Peradaban Bojonegoro terdiri atas fragmen daya hidup masyarakat Pegunungan, Hutan, dan Bengawan. Ketiganya membentuk konstelasi sumbu kosmologis yang saling berkait, menyusun keselarasan.
Setiap wilayah memiliki istiadat dalam memandang konsep kosmologis sebagai perpaduan antara Sumber Daya Alam (SDA) dan keyakinan akal budi manusia. Sumbu Kosmologis, adalah susunan fragmen atas konstelasi manusia dengan SDA. Bojonegoro, termasuk wilayah yang ngugemi istiadat kosmologis tersebut.
Sumber Daya Alam Bojonegoro yang terdiri dari Pegunungan, Hutan, dan Bengawan, membentuk garis imajiner berupa Khat Al Istiwa (khatulistiwa) atau garis lurus yang menyusun keselarasan antara dinamika hidup masyarakat Pegunungan, Hutan, dan Bengawan. Keselarasan ekologis ini, berlangsung selama ribuan tahun silam, sebagai pranata hidup.
Pembuatan garis imajiner, tentu dilakukan di banyak tempat di di dunia ini, sebagai landasan filosofis dalam membangun sebuah peradaban. Line of Paris Meridian dan Greenwich Meridian adalah contoh bagaimana manusia memang punya kecenderungan membuat garis imajiner.
Secara lebih liar, dalam The DaVinci Code (2003), Dan Brown bahkan membuat garis imajiner yang ia sebut sebagai Garis Mawar (Rose Line). Meski sekadar lajur fiksi yang ditulis untuk kebutuhan novel, setidaknya telah menunjukan bahwa manusia, sekali lagi, memang suka membuat garis imajiner.
Jauh sebelum Eropa melakukan itu, Nusantara sudah mengenal konsep mandala — kosmos penghubung antar titik-titik tertentu. Di Bali, metode ini disebut Tri Hita Karana. Di Jogjakarta disebut Sumbu Filosofis. Bojonegoro pun ngugemi metode ini. Bedanya, ia jarang diceritakan karena masih inferior.
Saat ini, ketika inferioritas akibat kolonial digempur habis-habisan oleh Gerakan Dekolonisasi, bermacam ugeman khas Njipangan (Bojonegoro) mulai bermunculan. Mandala Bhinnasrantaloka adalah satu di antara contohnya. Di mana, konsep wasatiyah (keseimbangan) sudah mendarah daging bagi masyarakat Bojonegoro.

Bhinnasrantaloka sebagai patron ideologi, bermakna keseimbangan dan harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan. Bhinnasrantaloka menggambarkan keselarasan antara manusia dengan alam. Dalam konteks yang lebih luas; antara masyarakat yang hidup di pegunungan, hutan, dan sungai Bengawan. Tiga entitas alam ini, yang menjadi rangka utama kehidupan masyarakat Bojonegoro.
Peradaban Gunung Pandan
Di sisi selatan Bojonegoro, Gunung Pandan sebagai puncak Pegunungan Kendeng — sekaligus satu-satunya gunung berapi kuno yang berada di barisan Kendeng — telah membangun pranata masyarakat bercorak agraris pertanian. Lebih jauh kita bisa membacanya dalam artikel Gunung Pandan ini.
Diperkirakan sejak abad 5 M, era sebelum Hindu Budha, kawasan ini sudah menjadi pusat peradaban kuno Jawa. Dibuktikan banyaknya Lingga Patok yang menjadi identitas masyarakat pra-Hindu Budha. Kemudian pada abad 11 M, kawasan ini disinggung Prasasti Pucangan (1041 M) sebagai Pugawat pendhermaan Raja Airlangga.

Dalam konteks peradaban, Gunung Pandan bukan sekadar tempat. Tapi sebuah ekosistem peradaban yang membangun pakem dimensi hubungan timbal balik antara manusia dengan tatanan alam di sekitarnya.
Sehingga, manusia dan alam memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang amat kuat. Gunung Pandan memiliki puluhan anak gunung berupa perbukitan tersebar di kawasan Gondang dan Sekar yang, tentu membawa pengaruh bagi cara hidup masyarakat sekitar.
Peradaban Alas Gebang
Di sisi tengah Bojonegoro, terdapat sebuah kawasan bernama Alas Gebang, savana hutan maha luas yang dipenuhi tanaman Jati Alam dan Gebang (palma familia). Dalam konteks Mahabharata, Alas Gebang kerap dikaitkan dengan Kandhawaprastha, hutan yang tanahnya mengandung energi api.
Baca Juga: Sendangharjo, Peradaban Alas Gebang Bojonegoro
Begitupun, kawasan yang kini menjadi Bubulan, Ngasem, Gayam ini, dikenal memiliki energi api di dalam tanahnya. Hingga kini, di sejumlah titik di kawasan Alas Gebang Bojonegoro ini, penggalian sumur air kerap dikejutkan munculnya percikan api dari dalam tanahnya.

