Dalam sepekan terakhir, Komunitas Pegiat Budaya dan Sejarah Lokal selalu melakukan ekspedisi ke sejumlah lokasi yang diduga sebagai situs bersejarah. Pada Sabtu lalu, kami berkunjung ke Situs Pendeman Gong yang berlokasi di lereng Gunung Peleng, Temayang, Bojonegoro.
Gunung Peleng Temayang merupakan anak gunung yang menjadi bagian penting dari hamparan riset bidang Heritage Ekosistem Pandan. Keberadaan Gunung Peleng, selain menunjukan lebarnya Ekosistem Pandan, juga membuktikan besarnya peradaban yang pernah ada di kawasan tersebut.
Dalam peta tahun 1875, wilayah Gelisihan, Kedung Gampeng, dan Gedangsari merupakan satu kesatuan teritorial yang saling terhubung. Situs Pendeman Gong, yang berada di perbatasan Desa Sambungrejo dan Kedung Gampeng, menyimpan berbagai peninggalan budaya yang menarik. Situs ini terkenal sebagai tempat ditemukannya berbagai artefak, seperti tembikar, gerabah, hingga prasasti batu yang kini tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan.

Berdasarkan wawancara dengan warga setempat, Situs Pendeman Gong memiliki nilai kultural yang kuat. Dulu, masyarakat sekitar sering membawa sesaji ke lokasi ini untuk menggelar hiburan tradisional seperti Langen Tayub, sebuah tarian rakyat. Tempat ini dianggap keramat, sehingga tidak sembarang orang berani memasuki kawasan tersebut.

Selama proses eksplorasi, kami menemukan sebuah prasasti batu dalam keadaan terpecah menjadi tiga bagian dan menyatu dengan akar dua pohon besar, yaitu pohon asam dan trenggulun. Prasasti ini memiliki ukuran tinggi sekitar 2 meter dan lebar 1 meter, bagian bawah prasasti dihiasi dengan ukiran antefik, yang diduga menyimpan informasi penting tentang budaya masa lampau. Namun, kondisi prasasti sangat memprihatinkan. Tulisan yang terukir di batu sudah aus dan sulit terbaca, sementara akar pohon terus merusak strukturnya.

Selain prasasti, di sekitar Situs Pendeman Gong juga ditemukan pecahan tembikar, gerabah, dan kepala arca terakota. Penemuan ini menunjukkan bahwa kawasan lereng Gunung Peleng pernah menjadi pusat peradaban yang cukup maju. Tidak jauh dari lokasi prasasti, terdapat sebuah sendang dengan mata air besar yang hingga kini masih dimanfaatkan warga untuk irigasi lahan pertanian.
Lokasi ini tak jauh dari keberadaan Prasaati Jono, yang merupakan prasasti pada era Medang Pu Sindok. Penemuan Prasasti Gisik ini menjadi temuan berharga bagi kami, yang membuktikan sekaligus memperkuat dugaan bahwa kawasan Bojonegoro selatan, sudah menjadi pusat peradaban manusia, sejak zaman Medang Kuno.
Bahkan keberadaan prasasti dan artefak lainnya, juga memberi gambaran tentang kehidupan masyarakat masa lampau di wilayah Temayang. Namun, kondisi prasasti yang rusak akibat faktor alam dan kurangnya perawatan mengharuskan pemerintah dan masyarakat untuk segera melakukan upaya pelestarian.
Dengan demikian, beberapa temuan ini tidak hanya mengingatkan kita akan kekayaan budaya nenek moyang pada zaman Medang, tetapi juga menjadi tantangan bagi kita semua untuk melestarikan warisan sejarah yang tak ternilai harganya.








