarah, namun sekarang menjadi Kawedanan yang hebat, tempat tinggal seorang Mantri.
Jalan darat dari Padangan ke selatan sampai ke Ngrawu atau Ngrau berjarak 6 pal. Lalu menembus pegunungan kapur, jurang, dan hutan belantara, dengan jarak 15 pal ke Ngawi. Plosorejo, yang berjarak 4 pal dari Ngawi adalah desa perbatasannya.
Terdapat Pasanggrahan terletak di ketinggian bukit dengan pandangan menghadap ke selatan ke dataran Madiun, sebelah timur Gunung Lawu.
Sepanjang tepi kanan Bengawan dari hulu (wilayah Bojonegoro), terdapat tempat-tempat ramai berikut: Padangan (ibukota lama); Teleng, desa yang besar; Kandangan, Mojo, Bojonegoro, Sangahan, Cia, Tambakwalu, Gebang, Duri, Kamolan dan Badahan. Kamolan adalah desa besar, Teleng penuh dengan gumuk pasir dan dangkal, ada pasar besar di hari pasaran Kliwon, banyak perahu Madura berlayar sampai ke desa ini untuk membeli beras.
Panjang Bengawan dari Padangan ke Babad adalah 150 pal.








