Bojonegoro punya sejumlah tradisi khas Ramadan seperti Oklik Sahur, Colok-colok Malem Songo, hingga Nikahan Malam Songo. Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, mengimbau agar tradisi khas tersebut terus diuri-uri.
Ramadhan di Bojonegoro tidak hanya hadir dalam bentuk ritual ibadah seperti puasa, tarawih, dan tadarus. Di balik itu, ada denyut tradisi lokal yang sejak lama ikut memuliakan bulan suci. Dari Oklik Sahur, Colok-colok Malem Songo, hingga nikahan Malem Songo, masyarakat Bojonegoro memiliki cara khas untuk merayakan Ramadhan dengan rasa yang sangat lokal.
Tradisi-tradisi ini memperlihatkan satu hal penting: Islam di tanah Jawa, khususnya Bojonegoro, tumbuh tidak dengan menyingkirkan budaya, melainkan berkelindan dengannya. Ramadhan menjadi ruang perjumpaan antara syariat dan lokalitas—antara ajaran agama dan cara masyarakat memaknainya dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua DPRD Bojonegoro, Abdulloh Umar, mengingatkan bahwa tradisi-tradisi lokal semacam itu perlu terus dipelihara dan dimunculkan. Menurutnya, Bojonegoro memiliki kekayaan tradisi Ramadhan yang patut dijaga, terutama Oklik Sahur, Colok-colok Malam Songo, hingga kebiasaan Nikahan Malam Songo yang sudah lama dikenal masyarakat.
Namun Umar mengakui, di tengah majunya ekosistem digital dan perubahan gaya hidup masyarakat, sebagian tradisi mulai memudar. Yang paling terasa adalah tradisi Oklik Sahur—kebiasaan membangunkan warga untuk sahur, dengan bunyi bambu yang dipukul berirama dari kampung ke kampung. Kini, kata dia, tradisi itu semakin jarang ditemui. Kalaupun ada, sering digantikan oleh pengeras suara dengan volume keras yang tidak membantu, tapi justru mengganggu.
“Kalau bisa oklik sahur terus diadakan. Tapi benar-benar oklik bambu, bukan soundsystem yang justru sangat mengganggu,” ujar Umar pada Jurnaba (11/3/2026).
Umar menegaskan, Bojonegoro punya sejumlah tradisi Ramadan yang cukup khas. Selain Oklik Sahur, tradisi ramadan Bojonegoro yang harus terus dirawat dan dipelihara adalah Colok-colok Malem Songo dan Nikahan Malam Songo. Menurut Umar kedua tradisi ini adalah aset budaya yang tentu, memberi tauladan positif bagi generasi mendatang.

Colok-colok Malem Songo, merupakan tradisi di malam 29 Ramadhan untuk menyalakan obor di jalan desa, sebagai wujud syukur bahagia atas nikmat bulan puasa. Sementara Nikahan Malam Songo, adalah prosesi menikah pada malam 29 Ramadhan. Prosesi menikah ini, ditujukan untuk mengambil momen ngalap berkah Ramadhan.
“Nah, Bojonegoro punya tradisi-tradisi ini. Dan ini adalah aset budaya. Karena itu harus terus diuri-uri” ucap Umar.
Bagi Umar, menjaga tradisi semacam ini bukan sekadar nostalgia masa lalu. Ia adalah bagian dari merawat identitas kultural masyarakat Bojonegoro—bahwa Ramadhan tidak hanya hidup di masjid dan mushala, tetapi juga di lorong-lorong kampung, dalam bunyi bambu, cahaya obor malam, dan kebersamaan warga yang sejak lama membentuk wajah Ramadhan di daerah ini.
Jika dirawat dengan baik, tradisi-tradisi itu bukan hanya akan bertahan, tetapi juga terus menjadi penanda bahwa Ramadhan di Bojonegoro selalu punya wajahnya sendiri—sederhana, akrab, dan berakar kuat pada budaya lokal.








