Perbincangan mengenai geologi dan sejarah Bengawan kembali menghangat dalam diskusi Ekspedisi Naga Api IV bertajuk Geologische Discussie. Acara digelar di Deulleda Coffee Bojonegoro pada Selasa sore (16/6/2026) ini, merupakan bagian dari Serial Literasi Geopark diadakan Komunitas Bojonegoro History.
Pada edisi keempat ini, diskusi berfokus pada hasil penjelajahan tim Ekspedisi Naga Api di sejumlah situs Undak Bengawan. Undak Bengawan merupakan teras atau dataran bertingkat yang berada di tepian sungai dan terbentuk melalui proses pengendapan tanah serta batuan selama ribuan tahun.
“Yang keempat ini kita akan membicarakan soal perlapisan tanah. Itu kalau dalam bahasa geologi. Kalau di wisata itu (istilahnya) undak,” ujar M. Andrea saat membuka diskusi.
Berbeda dengan pembahasan sebelumnya, pengamatan kali ini dilakukan di tiga lokasi sekaligus, yakni Desa Prangi, Desa Tebon, dan Desa Payaman yang berada di sepanjang aliran Sungai Bengawan. Ketiga wilayah tersebut dipilih karena memiliki karakteristik geologi yang serupa, yaitu keberadaan undak sungai yang masih dapat diamati.
“Itu semua tempat yang memang secara geodiversitas, biodiversitas maupun kultural diversitas cukup menarik. Itu karena dia berada di lintasan sungai, yang mana setiap sungainya memiliki undak,” jelas Ahmad Wahyu saat memulai pemaparannya.
Keberadaan undak sendiri tidak selalu dapat dilihat sepanjang tahun. Tim Ekspedisi Naga Api beruntung melakukan pengamatan saat musim kemarau, ketika debit air Bengawan surut sehingga lapisan-lapisan undak di dasar sungai muncul ke permukaan. Saat musim hujan, lokasi tersebut kembali tertutup air dan sulit diamati.

Dari hasil penelusuran lapangan, tim juga menemukan fakta menarik mengenai kehidupan masyarakat di sekitar sungai. Banyak rumah warga yang hingga kini masih menghadap ke arah Bengawan, mencerminkan hubungan budaya yang tetap terjaga dengan sungai. Selain itu, sebagian warga masih menekuni profesi sebagai pengrajin perahu tradisional yang dikenal dengan nama Perahu Baito, yang digunakan oleh para nelayan bengawan.
Tidak hanya itu, ekspedisi juga menghasilkan sejumlah temuan penting berupa fosil dan artefak. Salah satu temuan yang menarik perhatian adalah pecahan keramik China berukuran besar yang diduga berasal dari Dinasti Song.
Temuan tersebut memberi petunjuk bahwa kawasan undak yang diteliti memiliki nilai sejarah yang kuat. Dinasti Song diketahui berkembang sekitar abad ke-13. Pada periode yang sama, lokasi tersebut disebut dalam prasasti sebagai Bhinnasrantaloka, yang dikenal sebagai titik penting dalam proses penyatuan Jawa pada masa lampau.
“Artinya, tepat di saat yang sama itu kan, abad 13 ya, tempat yang kita kunjungi kemarin disinggung di dalam prasasti Maribong sebagai Bhinnasrantaloka, tempat penyatu Jawa,” terang Wahyu.
Selain artefak sejarah, tim juga menjumpai fenomena geologi yang oleh masyarakat setempat disebut kracaan. Bentuknya menyerupai sebuah pulau besar yang hanya muncul ketika musim kemarau. Saat kondisi air surut, kawasan tersebut tampak seperti hamparan pelataran luas di tengah sungai. Menariknya, permukaan yang terlihat seperti tanah lapang itu sebenarnya merupakan batuan.
Wahyu juga menyoroti keberadaan para pembuat Perahu Baito yang hingga kini masih bertahan. Menurutnya, istilah Baito perlahan mulai terlupakan, padahal tradisi pembuatan perahu tersebut masih hidup di kawasan yang mereka kunjungi.
Temuan lain muncul ketika tim mencermati peta lama tahun 1920. Pada peta tersebut, lokasi yang mereka datangi dipenuhi simbol huruf “G” yang menandakan titik keberadaan gas. Fakta itu dinilai sejalan dengan kondisi saat ini, mengingat di kawasan tersebut terdapat Lapangan Cendono yang masih memproduksi gas bumi.
Diskusi kemudian berkembang ketika peserta membahas fenomena Padas Kracaan dari sudut pandang masyarakat setempat.
“Kemarin yang saya tulis itu, kracaan itu sebelumnya (berupa) kedung mati. Trus pernah ambrol pada waktu ada lomba mancing karena tanahnya ga kuat dipenuhi orang-orang. Kracaan itu seperti batu yang kuat, tetapi ternyata cukup rapuh dan gampang grupil,” ujar salah satu peserta diskusi, Gema.
Pembahasan semakin menarik ketika memasuki topik geologi Pegunungan Kendeng. Wahyu mengungkapkan bahwa dari bentangan Pegunungan Kendeng di Pulau Jawa, hanya wilayah Bojonegoro yang memiliki jejak andesit lava. Ia juga menyebut bahwa puncak Pegunungan Kendeng berada di Gunung Pandan.
“Ada satu yang paling menarik bahwa Pegunungan Kendeng yang membentang di Jawa ini, satu-satunya yang memiliki andesit lava itu kan cuma Bojonegoro. Dan puncak Kendeng itu ada di Gunung Pandan,” kata Wahyu.
Pernyataan tersebut kemudian mendapat tanggapan dari Riza, peserta diskusi yang mendalami bidang geologi. Menurutnya, asal-usul Gunung Pandan hingga kini masih menyimpan banyak pertanyaan.
“Masih menjadi misteri juga sih. Kalau kita berkaca pada Gunung Pandan, yang ditemukan sekarang itu kan cuma breksitnya saja. Breksit itu apa? Dia berasal dari leleran lahar dingin,” ujar Riza.
Menanggapi diskusi tersebut, M. Andrea kemudian melemparkan sebuah simpulan sementara. Ia menilai kemungkinan pernah terdapat gunung berukuran besar yang berada di kawasan perbatasan Bojonegoro, Nganjuk, dan Madiun sebelum menyisakan jejak geologi yang terlihat saat ini.
“Berarti kemungkinan ya, kalau sebelum itu ada gunung besar. Dan itu berada di antara tiga wilayah (Bojonegoro-Nganjuk-Madiun),” ujar Andrea.
Diskusi yang berlangsung santai itu tidak hanya mengungkap jejak geologi Bengawan Solo, tetapi juga memperlihatkan bagaimana sejarah, budaya, dan bentang alam saling terhubung dalam satu kawasan. Melalui temuan-temuan lapangan tersebut, peserta diajak melihat bahwa sungai bukan sekadar aliran air, melainkan ruang yang menyimpan rekaman panjang perjalanan alam dan peradaban manusia.
Ekspedisi Naga Api merupakan bagian dari Program Literasi Geopark yang didukung ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan SKK Migas. EMCL mendukung upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bojonegoro untuk pengembangan geopark sebagai kebanggaan dan identitas daerah.








