Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
08/04/2026
in JURNAKULTURA
‎Sidi Padangan, Mozaik Perjuangan Lintas Zaman

Mandala Cahaya, motif batik Padangan

Bukan sekadar ketokohan, Sidi Padangan merupakan ekosistem yang melahirkan ideologi perjuangan dari zaman ke zaman. 

Istilah Sidi Padangan kerap muncul dalam beragam cerita masa silam, baik kisah lisan maupun tulisan. Di sejumlah peristiwa, Sidi Padangan menjadi entitas sosial-spiritual yang dikeramatkan Kesultanan Jogjakarta. Baik dalam peristiwa Perjanjian Giyanti (1755), perjuangan Alas Jati (1810), maupun perjuangan Perang Jawa (1825).

‎Pada masa Perjuangan Giyanti (1755 M), secara de facto dan de jure, wilayah Bojonegoro menjadi bagian dari Kesultanan Jogjakarta. Kiai Wirosentiko (Bupati Madiun), Kiai Tjarangsoko (Bupati Padangan), dan Kiai Notowijoyo (Bupati Panolan) merupakan tiga tokoh penting pada masa ini. Ketiga tokoh dari Kesultanan Jogjakarta itu, kerap berkonsolidasi di Padangan, tabarukan pada para Sidi Padangan.

Istilah tabarukan (ngalap barokah) dalam konteks Padangan, bukan sekadar upaya transenden, melainkan mekanisme geopolitik yang bertumpu pada strategi di luar dinding istana. Khususnya dalam memperkuat kohesi sosial dan jaringan spiritual, sebagai instrumen resiliensi (ketahanan) menghadapi tekanan kekuasaan.

Selain ditopang posisi geografis yang amat strategis, Padangan sejak ratusan tahun sebelumnya telah dikenal sebagai tanah anti-feodal yang istiqomah memangsa Londo Jowo. Bukan melalui konfrontasi terbuka, melainkan lewat perlawanan kultural, infiltrasi sosial, dan penguatan basis spiritual yang senyap namun melenyapkan.

Peta Kuno Bojonegoro: sebelum bernama Bojonegoro, wilayah ini bernama Jipang (sejak zaman Singashari). Dan jauh sebelum bernama Jipang, wilayah ini dikenal dengan Medang Kamulan.

‎Kiai Wirosentiko Madiun yang bergelar Raden Ronggo I, memiliki cucu bernama Raden Prawirodirjo (Raden Ronggo III). Kiai Tjarangsoko Padangan yang bergelar Malangnegoro I, memiliki cucu Raden Sumonegoro (Malangnegoro III). Dan Kiai Notowijoyo Panolan memiliki cucu bernama Raden Notowijoyo III. Tiga cucu mereka ini, kelak dikenal sebagai para tokoh utama dalam perjuangan Alas Jati Mancanegara Wetan.
‎
Seperti melanjutkan para pendahulunya, ‎pada masa perjuangan Alas Jati Mancanegara Wetan (1810 M), Raden Ronggo Madiun III, Raden Malangnegoro Padangan III, dan Raden Notowijoyo Panolan III —- cucu dari para Pejuang Giyanti—- juga berkonsolidasi di Padangan, dalam rangka tabarukan pada para Sidi Padangan.
‎
‎Raden Ronggo Madiun III adalah ayah dari Sentot Ali Basya. Raden Malangnegoro Padangan III adalah ayah mertua dari Kiai Modjo. Sementara Raden Notowijoyo Panolan III adalah ayah mertua dari Pangeran Diponegoro. Sentot Ali Basya, Kiai Modjo, dan Pangeran Diponegoro merupakan para tokoh utama yang kelak menggerakkan Perang Jawa.
‎
Serupa tradisi para pendahulunya, ‎pada masa Perang Jawa (1825 M), Pangeran Diponegoro, Kiai Modjo, dan Sentot Ali Basya — yang notabene penerus dari para pejuang Alas Jati — juga melakukan konsolidasi dan tabarukan pada para Sidi Padangan, dengan membangun pangkalan militer bernama Divisi Malangnegoro.

