Selain Sumber Daya Energi, Bojonegoro juga kuat akan sumber mitos yang sengaja disemai. Tak seperti kabupaten lain yang menggunakan prasasti sebagai penentuan Hari Jadi. Bojonegoro menggunakan mitos. Padahal, Bojonegoro punya puluhan prasasti kuno.
Kuatnya mitos di Bojonegoro, bisa kita lihat pada banyaknya legenda yang berkembang di kawasan Gunung Pandan. Padahal, Gunung Pandan merupakan Pusat Peradaban berbasis literatur sejarah. Ada sangat banyak data literatur yang membahas Puncak Pegunungan Kendeng tersebut.
Baca Juga: Gunung Pandan, Pusat Ibadat Aliran Brahma di Jawa
Gunung Pandan merupakan gunung berapi non-aktif terletak di selatan Kabupaten Bojonegoro, di sisi utara Madiun dan Nganjuk, Jawa Timur. Pembatas 3 kabupaten ini, memiliki ketinggian 897 (MDPL). Gunung Pandan adalah puncak dari rentetan Pegunungan Kendeng.
Menurut mitos yang sengaja disemai, Gunung Pandan merupakan tempat tinggal Eyang Derpo, seorang tabib ahli pengobatan alternatif pada masa Keraton Solo. Selain tak terbukti literatur, mitos ini terasa janggal dan terkesan dibuat belum lama. Sebab, secara periodisasi, Mbah Derpo ratusan tahun lebih tua dibanding Keraton Solo sekalipun.
Literatur Gunung Pandan
Ada sangat banyak sumber literatur membahas gunung yang juga dikenal sebagai “Gunung Pugawat” itu. Dari abad 11 M hingga abad 19 M. Gunung Pandan sudah masyhur, bahkan sebelum Majapahit lahir ke dunia. Data-data berikut ini buktinya. Mari kita awali literatur Gunung Pandan dari abad 19 M dulu.
Pada abad 19 M, pelancong Jawa bernama Raden Mas Arya Purwalelana, melakukan ekspedisi ke 18 titik karesidenan, dari total 22 titik karesidenan yang ada di Pulau Jawa saat itu. Hasil dari perjalanannya itu, ia tulis dalam dua jilid buku berjudul Lampah-lampahipun Raden Mas Arya Purwalelana 1865 dan 1866.
Singkat cerita pada 1822, ia diajak ke Desa Kedhaton di lereng Gunung Pandan. Di sana ia mencatat terdapat makam putri bernama Gendrosari yang berada di Puncak Gunung. Makam itu dikelilingi tanggul setinggi 3 meter, lebar 16 meter, sepanjang sisi tenggara terdapat tanggul begitu presisi. Di lokasi itu, ia juga mencatat keberadaan sebuah patung raksasa yang dikenal dengan nama Mbah Derpo.
Nah, dalam catatan Purwalelana, tak ada istilah Keraton Solo. Purwalelana tentu tahu, sejak Perjanjian Giyanti (1755 M), Bojonegoro merupakan bagian dari Kesultanan Jogjakarta, bukan Kasunanan Surakarta (Keraton Solo). Sampai di sini, terlihat fakta bahwa Mbah Derpo tidak berasal dari Keraton Solo.
Untuk memperkuat fakta di atas, mari kita baca sebuah laporan dari penulis Belanda bernama Roorda Eysinga yang dimuat dalam Nederlands Oost Indie (1857). Dalam laporan ilmiahnya, dia menulis, di puncak Gunung Pandan, ia menemukan banyak benda peribadatan kaum Brahma. Satu paling spektakuler adalah patung Brahma raksasa setinggi 12 hasta (sekitar 14 meter).
Roorda Eysinga memperjelas, warga sekitar menyebut patung Brahma raksasa yang dikelilingi 8 pohon jambe (pinang) itu, dengan sebutan “Kiai Derpo”. Sangat mungkin, Kiai Derpo adalah patung Brahma tertinggi se-Jawa saat itu. Nah, sampai di sini, sudah mulai tahu kan, siapa itu Kiai Derpo. Ya, Kiai Derpo adalah patung raksasa Kaum Brahma Budha Mahayana.
Pendhermaan Raja Erlangga
Sosok Kiai Derpo dan Putri Gendrosari yang misterius di abad 19 M itu, memang bekas arca dan pendhermaan kaum Budha Mahayana yang ada di Puncak Kendeng (Gunung Pandan). Benda itu sudah ada sejak zaman Raja Erlangga Medang Kahuripan. Ini sesuai informasi dari Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M).
Artinya, ratusan tahun sebelum Kerajaan Majapahit (1293 – 1597 M) didirikan pun, Gunung Pandan sudah masyhur sebagai pusat kaum Brahma. Apalagi Kasunan Surakarta (Keraton Solo) yang baru lahir pada 1745 M, tentu belum ada.
Data literatur terkait Gunung Pandan juga dijelaskan secara detail oleh H. Kern dalam Verspreide Geschriften (1917 :96). Menurut Kern yang menerjemah Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M) menyebut, Puncak Kendeng (Gunung Pandan) sebagai pertapaan mewah kaum Brahma yang dibuat oleh Maharaja Erlangga.
Dalam bait nomor 32 Prasasti Pucangan Sanskerta (1041 M), Kern menulis: “tak henti-hentinya masyarakat berlomba-lomba untuk pergi ke sana dan menatap dengan mata gemetar takjub; mereka membawa karangan bunga, dan penuh pujian untuk pangeran yang luar biasa (Raja Erlangga)” — yang telah membangun pertapaan itu.
Dari data di atas amat jelas bahwa figur Kiai Derpo dan Nyai Gendrosari adalah entitas pendhermaan zaman Raja Erlangga (990-1049 M). Keberadaan mereka adalah bukti betapa keberagaman dan khazanah budaya di Nusantara, khususnya Bojonegoro, memang besar dan amat masyhur.
Namun, ada pihak-pihak yang berupaya menyemai mitos dan mengaburkan sejarah besar itu. Dan itu belum lama. Terbukti, pada 1882 M, patung raksasa itu diberitakan hilang tanpa jejak. Ini dijelaskan dalam Laporan Komisi Hindia Belanda tentang Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madoera wilayah Distrik Padangan (1910).

Dijelaskan bahwa patung raksasa itu hilang tanpa jejak sejak 1882. Padahal, ilmuan Belanda, Dr. Brumund, srmpat merekonstruksinya dengan deskripsi sebagai berikut: “Dua puncak berdampingan di Gunung Pandan: satu terlalu curam, tidak mungkin untuk didaki, yang lain memiliki dataran kecil, mungkin sebagian diratakan oleh tangan manusia. Di atasnya duduk patung berlengan dua, melengkung setinggi dua setengah kaki, tanpa hiasan; dua pita yang melekat pada linggani yang luar biasa besar dan alami. Kepala dan priap telah terlempar dari tubuh, tetapi kemudian sudah disatukan. Patung itu disebut Kjahi Deipo oleh penduduk”.
Fakta Ilmiah Puncak Kendeng
Gunung Pandan yang merupakan puncak Pegunungan Kendeng memang sangat menarik, ketika diteliti sampai hari ini, karena banyak pula para ilmuan, peneliti dan arkeolog Belanda kepo dengan kawasan tersebut.
Seperti loporan dalam buku Dinas Arkeologi di Hindia Belanda, Laporan Benda-Benda Kuno, 1922 yang memuat tentang Penemuan Prasasti Sendang Sedati di perbatasan selatan Kabupaten Bojonegoro, sebelah utara Ngluyu Kabupaten Nganjuk.
Laporan ditulis oleh Dr. Frederik David Kan Bosch seorang ilmuwan dan profesor ahli Indologi dan Indonesia yang berkebangsaan Belanda, ketertarikannya dengan berbagai bidang, misalnya agama, arkeologi, dan sejarah seni di India, Indonesia, dan Asia Tenggara.
Setelah Bosch mempelajari bahasa Belanda dan bahasa Sanskerta di Universitas Leiden, di bawah bimbingan Jacob Speyer dan E.M. Hi. Pada 1914 ia diusulkan sebagai asisten arkeolog pada Oudheidkundige Dienst (Jawatan Purbakala) di Hindia Belanda, membantu N.J. Krom.
Pada tahun 1916, Krom kembali ke Belanda, lalu Bosch diangkat menjadi kepala Oudheidkundige Dienst. Ia memimpin jawatan itu sampai ia pensiun pada tahun 1936.