Alas Gebang yang berada di tengah-tengah wilayah Bojonegoro ini, menjadi simbol kawasan para Begawan Citralekha — mereka yang sudah mengenal tanaman gebang serta daun lontar sebagai media tulis menulis. Terbukti, di wilayah Alas Gebang, khususnya kawasan Sendangharjo, banyak ditemui bermacam piranti kuno terbuat dari perunggu, beserta keramik Cina dari abad 10 M.
Alas Gebang sebagai oikos (ruang) manusia, membentuk corak hidup masyarakat agraris. Mereka yang mampu membangun ketahanan pangan berbasis lokasi setempat. Sampai saat ini, bermacam olahan kuliner berbasis Gebang masih ditemui. Bahkan, jejak tradisi agraris berbasis budaya tanam-menanam padi juga terus dilestarikan.
Peradaban Bengawan
Di sisi utara Bojonegoro, membentang bukit Bale Lantung — perbukitan kapur mengandung lengo, yang berbatasan dengan Bengawan. Wilayah yang dikenal sebagai Sotasrungga ini, dikenal sebagai pusat maritim-sungai. Jejak peradaban di kawasan ini tercatat sejak abad 10 M.
Baca Juga: Bojonegoro Perahu Peradaban
Dibuktikan pada Prasasti Sangsang (907 M) dan Prasasti Telang (903 M) yang sudah menyebut produksi minyak bumi, serta beberapa tempat penting yang dimuliakan Raja Dyah Baletung (898-910) seperti Sotasrungga, Telang, Pagerwesi, hingga Sima Pungpunana.

Kewilayahan Sotasrungga, adalah tanah kuno yang punya pengaruh besar dalam bidang maritim sungai Bengawan. Terbukti adanya penemuan perahu kuno di Desa Padang Trucuk. Perahu bertarikh 1600 M itu, menjadi sedikit bukti atas peradaban itu. Peradaban Bengawan, telah menjadikan Bojonegoro sebagai kawasan penentu denyut nadi Pulau Jawa.
Sebab, ia menjadi nagapura (gerbang naga) masuknya bermacam ideologi dan inovasi dari pesisir ke arah pedalaman Jawa. Peradaban Bengawan Bojonegoro, dicatat dalam banyak literatur. Baik era Medang, Medang Kahuripan, Jenggala, maupun Singashari, sebagai kawasan penentu gerak laju peradaban Jawa.
Mandala Bhinnasrantaloka
Khot al Istiwa (khatulistiwa), adalah garis lurus yang menjadi penghubung sejumlah titik peradaban. Dalam kaitan Bojonegoro, garis imajiner ini menghubungkan, sekaligus menyelaraskan antara kawasan Pegunungan, Hutan, dan Bengawan. Tentu saja, ini menjadi penting dalam kaitan proses pembangunan.
Spirit Bhinnasrantaloka yang bermakna “pemberdayaan berbasis kearifan lokal” mengajarkan secara tegas bahwa pembangunan Bojonegoro harus mengarusutamakan partisipasi masyarakat. Sebab, Bhinnasrantaloka berorientasi lokalitas. Tidak bisa membangun Pegunungan dengan cara Bengawan ataupun sebaliknya.
Bhinnasrantaloka terbangun atas sejumlah pilar penting seperti Bhinna (pembinaan, empowering), dimana para pemangku kebijakan membuka ruang aspirasi dan dialog; Sranta (keuletan), kontinuitas dalam melibatkan dan mengarusutamakan partisipasi masyarakat; serta Loka (tempat) yang harus berbasis kearifan lokal.
Peradaban Bojonegoro memang terdiri atas fragmen daya hidup masyarakat Pegunungan, Hutan, dan Bengawan. Ketiganya membentuk konstelasi kosmologis yang dikenal dengan Mandala Bhinnasrantaloka — sebuah mekanisme penyelaras peradaban.
** istilah Bhinnasrantaloka berasal dari potongan kalimat Swapitama Hastawana Bhinnasrantalokapalaka yang tertera dalam Prasasti Maribong (1264 M)








