Pangeran Diponegoro (1785 – 1855 M) berperan penting dalam menghadirkan ideologi Kesultanan Pajang — sebuah ideologi yang terkubur ratusan tahun sebelumnya. Sebab, Perang Jawa (1825 M), memiliki dampak memunculkan kembali energi Jipang dan ideologi Kesultanan Pajang.
Abad 16 M merupakan abad yang sengaja di(gelap)kan. Sebab, inilah puncak keilmuan literatur Islam Jawa, di bawah pemerintahan Kesultanan Pajang. Pada abad 19 M, melalui Perang Jawa, Pangeran Diponegoro berupaya mengembalikan ideologi-kebudayaan yang pernah mengalami kejayaaan 3 abad sebelumnya itu.
Perjuangan Diponegoro (abad 19 M)
Pangeran Diponegoro punya kedekatan dengan Jipang (Panolan dan Padangan). Dua istri Pangeran Diponegoro berasal dari Jipang. RA Retnakusuma, putri Raden Natawijaya III (Bupati Jipang Panolan) dan RA Retnaningsih, putri Raden Sumoprawiro (Bupati Jipang Padangan). Kedekatan ini untuk melanjutkan ikatan ideologis yang sudah disimpul ratusan tahun sebelumnya. Yaitu simpul ideologi “Kesultanan Pajang”.
Di wilayah Jipang, Pangeran Diponegoro tak hanya membangun basis keluarga. Tapi juga membangun basis pasukan. Terbukti di semua literatur ilmiah, Jipang Panolan dan Jipang Padangan adalah tempat penentu bagi kemenangan Pasukan Diponegoro.
Kolonel Nahuys, panglima Belanda yang berhadapan langsung dengan Raden Sosrodilaga dalam Perang Jawa, bahkan membuat catatan empiris yang mengakui kedigdayaan Jipang Panolan dan Jipang Padangan sebagai basis utama yang mensukseskan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Perjanjian Giyanti (abad 18 M)
Pada Perjanjian Giyanti (1755 M), saat Mataram Islam pecah menjadi dua, wilayah Jipang (Bojonegoro) masuk ke dalam bagian Kesultanan Jogjakarta. Ini logis karena Jipang punya jejak penting bagi Kesultanan Jogjakarta. Khususnya dalam bidang ideologi dan kebudayaan. Jejak itu diikat sejak zaman Kesultanan Pajang. Ini alasan Jipang menjadi bagian dari “Kesultanan”, dan tak pernah menjadi bagian dari “Kasunanan”.
Bersama Magetan dan Madiun, Jipang (Bojonegoro) tercatat resmi sebagai bagian Mancanegara Wetan Kesultanan Jogjakarta. Semua literatur ilmiah (Raffles dan Carey) menyebut Jipang sebagai bagian penting dari “Kesultanan” Jogjakarta. Sebab, ratusan tahun sebelumnya, Jipang adalah wilayah yang menyimpan ideologi-kebudayaan “Kesultanan” Pajang.
Negaragung Jipang (abad 17 M)
Jipang adalah bagian penting dari eksistensi Kesultanan Pajang. Pada periode 1648 M, Rijklof van Goens (d. 1682 M), berkunjung ke Jawa, di era kepemimpinan Amangkurat I Mataram Islam. Van Goens menulis, 70 tahun sebelum kunjungannya itu, tepatnya pada 1578 M, pengaruh Kesultanan Pajang masih sangat kuat. Seluruh wilayah Jawa; mulai dari Madura, Surabaya, Giri, Jepara, sampai Banten, tunduk pada Kesultanan Pajang. Sementara Jipang menjadi bagian penting dari Kesultanan Pajang.
Baca juga: Jipang Padangan, Benteng Kesultanan Pajang
Dalam keterangan Rijklof van Goens, pusat pemerintahan dan ibu kota Kesultanan Pajang berada di Pajang (selatan Jawa). Namun wilayah penting berupa Negaragung (Kota Raja) Kesultanan Pajang, berada di Jipang (utara Jawa). Ini alasan Sultan Hadiwijaya memberikan wilayah Jipang pada putranya, yaitu Pangeran Benawa. Fakta Jipang sebagai “Negaragung” Kesultanan Pajang, tentu didukung berbagai argumentasi ilmiah. Termasuk Francoise Valentijn (d. 1727 M).
Rijklof van Goens dan Francoise Valentijn adalah dua orang yang hidup di awal berdirinya Mataram Islam. Keduanya rajin menulis hal-hal secara objektif. Dua nama ini juga sering menulis fakta Kesultanan Pajang. Ini alasan Amangkurat Mataram sangat benci dengan dua nama itu. Jika Van Goens menulis kebesaran Kesultanan Pajang, Valentijn justru menulis fakta-fakta pendirian Mataram Islam yang penuh dengan narasi dongeng. Ini alasan dua nama penulis ini tak pernah dibahas rezim Amangkurat.

Kesultanan Pajang (Abad 16 M)
Sejak diresmikan Giri Kedaton pada awal abad 16 M, seluruh garis pantai “Laut Jawa” berada di bawah komando Kesultanan Pajang. Wilayah Madura, Surabaya, Giri, Jipang, Jepara hingga Banten adalah kawasan yang membawa ideologi-kebudayaan Kesultanan Pajang. Tentu, rezim Amangkurat Mataram tak menyukai mereka. Sebab, mereka membawa legacy Kesultanan Pajang. Ini alasan beberapa wilayah di atas pernah berkonflik dan punya sentimen dengan Amangkurat Mataram.
Legacy dan pengaruh Kesultanan Pajang sangat sulit dihilangkan, baik dari era Panembahan hingga era Amangkurat Mataram. Sebab, Kesultanan Pajang membawa kebudayaan dan ideologi yang sangat kuat. Khususnya dalam literatur dan konsep Islam Jawi. Saking sulitnya, butuh waktu lama untuk menghilangkan jejak-jejak Kesultanan Pajang. Dari zaman Amangkurat hingga era Pakubuwana.
Untuk menghilangkan jejak Kesultanan Pajang, rezim Amangkurat dan Pakubuwana menghancurkan semua naskah Al Jawi yang berada di pulau Jawa. Sebab, huruf Al Jawi adalah huruf resmi Kesultanan Pajang. Huruf Al Jawi selalu menunjukan kejayaan Kesultanan Pajang. Karena itu, rezim Amangkurat dan Pakubuwana berupaya menghancurkan literatur Al Jawi. Tak hanya itu, mereka juga memburu keturunan Kesultanan Pajang.

Huruf Al Jawi sudah populer di Pulau Jawa sejak abad 14 M (Trengganu, 1326 M), bebarengan datangnya Syekh Maulana Malik Ibrahim di Gresik. Huruf Al Jawi kian populer ketika Syekh Jumadil Kubro berdakwah di “Bengawan” Jipang. Penggunaan huruf Al Jawi kian bergema ketika Sunan Ampel, Sunan Bonang, dan Sunan Giri mulai memproduksi teks-teks Al Jawi sebagai wasilah dakwah.
Saat Sunan Giri meresmikan pendirian Kesultanan Pajang, huruf Al Jawi secara resmi menjadi huruf administratif yang digunakan Sultan Pajang dalam membangun ideologi-kebudayaan Kesultanan Pajang. Huruf Al Jawi adalah bukti otentik Kesultanan Pajang mampu merangkul dan merukunkan tradisi lama (Jawa) dan tradisi baru (Islam).
Bukti legacy Kesultanan Pajang, yang sulit terbantahkan, terdapat pada Naskah Merapi-Merbabu (1592 M). Dalam naskah bernomor PN 9 L 110 ada pembukaan pupuh yang berbunyi: “Bismillahirrahmanirahim“. Selain itu, pada naskah bernomor PN 7 L 29, terdapat tulisan tentang dialog Rasulullah SAW.
Harus diketahui, Merapi-Merbabu adalah wilayah berada di kawasan pegunungan (selatan Jawa). Wilayah dalam ring satu Kesultanan Pajang. Tahun 1592 adalah tahun Kesultanan Pajang membawa Islam ke wilayah selatan. Ini bukti penting bahwa Kesultanan Pajang, secara empiris, ramah pada perbedaan.
Teks Al Jawi menjadi identitas kuat keberadaan Kesultanan Pajang. Ini yang membuat rezim Amangkurat kesulitan menghilangkan jejak Kesultanan Pajang. Puncaknya, ketika rezim Pakubuwana membuat narasi political-historis berjudul Babad Tanah Jawa (1722 M), kemudian diperluas penyebarannya melalui Babad Tanah Jawa Proza (1874 M) karya JJ. Meinsma.
Babad Tanah Jawa (1874 M) adalah bukti otentik kolaborasi sempurna antara Mataram dan Belanda dalam mengubur dan menghilangkan jejak Kesultanan Pajang. Naskah Babad Tanah Jawa inilah yang kelak, menurunkan karya Babad-babad lainnya. Terbukti, mayoritas naskah Babad di berbagai derah, menginduk dari Babad Tanah Jawa.
Babad Tanah Jawa (dengan semua karya turunannya) adalah agitasi-propaganda untuk mengubur legacy Kesultanan Pajang. Tentu, melalui skema pembuatan nama tokoh, pengubahan karakter, hingga membuat nama “kerajaan” baru. Bahkan yang paling dahsyat adalah; membangun narasi perang antara Ibukota (Pajang) dan Negaragung (Jipang). Semua narasi itu, untuk mengubur jejak kejayaan Kesultanan Pajang.
Namun, narasi yang dibuat Amangkurat dan Pakubuwana itu, ternyata masih gagal. Terbukti, dalam semua catatannya, Van Goens dan Valentijn selalu menyebut pemimpin Kesultanan Pajang dengan nama “Sultan Pajang”. Sebab, nama Joko Tingkir dan Mas Karebet belum dibuat. Nama “Joko Tingkir” dan “Mas Karebet” muncul pertama pada Babad Tanah Jawa (1722 M) yang dibuat Sunan Pakubuwana, dan diperluas Babad Tanah Jawa Proza (1874 M), karya JJ. Meinsma.
Catatan dari Van Goens dan Valentijn, ternyata sesuai dan didukung semua naskah peninggalan Kesultanan Pajang. Naskah-naskah yang tersimpan rapi di keluarga Mbah Sabil Padangan, Mbah Sambu Lasem, dan Mbah Jabbar Singgahan menunjukan secara empiris bahwa tidak ada nama Joko Tingkir maupun Mas Karebet, yang ada: Sultan Pajang.
Di hampir semua keluarga Kesultanan Pajang, khususnya jalur lelaki Kesultanan Pajang, selalu menyimpan jejak keilmuan berupa catatan manuskrip berhuruf Al Jawi. Inilah bukti-bukti Kesultanan Pajang yang gagal diberangus oleh rezim Amangkurat Mataram dan Pakubuwana.

Naskah-naskah peninggalan Kesultanan Pajang jauh lebih tua dibanding Babad Tanah Jawa. Karena itu, ia diburu dan berusaha diberangus rezim Amangkurat (abad 17 M), dan rezim Pakubuwana (abad 18 sampai 19 M). Namun, sampai saat ini, naskah-naskah Kesultanan Pajang masih tetap ada. Masih tetap terjaga. Dan akan selalu lestari. Inilah keramat Kesultanan Pajang.
Tembayat dan Bhre Pajang (abad 15 M)
Sungai Bengawan, Bhre Pandansalas, Bhre Pajang, dan Tembayat adalah istilah yang sangat ditakuti rezim Amangkurat. Sebab, nama dan istilah di atas membawa informasi tentang Kesultanan Pajang dan peran penting wilayah Jipang. Karena itu, nama-nama di atas berupaya dibelokkan dan dikubur rezim Amangkurat.
Namun, rezim Amangkurat masih kurang canggih. Sebab, banyak data yang masih bisa dipelajari. Jipang menyimpan banyak data peradaban; baik awal pendirian Majapahit (Prasasti Adan-adan), akhir Majapahit (Prasasti Pamintihan), hingga tentu saja: awal Kesultanan Pajang. Ini alasan Amangkurat harus mengubur Jipang dengan berbagai macam cara. Termasuk konsep devide et impera.
Jipang sebagai pengendali sungai “Bengawan”, merupakan wilayah amat penting. Namanya menjadi bagian penting dari awal pendirian Kerajaan Singasari (Maribong, 1246 M). Jipang juga jadi bagian penting dari awal pendirian Majapahit (Adan-adan, 1301 M). Dan tentu, Jipang juga punya peran penting bagi pendirian dan penyimpanan ideologi Kesultanan Pajang.
Perang Jawa: Energi Kesultanan Pajang
Perjuangan Diponegoro yang dikenal dengan Perang Jawa (1825), adalah momentum memunculkan kembali energi Kesultanan Pajang. Ini alasan para pendukung Diponegoro berpusat di Kajoran dan Jipang. Sebab, Kajoran adalah keturunan Tembayat. Wajib diketahui, Tembayat dan Jipang adalah pondasi Kesultanan Pajang.
Pangeran Diponegoro memang lahir dari keluarga Mataram Islam. Tapi, ia mengusung ideologi Kesultanan Jogjakarta. Sebuah ideologi yang ditanam sejak era Kesultanan Pajang. Karena itu, Pangeran Diponegoro sangat menjunjung tinggi ideologi Kesultanan Pajang yang, secara kuat, tersimpan dalam rahim bumi Jipang.
Pangeran Diponegoro tentu sangat terinspirasi karakter perjuangan masyarakat Jipang. Bahkan, inspirasi ini sudah dilihat Pangeran Diponegoro kecil, saat matanya nanar melihat perjuangan para Macan Alas Jati Njipangan, tokoh-tokoh utama yang menginspirasi gerakan Pangeran Diponegoro.
Seperti yang diucap KH Abdurrohman Wahid (Gus Dur), energi Kesultanan Pajang tak akan pernah bisa dihapus. Ucapan Gus Dur ini tentu bersanad. Sebab, di akhir usia Pangeran Benawa, ia bertitah: “Suatu saat akan muncul penggantiku, ketika Gajah-gajah telah berkumpul di Mercusuar Jipang, untuk menantikan kedatangan kapal-kapal dari penjuru Nusantara”.








