Berbuatlah kalian kebaikan, demi keselamatan diri kalian sendiri!
“Alhamdulillah, Allah Swt. masih mengaruniai kesempatan untuk melaksanakan shalat Jumat selepas puasa Ramadhan tahun 1446 H ini.”
Entah kenapa, dini hari tadi, ketika saya sedang merapikan buku-buku yang bertebaran di meja kerja saya, tiba-tiba saya tersadarkan jika hari Jumat kemarin merupakan hari Jumat pertama di bulan Syawwal tahun 1446 H ini. Dan, tiba-tiba pula, benak saya “melayang-layang” jauh: ke Madinah al-Munawwarah.
Ya, “melayang-layang” sambil membayangkan Rasulullah Saw. ketika sedang berkhutbah Jumat dan melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya di Lembah Ranuna, Madinah. Ya, untuk pertama kalinya beliau berkhutbah dan melaksanakan shalat Jumat.
Kini, bagaimanakah sejatinya kisah awal mula khutbah dan shalat Jumat?
Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H. Kala itu, terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya wilayah seputar Yatsrib (kini Madinah Al-Munawwarah). Dalam kondisi demikian, ketika itulah Rasulullah Saw. dan seorang sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, sedang menapakkan kaki memasuki Desa Quba’.
Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing. Ya, mereka kembali ke rumah mereka masing-masing dengan rasa putus asa.
Tak mungkin hari itu sosok yang mereka nantikan kedatangannya akan tiba di Yatsrib. Namun, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak sangat nyaring, “Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!”
Segera, semua orang pun menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau.
Sebagian besar di antara mereka tidak dapat membedakan: mana Rasulullah Saw. dan mana Abu Bakar Al-Shiddiq. Namun, di saat bayang-bayang pohon kurma bergeser, tiba-tiba Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka yang sedang nantikan kedatangannya.
Di Desa Quba’ itu, Rasulullah Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain Hamzah bin Abdul Muththalib dan Zaid bin Haritsah. Yakni rumah Kultsum bin Hadm dari Bani Amr, dari kabilah Kultsum yang termasuk dari kalangan suku Aus.
Sedangkan Abu Bakar al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang anggota suku Khazraj di Sunh, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Satu atau dua hari kemudian, Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan yang ditinggali Rasulullah Saw.
Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari. Dari Senin hingga Kamis. Lantas, atas saran Ammar bin Yasir, beliau kemudian membangun Masjid Quba’. Inilah masjid kecil pertama dalam sejarah Islam. Beliau sendiri yang meletakkan batu pertama di kiblatnya. Baru kemudian diikuti Abu Bakar al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.
Pada Jumat menjelang siang, Rasulullah Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Ya, pertama kalinya dalam sejarah Islam.
Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., Rasulullah Saw. berkhutbah:
“Ammâ ba‘du. Wahai kaum Muslim. Hendaklah kalian berbuat kebaikan, demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu tahu, setiap orang di antara kalian tentu akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannya. Allah akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada sekat apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tidak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah Aku anugerahkan harta dan sederet nikmat? Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’
Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Namun, ia tidak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari neraka, meski hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memeroleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah.”
Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat!
Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, meski ia seorang miskin sekalipun. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga meski hanya dengan sebutir buah kurma.
Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap orang. Bagaimana pun kondisinya. Baik kaya maupun miskin.
Kiranya kita termasuk orang yang gemar berbuat kebaikan, amin!








