Meski kerap dilupakan dalam diskursus kebudayaan, Desa Pungpungan Kalitidu merupakan bagian penting dari zona Peradaban Sangsang, Kerajaan Medang. Kawasan sungai yang diistimewakan Raja Dyah Baletung (898 -910 M).
Secara geografis, Desa Pungpungan Kecamatan Kalitidu berada di sisi barat laut Kota Bojonegoro, dengan lokasi terbagi menjadi dua bagian. Utara dan selatan. Kawasan sebelah utara didominasi para pedagang, kawasan sebelah selatan didominasi para petani — corak masyarakat maritim-agraris.
Selama ini, Desa Pungpungan seperti tak memiliki narasi peradaban. Cenderung tak dilibatkan dalam diskursus kebudayaan. Padahal secara ilmiah, Pungpungan adalah perlintasan peradaban. Secara empiris, Pungpungan memiliki rekam jejak sebagai teritorial penting sejak periode 900 M.
Data Kesekretariatan Riset Kearifan Lokal (KerisKeloka) menyebut, Pungpungan satu di antara kawasan sungai Bengawan yang menyimpan jejak Peradaban Sangsang, Kerajaan Medang. Lokasinya tak jauh dari Pagerwesi, Killipang, dan Padang —- yang merupakan bagian penting dari ekosistem Sotasrungga.
Baca Juga: Sotasrungga, Jejak Kemakmuran Bojonegoro
Sumber lokal menyatakan, nama Pungpungan berasal dari entitas pohon Pung, yang dulu banyak dijumpai di kawasan ini. Karena menjadi habitat pohon Pung, tempat ini pun dikenal dengan nama Pungpungan (panggone wit Pung/tempat pohon Pung). Masyarakat menyebut, Pohon Pung adalah bahan utama papan kayu untuk pembuatan perahu Bengawan.
Baca Juga: Bojonegoro, Perahu Peradaban
Sayangnya, pohon Pung yang disebut-sebut sebagai cikal bakal nama Desa Pungpungan itu sudah tak ada. Salah satu — untuk tak mengatakan satu-satunya — sisa pohon Pung adalah serpihan batang pohon Pung sebesar kaki orang dewasa, yang kini disimpan sebagai artefak di Balai Desa.

Dalam konteks tertentu, folktale dan cerita rakyat adalah sedimentasi fakta sejarah. Hanya, folktale semacam ini kadang ditutup narasi kolonial, dibonsai dalam “dongeng” yang lebih baru, agar kebesaran aslinya tak diketahui. Hal ini terjadi di mayoritas wilayah Pulau Jawa. Termasuk Bojonegoro.
Sima Pungpunana
Untungnya, fakta masa silam terkait Pungpungan masih bisa dilacak lewat literatur, yang menyebut kawasan ini sebagai peradaban perahu kuno. Pungpungan merupakan bagian penting dari teritorial Peraban Sangsang, Kerajaan Medang. Sebuah imperium kuno di bawah pemerintahan Raja Dyah Baletung (898 -910 M).
Kerajaan Medang (732–1016 M) adalah Kemaharajaan kuno Jawa, yang dilanjutkan Medang Kahuripan (1019–1046 M), diteruskan Jenggala (1042–1135 M), dan dilanjut Singashari (1222–1292 M). Dari era Singashari ini, kelak melahirkan Wangsa Rajasa, dan baru memunculkan Kerajaan Majapahit (1293–1527 M) di masa lebih belakangan.
Sama seperti Pagerwesi dan Kallipan, Pungpungan juga dipahat pada Prasasti Sangsang (907 M), yang dirilis Raja Dyah Baletung (898-910 M). Kawasan Pungpungan dikenal sebagai zona perlintasan perahu. Sejak periode 900 M, wilayah Pungpungan sudah menjadi kawasan utama yang dipenuhi para Begawan dan Brahmana.
Prasasti Sangsang (907 M) menyebut wilayah Pungpungan sebagai Sima Pungpunana. Kawasan penting yang kala itu, dipimpin seorang samgat Kalangvungkal bernama Pu Layang. Serupa Pu Yayak (Pagerwesi), figur Pu Layang (Pungpunana) adalah Begawan yang sangat dihormati penguasa Medang, Raja Dyah Baletung.
Baca Juga: Pagerwesi, Fakta Peradaban Kuno Bojonegoro
Kawasan Pungpungan adalah pusat perlintasan ekonomi yang secara geografis, membentuk sebuah mandala antara i Pagerwsi dan Vanua Kallipan. Sima Pungpunana menjadi bagian penting dari zona segitiga Peradaban Sangsang, titik yang mempertemukan sumbu Pagerwsi dan Kallipan.

Dalam buku Peradaban Nggawan: Kronik Ekologi Bengawan (2025), penulis menjelaskan secara detail bahwa Sotasrungga (Kedewan, Malo, Kalitidu, dan Trucuk) adalah “Telang” abad 10 M — Bale Lantung dan Lemah Citra yang dimuliakan Raja Dyah Baletung, berkat peran pentingnya sebagai denyut nadi perekonomian Jawa.
Hujung Galuh dalam Prasasti Sangsang, adalah muara laut yang melintas ke arah barat. Kelak pada abad 12 M, lintasan ini dikenal dengan Jonggalah (Jenggala). Kolonial (Londo Jowo) memang berupaya membelokkan narasinya ke arah Brantas, namun selalu gagal. Sebab faktanya, Bhinnasrantaloka Maribong (penyatu Jenggala dan Panjalu), berada di lintasan sungai ini.
Lemah Citra: Sedimentasi Peradaban
Sejak abad 10 M, sekitar 400 tahun sebelum zaman Majapahit, wilayah Pungpungan sudah dipenuhi banyak manusia berperadaban tinggi. Mulai dari Gusti, Kalang, Variga, Kalima, hingga Vinkas — yang merupakan status sosial tinggi pada zaman Kerajaan Medang.
Peradaban memang tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berubah bentuk, dengan esensi yang sama. Sampai kini, Desa Pungpungan masih ada. Secara geografis, lokasinya tak banyak berubah. Sisi utara menggambarkan budaya maritim sungai, ditandai banyaknya para pedagang. Sementara sisi selatan, didominasi masyarakat petani.
Data peta kolonial, baik dari periode 1800 M ataupun periode 1900 M, menunjukan bahwa wilayah Pungpungan memang membentang panjang ke arah selatan. Dalam konteks demografi, lokasinya terbagi menjadi dua pedusunan; Dusun Pungpungan di utara, dan Dusun Mbilo di wilayah selatan. Dua pedusunan ini, sampai saat ini masih ada, dan menjadi satu kesatuan Desa Pungpungan.
Pungpungan sebelah utara, yang berbatasan dengan Bengawan, merupakan kawasan maritim sungai, pusat perdagangan dan pendidikan. Realitas ini sudah jadi corak khas masyarakat Njipangan (Bojonegoro). Utamanya “Bale Kambang” yang jadi identitas perdagangan perahu.
Mayoritas wilayah maritim sungai Bojonegoro — membentang dari Jipanghulu sampai Jipanghilir — memang terdapat titik-titik pusat pendidikan, yang berada tak jauh dari lintasan sungai. Baik berupa pendidikan era Hindu-Budha (Kadewaguruan), maupun era Islam (Pesantren).
Umumnya kawasan maritim sungai, di wilayah Pungpungan juga masih terdapat titik-titik sempadan sungai yang dikeramatkan. Hal ini, tanpa disadari, berlangsung dari zaman ke zaman, yang jika hilang pun, akan berganti dengan sendirinya, sebagai bagian dari pasak pertanda peradaban.

Dalam konteks Desa Pungpungan, pasak peradaban berupa pohon-pohon tua, memang sudah jarang dijumpai, namun tetap ada di sempadan sungai-nya. Meski kini fungsi lokasinya sudah berganti, setidaknya titik-titik semacam ini menjadi pertanda, bahwa alam lebih tua daripada manusia.
Sementara di kawasan sisi selatan Desa Pungpungan, tepatnya Dusun Bilo Desa Pungpungan, didominasi wilayah agraris pertanian. Sampai saat ini pun, Dusun Mbilo Pungpungan masih dikenal sebagai lumbung padi, pusat pertanian desa. Sebagai wilayah agraris, Dusun Mbilo di kawasan selatan Desa Pungpungan, menjadi sumbu penyeimbang maritim sungai yang berada di utara Pungpungan.
Jejak kuno Dusun Bilo Pungpungan masih tampak hingga kini. Bentangan sawah yang maha luas di kawasan ini, semula terdapat banyak “puthuk genengan” atau perbukitan. Meski kini rata dengan tanah akibat penggarapan sawah, istilah “geneng” tidak benar-benar hilang. Buktinya, ia tersimpan sebagai toponim di lokasi tersebut.
Di kawasan Genengan Pungpungan, terdapat satu titik sisa peradaban yang masih dikeramatkan. Sebuah pohon berada di tengah petak sawah bertopografi perbukitan. Meski kini sudah mulai rata dengan tanah, masyarakat menyebut titik kawasan ini dengan istilah Genengan (perbukitan). Di lokasi ini, terdapat Situs Grumbul.

Selain puthuk genengan, satu bukti penting keterkaitan Pungpungan dengan Peradaban Medang adalah keberadaan sumber mata air asin yang hingga kini masih ada. Bukit genengan dan sumber mata air asin, adalah entitas alam yang disinggung berbagai literatur sebagai ciri utama Lemah Citra — pamor peradaban Kerajaan Medang.
Corak geografis Pungpungan, hampir sama dengan kawasan ekosistem Sotasrungga — Telang Malo hingga Pagerwesi Trucuk — yang dipenuhi perbukitan kapur, sumber lengo, dan sumber mata air asin, sebagai nisbat utama Lemah Citra, pusat keberadaan para Citralekha Kerajaan Medang.
Baca Juga: Trembes Malo, Jejak Para Citralekha
Desa Pungpungan Kalitidu merupakan bagian penting dari zona Peradaban Sangsang, Kerajaan Medang — kawasan sungai yang diistimewakan Raja Dyah Baletung (898 -910 M). Meski sudah tertumpuk berbagai lipatan zaman, setidaknya jejak-jejak pamor-nya masih tampak, sebagai denyut nadi kehidupan masyarakat setempat.








