Sayyid dan Habib merupakan dua entitas berbeda. Sayyid dari Hijaz, sementara Habib dari Yaman. Berikut penjelasan ilmiah terkait kronologi, momen, dan tujuan mereka ke Bumi Nusantara.
KH Agus Sunyoto, sejarawan NU dan penulis Atlas Wali Songo menyebut, Islam masuk ke Nusantara sejak abad 7 M, di era Kerajaan Kalingga. Namun sifatnya masih individual (lewat para pedagang), belum bersifat komunal (masif dan sistematis).
Pada abad 9 hingga 10 M, para penyebar Islam dari Persia sudah mengawali masuk ke Nusantara. Mereka dikenal Keluarga Lor, yang membangun pemukiman di Jawa bernama pemukiman Loram (Loran). Di antara tokohnya bernama Fatimah binti Maimun hingga Syekh Subakir.
Pada abad 14 M, para pemuka Islam dari Iran, Maroko, dan Uzbekistan, yang leluhurnya berasal dari Hijaz, sudah berdatangan ke Nusantara dalam rangka persebaran Islam. Mereka adalah keluarga Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang menyebar ke berbagai wilayah.
Merekalah Sayyid Al-Kazimi Al Husaini dan Al-Jilani Al Hasani yang datang ke Nusantara. Para Sayyid Hijaz ini datang ke Nusantara membawa sikap ramah berbasis kearifan lokal. Di antara tokoh-tokohnya bernama Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Datuk Kahfi, Sayyid Jumadil Kubro, hingga Sayyid Hasanudin Quro.
Mereka menanggalkan budaya asal, untuk berasimilasi dan berakulturasi dengan warga Nusantara. Mereka masuk ke lingkungan Keluarga Para Raja, dengan misi memperbesar persebaran Islam. Misi mereka, secara lebih masif, kelak dilanjutkan Majelis Wali Songo pada abad 15 M. Dari proses asimilasi itu, kelak lahir rumpun Sadah Al Jawi, keturunan Sayyid Hijaz di Nusantara.

Sejak abad 15 M ini, Islam sudah sangat besar di Nusantara. Banyak Sadah Al Jawi yang jadi pemuka Islam, khususnya dari lingkungan kerajaan/kesultanan. Para Sadah Al Jawi ini menjadikan ajaran Islam memiliki wajah yang khas Nusantara. Ajaran Islam berbasis keramah-tamahan dan kearifan lokal Nusantara.
KH Agus Sunyoto menjelaskan, Para Sayyid Hijaz (Makkah -Madinah) datang ke Nusantara secara bergelombang-gelombang. Pada gelombang kedatangan Sayyid Hijaz berikutnya, Nusantara sudah terdapat banyak Sadah Al Jawi. Kedatangan Sayyid Hijaz pada gelombang berikutnya ini, sudah mendapat sambutan hangat kalangan Kesultanan Nusantara.
Gelombang Kedatangan Berikutnya
Pada 1790 M (akhir abad 18 M), konflik besar terjadi di Makkah – Madinah (Hijaz). Konflik ini disebabkan gerakan pemurnian Kaum Wahabi di Makkah. Para Sayyid banyak yang dieksekusi dan diburu Kaum Wahabi. Walhasil, Para Sayyid dari Hijaz ini mencari suaka hidup di Nusantara.
Para Sayyid dari Hijaz ini, ditampung dan dicarikan tempat oleh pemimpin kala itu, yaitu Sultan Hamengkubuwana II. Oleh Hamengkubuwana II, mereka diberi tempat untuk hidup di sekitar Jogja. Tempat ini kelak dikenal dengan istilah wilayah Sayyidan. Para Sayyid dari Hijaz itu hidup di Kampung Sayyidan.
Sultan Hamengkubuwana II adalah kakek dari Pangeran Diponegoro. Kelak ketika Pangeran Diponegoro mengangkat senjata pada (1825-1830 M), Para Sayyid dari Hijaz yang berada di Kampung Sayyidan ini ikut mendukung perang yang dikomandoi Pangeran Diponegoro tersebut.
Saat Pangeran Diponegoro kalah perang dan ditangkap Belanda pada 1830 M, Para Sayyid dari Hijaz beserta para pengikut Diponegoro lainnya tak mau menyerah. Mereka melarikan diri dan menyebar ke berbagai daerah. Mereka tetap menyimpan bara perlawanan pada para penjajah, sekaligus mendakwahkan Islam di daerah persembunyian.
Gelombang Kedatangan Berikutnya
KH Agus Sunyoto menjelaskan, pada 1832 M, dua tahun setelah Perang Diponegoro padam, Penjajah Belanda mendatangkan para Habib dari Yaman ke Nusantara. Inilah pertamakali Habib Yaman berada di Nusantara. Habib Yaman datang ke Nusantara, saat Islam sudah besar.
Para Habib dari Yaman ini, tidak mengalami ikut perang terhadap Belanda. Sebab, mereka didatangkan langsung oleh Belanda sendiri. Di Nusantara, Habib dari Yaman diangkat Belanda menjadi Kapitan Arab, Mufti, dan sejumlah jabatan administratif lainnya.
Habib Yaman ditugaskan Belanda menjaga stabilitas keamanan dalam bidang keagamaan. Sebab, pasca Perang Diponegoro, pemberontakan dari Kaum Tarekat masif menyerang Belanda.
Belanda merasa kewalahan menghadapi serangan Kaum Tarekat. Untuk meredam perlawanan Kaum Tarekat, Belanda mendatangkan Habib Yaman. Tugas mereka adalah membuat fatwa bahwa Tarekat itu haram. Tujuannya, agar serangan dari Kaum Tarekat pada Belanda melemah.
Dalam keterangan KH Agus Sunyoto, Sayyid Hijaz berbeda dengan Habib Yaman. Baik secara genealogi, kecenderungan, maupun tugasnya di Nusantara. Sayyid Hijaz datang ke Nusantara untuk berdakwah dan berasimilasi dengan warga lokal. Habib Yaman didatangkan Belanda, tak heran jika mereka cenderung membangun sekat feodal ala-ala penjajahan Belanda.







