Selain mengelola minyak bumi, EMCL juga melestarikan keberadaan air. Upaya ini, mengingatkan kita pada falsafah ekologis kuno dari Bojonegoro: Lengo Urup Banyu Urip.
Operator Lapangan Banyu Urip dan Kedung Keris, ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) mengajak awak media di Kabupaten Bojonegoro ngabuburit bareng, pada Rabu (26/3/2024). Acara bertajuk ExxonMobil Cepu Limited-SKK Migas Ngabuburit Bareng Media Bojonegoro itu, diikuti puluhan jurnalis dari berbagai media di wilayah berjuluk Kota Migas tersebut.
Dalam momen asyik jelang Maghrib itu, para awak media disambut langsung External Engagement and Socioeconomic Manager EMCL, Tezhart Elvandiar. Momen menanti buka puasa ini kian menarik karena pria akrab disapa Etang itu, bercerita banyak tentang sejarah, bahkan kegiatan EMCL di Bojonegoro.
Cerita paling menarik, tentu tentang bagaimana EMCL mengelola minyak bumi di Indonesia, yang kini sudah berusia 125 tahun. Selain itu, Etang juga bercerita bagaimana EMCL membangun menara air sebagai bagian dari gerak keseimbangan ekologis.
“Jadi dulu EMCL itu perusahaan gemuk (grease), dan kini terus berkembang menjadi perusahaan minyak internasional” Ucap Etang sambil tersenyum.
Etang menceritakan kehadiran EMCL di Indonesia, khususnya di Bojonegoro, secara runtut. Menurutnya, perusahaan Migas Dunia yang berpusat di Irving, Texas, Amerika Serikat ini, telah lebih dari 125 tahun beroperasi di Indonesia. Sementara di Bojonegoro, kegiatan EMCL dimulai pada 2005.
ExxonMobil mulai hadir di Indonesia pada 1898 M, dan memulai kegiatan eksplorasi pada 1912 M. Perkembangan ExxonMobil di Indonesia, menurut Etang, dapat dikatakan sangat baik. Terbukti, pada 1992, ExxonMobil berhasil mencapai produksi 500 juta barel dan terus meningkat pada tahun-tahun berikutnya.

Pria kelahiran Jakarta yang pernah menghabiskan masa kecil di Kota Bekasi tersebut juga menjelaskan, di Indonesia, ExxonMobil telah berkembang dengan beberapa anak perusahaan; di antaranya; PT ExxonMobil Lubricants Indonesia (PT EMLI) yang didukung pula dengan fasilitas produksi di beberapa tempat di Indonesia.
Pada 2005, ExxonMobil membentuk anak perusahaan yang bergerak di bidang eksplorasi dan eksploitasi Migas, yakni Mobil Cepu Limited (MCL), untuk mengelola Blok Cepu, yang kemudian berubah nama jadi ExxxonMobil Cepu Limited (EMCL). Kontrak kerja sama (KKKS) Blok Cepu yang ditandatangani pada 17 September 2005, mencakup wilayah kontrak Cepu Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Cerita Mengelola Minyak Bumi
Etang bercerita, proyek Banyu Urip merupakan pengembangan awal di bawah Wilayah Kontrak Cepu. Produksi awal dimulai pada Desember 2008, melalui Fasilitas Produksi Awal (Early Production Facility/EPF) yang berproduksi 20.000 barel minyak per hari (2009). Pada produksi puncaknya, Banyu Urip memproduksi 165.000 barel minyak per hari (2016).
Lebih jauh Etang menceritakan, selain di Lapangan Banyu Urip, pada 2019, EMCL melakukan pengembangan eksplorasi di Lapangan Kedung Keris (Leran dan Sukoharjo Kalitidu Bojonegoro). Sampai kini, kata Etang, produksi Kedung Keris berjalan baik dengan lebih dari 10 ribu hingga 21 ribu barel per hari, yang minyaknya dialirakn ke Central Processing Facility (CPF) di Lapangan Banyu Urip Gayam.
“Selain Lapangan Banyu Urip, jadi EMCL juga melakukan pengembangan eksplorasi ke Lapangan Kedung Keris pada 2019 lalu” Imbuh Etang.
Sejak 2008 hingga 2023, kata Etang, total investasi di Lapangan Banyu Urip mencapai Rp 57 triliun atau sekitar 4 miliar dolar AS. Dari total produksi lebih dari 660 juta barel minyak, kontribusi terhadap pendapatan negara — dalam bentuk penerimaan pemerintah dan pajak — mencapai Rp 442 triliun atau sekitar 29,5 miliar dolar AS.
Cerita Membangun Menara Air
Selain melakukan eksplorasi (mengelola) minyak bumi, EMCL juga memiliki program Pengembangan dan Pelibatan Masyarakat (PPM), dengan fokus pada tiga saka utama; Pendidikan, Kesehatan, dan Pengembangan Ekonomi. Program ini mencakup wilayah Bojonegoro, Tuban, dan Blora dengan dampak nyata bagi masyarakat.
“Sebagai contoh, program Kesehatan diinisiasi EMCL adalah penyediaan air bersih yang sejak 2008 hingga 2023 telah menyediakan akses air bersih bagi 10.156 KK di 40 desa di Tuban, Bojonegoro, dan Blora” ucap Etang.
Etang bercerita, dalam rangka penyediaan air bersih, EMCL telah membangun 56 menara air (tandon), 119.503 meter jaringan air bersih, serta membuat lebih dari 10.000 sambungan rumah. Program penyediaan air bersih, kata Etang, menjadi gerak ekologis perusahaan yang cukup diprioritaskan.
Lima menit sebelum adzan menjelang, Etang mengajak para jurnalis untuk menikmati buka bersama. Cerita Etang tentang bagaimana EMCL mengelola minyak bumi dan membangun menara air di Bojonegoro, tentu mengingatkan pada falsafah keseimbangan ekologis Lengo Urup Banyu Urip, sebuah kaidah yang lahir di Bojonegoro.