Pangeran Diponegoro beserta rombongannya tak hanya membangun pangkalan militer di Padangan, tapi juga membangun ikatan keluarga. Bahkan, untuk beristifadah, Pangeran Diponegoro menikahi dua perempuan dari kawasan ini. Keduanya bernama RA Retnakusuma (Panolan) dan RA Retnaningsih (Padangan).

Sidi Padangan

‎Sidi, secara harfiah bermakna tuan. Manuskrip Padangan kerap mencatat istilah Sidi al-Hajj (Sidi Haji) dengan makna Tuan Haji atau Wan Khaji. Istilah Sidi juga memiliki fungsi kesantunan — leluhur yang dimuliakan. Para Pinisepuh mengajarkan, menyebut nama leluhur tidak boleh njangkar. Namun ditambahi laqob Sidi sebagai etika. Sehingga Sidi Padangan, secara kultural, bermakna leluhur dari Padangan.

Istilah Sidi Padangan tidak merujuk pada satu nama tokoh. Melainkan sejumlah nama leluhur yang muncul hampir di setiap abad, dan membentuk mata rantai Kasepuhan yang berkesinambungan dari abad 14 M hingga abad 20 M. Mereka tak hanya membawa ajaran ideologis, tapi juga membangun ekosistem sosial yang kosmopolit dan berdaulat.

Ajaran ideologis dan ekosistem sosial yang berlangsung selama 600 tahun itu, tentu tidak hilang begitu saja. Namun menyublim dalam sendi kehidupan masyarakat— menjadi nilai yang tak selalu tampak di permukaan, tapi hidup dalam laku, tradisi, dan cara pandang kolektif. ‎Ia menjelma sebagai etos yang diwariskan secara diam-diam: tata krama dan kearifan mengelola alam. 

‎Abad 14 M
‎‎Pada abad 14 M, Islam telah masuk di Padangan melalui jalur Sungai Bengawan. Di wilayah ini, Islam diperkenalkan Syekh Jumadil Kubro, yang oleh masyarakat sekitar lebih dikenal dengan nama Sidi Jamaluddin. KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyebut Sidi Jamaluddin telah berada di Jipang Padangan pada abad 14 M, di akhir masa pemerinthan Tribuwana Tunggadewi (1328 – 1350 M).

Sidi Padangan dalam teks Manuskrip

Dalam magnum opusnya berjudul The History of Java (1817), Thomas Stamford Raffles mencatat, Syekh Jumadil Kubro mendirikan zâwiyah (pesantren) di Gunung Jali Padangan, sekaligus menandai awal terbentuknya simpul peradaban Islam di wilayah tersebut. Raffles menulis kalimat yang berbunyi: a devotee who had established himself on Gunung Jali” (seorang Wali yang telah menetap di Gunung Jali).

Sidi Jamaluddin, kata Gus Dur, adalah ayah dari Maulana Ibrahim Asmaraqandi, kakek Sunan Ampel, dan kakek buyut Sunan Bonang. Dalam The Passing Over (1998), Gus Dur menulis, keberadaan Sidi Jamaluddin di Gunung Jali tak hanya membawa ajaran Islam. Namun juga membangun peradaban ekonomi yang berdaulat, serta sikap toleran pada liyan. Spirit ini yang kelak dilanjutkan para penerusnya dari zaman ke zaman.

‎Abad 15 M
‎Pada abad 15 M, tokoh bernama Patinggi Jipangulu (mertua Sunan Ampel) dan Mbah Ngudung alias Sunan Jipang (ayah Sunan Kudus), meneruskan misi dari Sidi Jamaluddin. Nama Patinggi Jipangulu dan Sunan Jipang tentu tak akan ditemui dalam literatur political history buatan Londo Jowo. Namun, banyak sumber literatur berbasis cultural history yang justru mengabadikan dua nama tokoh penting tersebut.

