Zainul “Kuk” meneleponku. Ia sudah di warung kopi Bento 1 yang berada di Jalan Pattimura. Warung itu berhadapan langsung dengan kantor dinas pendidikan dan berjajar dengan kantor dinas-dinas yang lain.
Kuk mengundangku untuk ke sana. Aku yang baru saja bangun tidur langsung pergi ke kamar mandi dengan sedikit sempoyongan karena sedikit flu dan batuk. Sebelum berangkat, masih kusempatkan membelikan ibu 5 kg gula pasir di musim kawinan. Dan mampir ke tempat print and foto copy untuk mencetak surat lamaran pekerjaan.
Hampir 45 menit setelah Kuk menelepon, aku baru sampai di lokasi. Kami membahas banyak hal, mulai dari pendidikan, seni, budaya, teknologi dan banyak hal lain yang menjadi kegelisahan bapak muda beranak satu ini.
Kemudian kami berpisah di jam 12.00 WIB (Waktu Indonesia Bojonegoro). Kuk keluar dari warung kopi terlebih dahulu, selang 30 menit aku baru keluar. Aku menaiki motor “Beat Ijo” di Jalan Pattimura yang sedikit lengang.
Tiba di depan kantor Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Bojonegoro tiba-tiba tanganku membelokkan motor ke halaman kantor. Suasananya begitu asing.
Aku telah punya beribu niat untuk ke tempat ini sejak dulu, tapi baru kali ini aku benar-benar berkunjung untuk mencari (bila cocok akan membeli) buku di bazar yang diadakan oleh Dispusip Bojonegoro dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Bojonegoro ke 346.
Adanya bazar buku bagi beberapa orang adalah kabar menggembirakan. Seperti kabar dari kekasih, bawaannya melow dan penuh kasih sayang. Bikin dada berdegup kencang dan tak sabaran.
Tapi sebagian orang lainnya, belum tentu merasakan hal yang sama. Bisa jadi biasa saja dan tak gugup mendengar kabar adanya bazar buku.
Bazar buku dan bazar sembako murah sama pentingnya. Meski murah, keduanya harus tetap berkualitas, jangan sampai buku-buku murah itu bajakan dan jangan sampai sembako itu sudah hampir kedaluarsa.
Tulisan ini tidak ada kaitannya dengan musim pemilu yang sedang memanas. Misalnya, membahas bazar sembako murah lebih dipilih menjadi senjata menaikkan elektabilitas calon DPR atau Presiden dibandingkan dengan bazar buku. Tidak!
Seperti yang penulis ungkapkan pada paragraf sebelumnya, bazar buku dan bazar sembako murah sama pentingnya bagi hajat hidup manusia. Hanya saja, bazar buku tidak mengenyangkan namun mencerdaskan.
Dengan cerdas seseorang mampu memahami hidup dengan baik dan banyak cara baik pula untuk menjadi kenyang.
Ah, mungkin lebih baik penulis menguraikan soal pengalaman mengunjungi bazar buku yang dilaksanakan oleh Dispusip Bojonegoro saja agar semua tetap kondusif, seperti tak ada antrean dan kerumunan di bazar buku itu.
Suasana begitu sepi, tampak dua lelaki sedang duduk di kursi dan meja bertulis “Kasir Bazar”. Beberapa ibu-ibu berseragam kantoran membolak-balikkan buku (bukan batin). Seorang laki-laki seumuranku, sama, mencoba memilih buku (seperti memilih jodoh).
Pemilihan kantor Dispusip sebagai tempat bazar buku ini bukan tanpa alasan, “Tujuannya kegiatan ini adalah gerakan literasi dalam rangka membudayakan gemar membaca masyarakat melalui penyediaan buku-buku berkualitas tetapi dengan harga yang sangat terjangkau. Selain itu kegiatan ini juga merupakan media sosialisasi dari Dinas Perpustakaan untuk lebih mengenalkan Perpustakaan Daerah kepada masyarakat,” ujar Erick Firdaus, Kepala Dispusip Bojonegoro, Rabu (8/10/23) seperti dikutip blok bojonegoro.
Sebelumnya, bazar buku serupa ini sering dilakukan di gedung Islamic Center Bojonegoro atau yang juga pernah di gedung Serba Guna PCK, Jalan Sawunggaling Kecamatan Bojonegoro. Pemilihan kantor Dispusip tentunya menjadi trobosan baru bagi pelaksana bazar buku di Bojonegoro.
Namun yang lebih penting dari mengenalkan Perpustakaan Daerah kepada masyarakat adalah langkah Dispusip membaca minat dan kecenderungan generasi muda di dunia literasi. Buku, kegiatan literasi, nampaknya lebih dapat dinikmati dengan secangkir kopi di kedai. Bolehlah jika bazar buku juga diadakan di kedai kopi yang santai. Selain itu, “pojok baca” di kedai kopi mungkin dapat menjadi program unggulan yang ugal-ugalan. Huihui.
** **
Dari bazar itu, aku menemukan beberapa buku dari penulis dan penerbit keren. Meski mendung, suasana agak “sumuk”. Butuh tenaga ekstra untuk mencari permata di tengah “umbruk-umnrukan” buku sebanyak itu. Akhirnya, buku terjemahan berjudul “Percakapan di Pintu Pengasingan” karya Ahmad Mathar penulis Irak aku beli dengan harga 20 k.
Setelah mondar-mandir, aku menemukan buku kumpulan cerpen Hamsad Rangkuti berjudul “Cemara” seharga 10 k. Buku lebar seperti LKS berjudul “Tembakau atau Mati” karya Wisnu Brata seharga 10 k. Dan terakhir, buku dari penulis kesukaanku, Kuntowijoyo berjudul “Impian Amerika” sebuah novel, aku dapatkan dengan harga 20 k.
Rp 60 ribu aku habiskan di bazar buku Dispusip Bojonegoro, dengan mendapatkan 4 buku. Entah setelah ini bagaimana nasib kopi. Ketika tulisan ini kalian baca, bazar itu telah berakhir.








