Di musim kemarau seperti ini, tembakau jadi komoditi pertanian andalan di Bojonegoro. Dengan harga yang cukup tinggi, tembakau jadi komiditi yang banyak ditanam di sejumlah kecamatan yang ada di Bojonegoro.
Musim kemarau tak selamanya buruk. Ada berkah di balik musim kemarau yang rutin melanda Bojonegoro. Berkah dan rezeki musim kemarau tersebut hadir bagi para petani tembakau di Bojonegoro.
Panas menyengat terasa ketika kita memasuki Kecamatan Kanor, Bojonegoro saat tengah hari. Di tengah cuaca terik yang menghajar kulit tersebut, kita disuguhi pemandangan indah dari tanaman tembakau di lahan pertanian Kecamatan Kanor. Di kanan kiri jalan juga terlihat tembakau kering yang sedang dijemur oleh warga sekitar.
Kecamatan Kanor memang jadi salah satu daerah penghasil tembakau terbaik di Bojonegoro. Kualitas tembakau yang berasal dari Kanor terbilang sangat baik. Tak heran jika harga tembakau kering yang sudah diolah dari Kanor cukup tinggi di pasaran.
Satu dari sekian warga Kanor yang memperoleh keuntungan dari tembakau adalah pasangan Ali dan Lastik. Tim Jurnaba.co menemui Ali dan Lastik saat pasangan suami istri tersebut sedang mengumpulkan tembakau kering yang selesai dijemur di halaman rumahnya.
Keduanya memanfaatkan halaman dan sisi jalan depan rumah untuk menjemur tembakau hasil panen dari lahan pertanian miliknya. Deretan wadah bambu atau biasa disebut tampah nampak terjejer rapi di sekitar rumah Ali dan Lastik.
Baca Juga: Menengok Aktivitas Petani Tembakau di Bojonegoro
Pasangan yang berhasil naik haji berkat tembakau tersebut mengatakan jika musim kemarau tahun ini memberi berkah kepada mereka. Lastik menjelaskan jika harga jual tembakau di pengepul saat ini cukup tinggi. Satu kilogram tembakau kering dihargai Rp 31 ribu.
“Untuk tahun ini harga tembakau kering Rp 31 ribu. Itu untuk musim kemarau. Kalau musim hujan bisa turun drastis,” ujar nenek 3 cucu tersebut.
Ketika ditemui, Ali dan Lastik sedang mengumpulkan tembakau kering yang sudah siap dijual ke pengepul. Menurut Ali, total tembakau kering yang diolah dijemur di sekitar rumahnya mencapai setengah kuintal atau sekitar 50 kilogram.
Masih menurut Ali, jumlah tersebut sudah sangat besar. Karena, tiap 2 hingga 3 bulan sekali dia bisa panen. Dengan lahan yang cukup luas, Ali dan Lestik bisa mendapatkan keuntungan yang berlimpah dengan menanam tembakau.
“Kita panen dan olah sendiri untuk jadi tembakau kering. Nanti kita juga pengepul. Kebetulan pengepulnya tetangga sendiri, jadi lebih mudah,” ungkap Ali yang dulunya berprofesi sebagai guru SD tersebut.
Sebagai daerah dengan cuaca yang panas, Bojonegoro memang sangat cocok ditanami tembakau. Bahkan, tembakau juga jadi komoditi pertanian yang cukup identik dengan Kabupaten Bojonegoro. Kualitas yang bagus membuat tembakau asal Bojonegoro jadi favorit baik di dalam maupun luar negeri.
Baca Juga: Peran Positif Tembakau pada Pembangunan Ekonomi di Bojonegoro
Bupati Bojonegoro, Anna Mu’awanah juga berharap produksi tembakau di Bumi Angling Dharma terus bertambah. Bupati perempuan pertama di Bojonegoro tersebut berharap jika musim kemarau di Bojonegoro bisa dimaksimalkan oleh para petani tembakau.
“Saya berharap untuk saat ini jangan hujan dulu, supaya petani tembakau bisa panen secara maksimal,” kata Anna Mu’awanah saat memberi sambutan di Puskesmas Kalitidu (16/9/2019).
Sebagai daerah penghasil tembakau berkualitas, Bojonegoro memang jadi tumpuan. Kita tentu berharap agar petani tembakau di Bojonegoro bisa mendapatkan banyak berkah saat musim kemarau seperti ini.