Serat Walisana, Hikajat Bandjar, dan kitab Tarikh Aulia menyebut Patinggi Jipangulu dan Sunan Jipang sebagai figur penting yang melanjutkan masa dakwah Sidi Jamaluddin di wilayah Jipang. Dua tokoh ini tak hanya dikenal dalam membangun jaringan peradaban keilmuan Islam. Namun juga dikenal teramat handal membangun pusat ekonomi berbasis sumber daya alam sungai Bengawan.

Abad 16 M
‎Pada abad 16 M, Sidi Abdul Halim bersama putranya, Bagus Halim Tsani (Pangeran Sumohadiningrat), memperkuat kokohnya tradisi keilmuan dan sistem peradaban Islam yang ada tersebut, dengan membangun ekosistem Peradaban Perahu (pusat keilmuan dan ekonomi berbasis sungai). Dalam bahasa Jawa, Perahu disebut dengan istilah Benawa. Ini alasan Sidi Abdul Halim juga dikenal sebagai Pangeran Benawa.

Jawa pada abad 16 M masyhur sebagai era void century — abad yang dipotong dan digelapkan. Tentu saja nama Sidi Abdul Halim dan Bagus Halim Tsani dipermak sesuai kepentingan political history Londo Jowo. Namun, literatur manuskrip yang berbasis cultural history, mengabadikan nama mereka secara jernih sebagai bagian dari peradaban Islam di Jipang Padangan.

Abad 17 M
‎Pada abad 17 M, Sidi Sabil Padangan, Sidi Sambu Lasem, dan Sidi Jabbar Singgahan yang merupakan keturunan dari Sidi Abdul Halim, melanjutkan tradisi keilmuan Islam di wilayah Jipang Padangan. Sidi Sabil adalah paman dari Sidi Sambu dan Sidi Jabbar. Sebelum berpencar dari sungai (Padangan) ke wilayah pesisir (Lasem) dan pegunungan (Singgahan), ketiganya membangun ekosistem keilmuan Islam di tempat yang kelak dikenal dengan Pesantren Menak Anggrung Padangan.

Mandala Cahaya, motif batik Padangan yang tertera dalam Manuskrip Padangan.

Sidi Sabil, Sidi Sambu, dan Sidi Jabbar tak hanya membangun rantai ideologis melalui pengajaran ilmu. Namun juga membangun tali genealogis melalui ikatan keluarga. Sidi Sabil Padangan menjadikan dua keponakannya (Sidi Sambu Lasem dan Sidi Jabbar Singgahan) sebagai menantu. Ikatan genealogi ini kelak menjadi sejumlah “kabilah perahu” yang semebyar hingga Tuban, Bojonegoro, Rembang, Blora, Gresik, dan Nganjuk.

Abad 18 M
‎Pada abad 18 M, Sidi Kamaluddin Oro-Oro Bogo, Sidi Imamuddin, hingga Sidi Abdurrahman Saban— penerus Pesantren Menak Anggrung—menjadi figur kunci dalam mengembangkan tradisi keilmuan Islam di kawasan Padangan. Mereka tak hanya mentransmisikan ajaran agama, tapi juga membangun tradisi penghormatan pada alam sebagai bagian integral di dalamnya.

Pada masa ini, ajaran-ajaran mengenai sikap ekosufisme (tasawuf alam) sudah cukup masyhur sebagai ageman masyarakat. Istilah ekosufistik seperti Bajul Destoroto, Bledhug Geni, Carang Ilahilastu, Wirid Wit, hingga Uyah Uluhiyyah — yang selama ini dikenal dalam spektrum mitos— menjadi bukti sahih atas kedekatan para ulama terhadap alam sekitar.

Abad 19 M
‎Pada abad 19 M, Sidi Abdurrohman Syahiddin (Sidi Abdurrohman Klotok) mempopulerkan tradisi literatur di kawasan ini dengan istilah FiddariNur dan BiladinNur (Kota Cahaya dan Negeri Cahaya) sebagai nisbah penulisan karya. Istilah-istilah itu kerap disemat pada karya-karya bertema fiqih dan tauhid. Istilah Fidarinnur dan Biladinnur tertera dalam sejumlah catatan ilmiah bertarikh 1230 H (1820 M).

Gerbang Cahaya, motif batik Padangan yang tertera dalam Manuskrip Padangan.

Pada akhir abad 19 M, Sidi Ahmad Munada (Sidi Ahmad Robayan) mempopulerkan tradisi suluk tarekat sebagai budaya penting di Padangan. Tradisi suluk tarekat di Padangan ini, telah menjadi medium pertautan antara para salik dari kawasan Blora, Lamongan, hingga Gresik sebagai satu poros pergerakan sosial. Tradisi suluk tarekat inilah yang kelak, menjadikan Padangan masyhur sebagai Bumi Tarekat.

Abad 20 M
Setelah dikenal sebagai kawasan literatur dan pusat suluk tarekat pada abad 19 M, pada awal abad 20 M, Sidi Hasyim Alfadangi (Sidi Hasyim Padangan) membangun tradisi penulisan ilmu alat di wilayah Padangan. Sidi Hasyim Padangan memfokuskan diri pada penulisan kitab yang membahas metode transliterasi dan gramatika Bahasa Arab.

Pada masa ini, istilah Al Jawiyah Al Mrikiyah (Boso Jowo Kene) jadi legitimasi atas kuatnya tradisi penerjemahan di Padangan. Melalui nisbah “Alfadangi” yang cukup populer hingga Mesir dan India, Sidi Hasyim Padangan ingin menunjukan bahwa kawasan ini tak hanya menjadi episentrum literatur dan suluk tarekat, namun juga pusat pengembangan bahasa.

Tabarukan Geopolitik 

Dari abad 14 M hingga abad 20 M, membentang selama 600 tahun, semua nama-nama Sidi Padangan di atas cenderung mengajarkan sikap anti-feodal, anti penindasan, dan tak pernah patuh pada  konsorsium imperialisme. Sikap-sikap itu dibangun di atas tradisi keilmuan dan kedaulatan hidup yang membudaya sebagai ekosistem.

Dalam konteks geopolitik, perpaduan tradisi keilmuan dan kedaulatan ala Sidi Padangan ini, membentuk mekanisme ketahanan yang unik. Memiliki daya hidup membangun kohesi sosial, jaringan spiritual, dan resiliensi kultural yang tak tampak di kertas data, namun nyata mengorkestrasi arah peristiwa.

Sidi Padangan mungkin hanya disebut dalam cerita-cerita legenda. Namun kenyataannya, keberadaan mereka jadi simpul sosial-spiritual yang berada di belakang Kesultanan Jogjakarta, dalam berjuang melawan konsorsium imperialisme. Baik pada masa perjuangan Giyanti (1755), perjuangan Alas Jati (1810), maupun perjuangan Perang Jawa (1825).

 

Sumber Rujukan: 

‎Serat Wali sana, ‎The History of Java, ‎Manuskrip Padangan, ‎Kitab Tarikh Aulia, ‎Hikajat Bandjar, ‎The Power of Prophecy, ‎Lwaram dalam Lipatan Masa, Tarikh Padangan. 

‎

Tags: Kabilah PerahuKasepuhan PadanganKesultanan JogjakartaMakin Tahu IndonesiaSidi Padangan
Previous Post

Di Antara Embargo dan Martabat

Next Post

Mesquita De La M-30: Masjid dan Pusat Budaya Islam di Madrid Spanyol

BERITA MENARIK LAINNYA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian
JURNAKULTURA

Wayang Tani: Narasi Kesenian dari Rahim Pertanian

31/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro
JURNAKULTURA

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026
Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini
JURNAKULTURA

Ekoteologi: Amanah Gunung Jali di Tengah Krisis Air Masa Kini

08/03/2026

Anyar Nabs

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

May Day 2026: Aliansi Buruh Bojonegoro Desak Negara Hadir Lindungi para Pekerja

01/05/2026
Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

Perubahan Iklim dan Kita Terlambat Lagi

30/04/2026
7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

7 Experience di Game Roblox yang Populer dan Seru Untuk Dimainkan

29/04/2026
Batu Bara dan Piring Kosong

Batu Bara dan Piring Kosong

28/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: