Paris, Musim Dingin 1943
Hari itu, angin yang menggigit menyelinap melalui jendela pecah Bibliothèque Nationale, Paris. Seorang anak muda Mesir berjanggut tipis dengan sorot mata yang tak pernah lelah berdiri di depan rak buku asing. Tangannya gemetar. Bukan karena dingin. Namun, karena antisipasi. Di depannya terbentang katalog naskah-naskah orientalis yang sudah lapuk, bertuliskan angka-angka kode yang seolah menyimpan bahasa rahasia.
“Di mana kau bersembunyi, wahai mutiara al-Muhasibi?” gumam dalam hati anak muda itu. Anak muda itu sedang memburu Risâlah al-Mustarsyidîn, sebuah kitab dari abad ke-9 M karya seorang sufi legendaris, al-Harits al-Muhasibi, sebuah manuskrip tentang penyucian jiwa yang nyaris hilang ditelan zaman. Namun, ini bukan pencarian biasa. Paris saat itu sedang dikepung Nazi. Setiap langkahnya diawasi. Setiap nafasnya berisiko.
Ketika pertama kali tiba di Paris, anak muda itu mengira, ia hanya akan berdebat dengan filsafat Barat. Tak disangka, ia justru berhadapan dengan mesin perang Hitler. Perpustakaan-perpustakaan dikosongkan. Naskah-naskah Islam disegel dengan stempel “Propaganda Oriental” oleh tentara Jerman. Namun, di tengah kekacauan itu, seorang profesor tua berbisik kepadanya, “Al-Muhasibi? Cari di BNF. Namun, hati-hati. Mereka membakar apa saja yang berbau Timur.”
Petunjuk pertama datang dari katalog tua karya Ignaz Goldziher, seorang orientalis Yahudi kondang yang koleksinya dirampas Nazi. Di sana, tertulis satu baris secara samar: “Al-Mustarsyidin – MS Arabe 1352 – Gudang 7.”

Dengan surat akses “Penelitian Filsafat Aristoteles”—anak muda itu menyusuri lorong bawah tanah BNF yang lembap. Bau apek kertas lapuk dan jamur menusuk hidung. Seorang petugas bernama Claude (nama samaran), mantan pustakawan Yahudi yang wajahnya penuh luka bakar, membimbingnya diam-diam. Ucapnya lirih, “Mereka menyimpan naskah-naskah Islam di ruang boiler tua. Kata mereka, itu ‘karya-karya sampah’!”
Di ruang sempit yang dipenuhi pipa berkarat, anak muda itu melihat tumpukan naskah teronggok seperti mayat. Di antara debu dan laba-laba, sebuah kulit buku yang hampir lepas menarik perhatiannya. Namun, tiba-tiba terdengar derit pintu. Claude mendorongnya ke belakang rak. “SS!” bisiknya sangat panik.
Dari celah kayu, anak muda itu melihat dua tentara Nazi melemparkan tumpukan manuskrip Yahudi ke dalam karung. Untuk dibakar esok hari. Ketika para serdadu pergi, Claude membawanya ke sudut paling gelap. Dari balik batu bata yang longgar, ia mengeluarkan sebuah bungkusan kain linen. “Ini yang kau cari,” katanya. Sambil membuka lipatan itu dengan hati-hati.
Betapa bahagia anak muda itu, ketika apa yang sedang ia buru berhasil ia temukan: Risâlah Al-Mustarsyidîn, sebuah karya seorang sufi kondang: al-Harits al-Muhasibi. Kertasnya menguning, tinta Arabnya memudar, tapi kata-katanya masih bernyawa, “Wahai pencari kebenaran! Janganlah kau terpedaya oleh amalmu sendiri!”
Tangan anak muda itu bergetar dan gemetar. Di halaman terakhir, ada cap Perpustakaan Cordoba-jejak terakhir sebelum kitab ini dibawa ke Prancis oleh tentara Napoleon. Claude tersenyum getir, “Mereka bisa membakar buku. Namun, mereka tidak bisa membakar kebijaksanaan.”
Selepas kejadian itu, selama berminggu-minggu, anak muda itu menyalin kitab itu dengan tangannya di kamar kosnya yang dingin. Setiap malam, ia bekerja di bawah cahaya lilin, khawatir lampu minyaknya menarik perhatian patroli malam. Suatu hari, seorang teman sekamar Prancisnya-anggota Resistance-memperingatkan, “Gestapo sedang menggeledah rumah-rumah warga Timur Tengah. Kau harus segera pergi!”
Dengan menyelipkan salinan naskah di balik baju, anak muda itu melarikan diri ke Lyon, dengan menggunakan kereta barang: disembunyikan di antara karung gandum oleh para petani simpatisan.
Beberapa tahun kemudian, anak muda itu berhasil meraih gelar PhD, dengan disertasi berjudul “Al-Muhasibi: Un Mystique Religieux et Moraliste” (Al-Muhasibi: Seorang Sufi Religius dan Moralis), di bawah bimbingan seorang orientalis kondang pakar tasawuf: Louis Massignon. Sementara itu Claude, sang pustakawan, tewas di kamp konsentrasi. Namun, di rak khusus BNF yang kini terang benderang, sebuah label baru tertempel: “MS Arabe 1352 – Diselamatkan oleh Abdul Halim Mahmud, 1941.”
Abdul Halim Mahmud? Siapakah ia?
Ia, anak muda itu, adalah Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud, Syaikh al-Azhar al-Syarif ke-40. Tiga puluh tahun kemudian dari kejadian itu, sebagai Syaikh al-Azhar al-Syarif, Prof. Dr. Abdul Halim Mahmud memerintahkan penerbitan edisi kritis Risâlah al-Mustarsyidîn. Dalam pengantarnya, ia antara lain menulis, “Kitab ini selamat dari perang, dari api, dari kelalaian manusia. Kini, ia kembali untuk menyelamatkan kita.”








