Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Alasan Etnis Rohingya Ditolak Warga Aceh

Meila Weeke Alfulana by Meila Weeke Alfulana
23/11/2023
in Cecurhatan
Alasan Etnis Rohingya Ditolak Warga Aceh

Kedatangan Etnis Rohingya di Aceh sudah menjadi tradisi tahunan. Kini, mereka mendapat penolakan warga. Apa alasannya?

Belakangan ini sedang geger di media sosial mengenai kasus penolakan warga aceh terhadap pengungsi rohingya. Rohingnya sendiri merupakan etnis minoritas dari Myanmar yang memeluk agama islam.

<span;>Mereka tinggal di sebelah barat laut myanmar yang berbatasan dengan Bangladesh atau yang sekarang dikenal  sebagai provinsi Rakhine.

<span;>Pada tahun 1962 atau sejak pemerintahan jenderal Ne Win, pemerintahan Myanmar berubah menjadi lebih otoriter yang menyebabkan banyak terjadi konflik dan diskriminasi antar etnis.

<span;>Sampai saat ini pemerintah menganggap Rohingya sebagai warga imigran gelap pelintas Bangladesh di Myanmar. Hal ini dilatarbelakangi karena Rohingya bukan salah satu etnis yang telah ada sebelum Myanmar merdeka pada tahun 1948.

Sedangkan berdasarkan UU Kewarganegaraan Myanmar tahun 1982, etnis yang diakui sebagai warga negara hanyalah etnis yang telah ada sebelum Myanmar merdeka. Imbasnya etnis Rohingya tidak mendapatkan status kewarganegaraan, pendidikan, layanan kesehatan dan pekerjaan yang layak.

Selain masalah heterogenitas etnis, konflik dan diskriminasi juga dilatarbelakangi oleh agama, ekonomi, superioritas etnis dan hak previllage pemerintah pada etnis tertentu. Sulitnya kehidupan etnis rohingya di Myanmar membuat mereka melarikan diri ke Negara lain yang dianggap lebih aman. Salah satu Negara yang kerap menjadi tujuan adalah Malaysia dan Indonesia.

Pengungsi Rohingya pertama kali masuk ke Indonesia pada tanggal 7 Januari 2009 dengan 193 orang pengungsi, yang terdampar di sabang provinsi Aceh Darussalam. Karena alasan kemanusiaan dan saudara seiman, masyarakat Aceh awalnya menerima dengan lapang pengungsi Rohingya.

Bahkan beberapa sumber mengatakan, masyarakat kala itu beramai ramai datang ke pengungsian untuk memberikan bantuan kemanusiaan. Satu bulan kemudian, 198 etnis Rohingya kembali terdampar di daerah Idi Rayeuk, Kabupaten Aceh Timur.

Pada 31 Maret 2015, pemerintah Myanmar menyatakan benar benar tidak mengakui etnis Rohingya sebagai warga Negara. Hal tersebut menjadi puncak dari banyaknya etnis Rohingya yang melarikan diri ke Negara lain termasuk Indonesia.

Belakangan ini terdapat ribuan pengungsi Rohingya di Indonesia. Pada hari minggu, 19 November 2023 terdapat 3 perahu berisi kurang lebih 500 pengungsi Rohingya yang telah tiba di provinsi Aceh. Satu kapal dengan 256 pengungsi tiba di Bireun, Aceh.

Sedangkan dua kapal lainnya yang berisi 239 dan 36 pengungsi Rohingya tiba di wilayah Pidi Aceh dan Aceh Timur. Sementara ini diperkirakan terdapat 800 pengungsi rohingya telah tiba di Aceh hanya dalam kurun waktu satu minggu terakhir.

Akibatnya tempat penampungan pengungsi penuh, salah satunya di gedung yayasan Mina Raya yang telah dipadati oleh 482 pengungsi Rohingya, 343 orang merupakan pengungsi baru dan sisanya merupakan pengungsi tahun sebelumnya.

Warga sekitar berpendapat, alasan pengungsi rohingya bisa sampai di Aceh adalah kapal tenggelam akibat mesin yang sengaja dipacu dengan kecepatan tinggi.