Hasil dari laporannya yang ditulis dengan bahasa Belanda tersebut, memuat tentang penemuan prasasti Sendang Sedati (Oro-ora Sedati), atas bantuan dari Altona seorang Ahli dari Dinas Kehutanan Bodjonegoro masa itu membuahkan hasil.
Ia mencatat terdapat tiga lempeng prasasti yang ditemukan, pada lembar pertama, prasasti dibuat pada tahun 1385 Saka oleh Raja Sri Singhawikrama Wardhana yang nama kecilnya Dyah Suraprabhwa. Sayangnya lempengan kedua hilang, ia menduga berisi tentang daftar orang-orang kerajaan yang ikut menandatangani prasasti tersebut.
Pada Lempeng pertama Prasasti terdapat ukiran seekor burung sedang terbang mengembangkan sayapnya, di atas pohon yang penuh buah dan untaian bunga. Isinya menyebutkan anugerah Raja Dyah Suraprabhawa Śrī Singhawikramawarddhana kepada Sang Aryya Surung, berupa sebidang tanah sima di desa Pamintihan dengan segala haknya akan dimiliki turun temurun tanpa batas. Anugerah tersebut diberikan karena Sang Aryya Surung memperlihatkan kesetiaan tak terhingga kepada raja.
Dalam lempeng ketiga prasasti bagian belakang memuat secara detil mengenahi dengan batas-batas Desa Pamintihan, lempeng inilah yang menjadi dasar penelitian Bosch untuk mengetahui lebih lanjut.
Isi Lempeng ketiga bagian belakang: “Batas desa Pamintihan (adalah sebagai berikut): di sebelah timur berbatasan dengan Plang puncu; di Tenggara di Gigidah; di selatan di Dampak; di Barat Daya di Dampak dan Madewih; di Barat di Gempol; di Barat Laut di Gempol dan Babanger; ke arah timur (lisigarada) ke arah Utara; wilayahnya berbatasan dengan Babanger dan Kabalan (disana); Ke arah Timur ke Timur Laut sampai Kabalan; Ke arah selatan dari Timur Laut ke Timur di Plang puncu”
Dari hasil penelusuran Dr. Bosch yang dibantu oleh Altona untuk mencari keberadaan desa-desa yang tertulis dalam prasasti tersebut. Ia menemukan bahwa Plang Puncu berada di kaki Gunung Puncu di sebelah timur Gunung Pandan. Dari Puncu ada jalan ke arah barat daya menuju Glidah (Gigidah nama dalam prasasti) sebelah Timur Sedati. Sedangkan Desa Dampak dan Madewih belum teridentifikasi.
Menurut Altona Kawasan Desa Gempol sebagian besar hutan yang berada sebelah barat Dodol. Lokasi tersebut dulunya teridentifikasi sebagai lahan pertanian, ia juga menunjukkan beberapa sisa pipa tua. Kawasan sebelah utara Gempol adalah Banger (Babanger nama dalam Prasasti) yang kini terbelah dua oleh Dusun Betek. Bahkan Kabalan dapat ditemukan di salah suatu bagian hutan yang masih dikenal dengan nama tersebut, dan utara desa Desa Sekidang terdapat Gunung Sekidang.
Dengan demikian, apabila sudut tenggara berada di Kawasan Glidah (Gigidah), maka batas wilayah bebas berada di bagian barat, utara dan timur berhasil ditentukan cukup akurat. Bahkan batas selatan memungkinkan memanjang dari titik tersebut ke arah barat sampai Gempol yang sama tingginya. Dan terdapat daerah bersih berupa sebidang tanah memanjang 12 K. M arah barat, sekitar 4 K. M. Arah N-S, namun nama Pamintihan juga belum dikenal di wilayah itu.
Begitulah luas sawah Pamintihan, yang merupakan daerah kantong-kantong di tanah Plang puncu dan tanah Kabalan. Sekarang ini semua demi kepentingan Pamintihan, tanpa perubahan. Ada sawah Plang puncu yang digabungkan di perbatasan Pamintihan, 3 gambut yang ditumbuhi berbagai jenis kayu sekaligus tumbuhan di perbatasan barat.