Kedatangan ribuan pengungsi Rohingya di Aceh seakan menjadi tradisi tiap tahun, hal ini tentu saja menjadi kasus yang harus mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah, belum lagi dengan banyaknya pelanggaran norma-norma yang telah dilakukan oleh pengungsi Rohingya, Salah satu warga lokal, Azwani (65) menegaskan bahwa, penolakan pengungsi Rohingya oleh warga akibat banyaknya pelanggaran norma yang telah dilakukan.

Siti Ikramatoun, seorang sosiolog dari Universitas Syiah Kuala berpendapat, penolakan warga Aceh terhadap pengungsi rohingya akibat akumulasi pengalaman tidak menyenangkan yang telah dilakukan oleh sebagian besar etnis Rohingya.

Pada dasarnya masyarakat Aceh memiliki prinsip untuk memuliakan tamu dan mewajibkan untuk menyelamatkan nyawa orang yang terancam di laut. Namun seiring berjalannya waktu, banyak kasus yang timbul akibat ulah dari pengungsi Rohingya. mulai dari kasus pelecehan, bertengkar dengan warga lokal dan melarikan diri dari tempat penampungan yang tentu saja mengikis simpati masyarakat.

Pada tahun 2022 warga desa Alue Buya Pasi kabupaten Bireun sempat meminta pihak UNHCR dan IOM untuk memindahkan pengungsi dari desa mereka. Warga lokal mengaku geram akibat banyak pengungsi Rohingya yang tidak taat aturan desa.

Tidak hanya masalah pelanggaran norma, di sisi lain terdapat alasan ekonomi yang tentu saja menjadi pertimbangan bagi pemerintah provinsi Aceh mengenai biaya hidup yang diberikan kepada pengungsi Rohingya selama ini. Seperti yang kita ketahui, pada tahun 2020 Aceh menempati urutan pertama termiskin di Sumatera dan urutan keenam secara nasional.

Banyaknya kasus pelanggaran norma dan masalah ekonomi seharusnya cukup untuk melatarbelakangi kasus penolakan warga Aceh terhadap pengungsi Rohingya. Memang alasan utamanya adalah mengenai kemanusiaan dan saudara seiman, namun sejauh ini masyarakat Aceh telah banyak membantu dalam masalah tersebut.

Meskipun masyarakat Aceh memberikan penolakan dan mendorong kembali kapal etnis Rohingya ke laut, masyarakat Aceh tetap memberi bantuan kemanusiaan yang cukup berupa sembako dan uang. Namun tidak sesuai dengan ekspektasi, etnis Rohingya justru membuang seluruh bantuan yang diberikan oleh masyarakat Aceh ke laut lepas.

Hal ini disampaikan oleh camat Jangka, Alfian. Ia menyampaikan, sebagian besar bantuan kemanusiaan yang diberikan oleh masyarakat Aceh dibuang di laut, seperti mie instan dan air kemasan. Tradisi etnis Rohingya yang terus berdatangan dan terus bertambah di Aceh harus mendapat sikap tegas dari pemerintah dan pihak terkait lainnya.

Apabila permasalahan ini tidak segera disikapi, tentu saja akan menimbulkan gesekan konflik yang lebih besar. Sejatinya, masyarakat memiliki hak untuk tidak menerima kembali pengungsi Rohingya di daerahnya. Ditambah dengan mempertimbangkan akumulasi pengalaman kurang menyenangkan yang dialami selama menerima kedatangan etnis Rohingya.

Tags: Etnis RohingyaWarga Aceh
Previous Post

Dari Percakapan di Pintu Pengasingan Hingga Impian Amerika: Hasil Mengunjungi Bazar Buku Dispusip Bojonegoro

Next Post

Haul Mbarangan, Menauladani Sisi Baik Para Leluhur

BERITA MENARIK LAINNYA

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah
Cecurhatan

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)
Cecurhatan

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah
Cecurhatan

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

Merawat Ingatan, Menyemai Masa Depan: GP Ansor Kota Batu Luncurkan Buku Sejarah

21/04/2026
Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

Pembawa Pendaratan di Planet Merah: Diaspora Iran Sebagai Komunitas Paling Berpendidikan di Amerika Serikat (2)

21/04/2026
‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

‎Bahas Dinamika Timur Tengah, PC ISNU Bojonegoro Gelar Diskusi Ilmiah

20/04/2026
Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

Di Bawah Langit Teheran, Anak-Anak Belajar Berdiri Sendiri

19/04/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: