Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Beda Sayyid dan Habib Menurut KH Agus Sunyoto

Muhammad Arif by Muhammad Arif
02/08/2024
in Peristiwa
Beda Sayyid dan Habib Menurut KH Agus Sunyoto

Para Sayyid: Egaliter dan Berasimilasi

Sayyid dan Habib merupakan dua entitas berbeda. Sayyid dari Hijaz, sementara Habib dari Yaman. Berikut penjelasan ilmiah terkait kronologi, momen, dan tujuan mereka ke Bumi Nusantara. 

KH Agus Sunyoto, sejarawan NU dan penulis Atlas Wali Songo menyebut, Islam masuk ke Nusantara sejak abad 7 M, di era Kerajaan Kalingga. Namun sifatnya masih individual (lewat para pedagang), belum bersifat komunal (masif dan sistematis).

Pada abad 9 hingga 10 M, para penyebar Islam dari Persia sudah mengawali masuk ke Nusantara. Mereka dikenal Keluarga Lor, yang membangun pemukiman di Jawa bernama pemukiman Loram (Loran). Di antara tokohnya bernama Fatimah binti Maimun hingga Syekh Subakir.

Pada abad 14 M, para pemuka Islam dari Iran, Maroko, dan Uzbekistan, yang leluhurnya berasal dari Hijaz, sudah berdatangan ke Nusantara dalam rangka persebaran Islam. Mereka adalah keluarga Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain yang menyebar ke berbagai wilayah.

Merekalah Sayyid Al-Kazimi Al Husaini dan Al-Jilani Al Hasani yang datang ke Nusantara. Para Sayyid Hijaz ini datang ke Nusantara membawa sikap ramah berbasis kearifan lokal. Di antara tokoh-tokohnya bernama Sayyid Maulana Malik Ibrahim, Sayyid Datuk Kahfi, Sayyid Jumadil Kubro, hingga Sayyid Hasanudin Quro.

Mereka menanggalkan budaya asal, untuk berasimilasi dan berakulturasi dengan warga Nusantara. Mereka masuk ke lingkungan Keluarga Para Raja, dengan misi memperbesar persebaran Islam. Misi mereka, secara lebih masif, kelak dilanjutkan Majelis Wali Songo pada abad 15 M. Dari proses asimilasi itu, kelak lahir rumpun Sadah Al Jawi, keturunan Sayyid Hijaz di Nusantara.

 

Para Sayyid: Egaliter dan Berasimilasi dengan kearifan lokal Nusantara.

Sejak abad 15 M ini, Islam sudah sangat besar di Nusantara. Banyak Sadah Al Jawi yang jadi pemuka Islam, khususnya dari lingkungan kerajaan/kesultanan. Para Sadah Al Jawi ini menjadikan ajaran Islam memiliki wajah yang khas Nusantara. Ajaran Islam berbasis keramah-tamahan dan kearifan lokal Nusantara.

KH Agus Sunyoto menjelaskan, Para Sayyid Hijaz (Makkah -Madinah) datang ke Nusantara secara bergelombang-gelombang. Pada gelombang kedatangan Sayyid Hijaz berikutnya, Nusantara sudah terdapat banyak Sadah Al Jawi. Kedatangan Sayyid Hijaz pada gelombang berikutnya ini, sudah mendapat sambutan hangat kalangan Kesultanan Nusantara.

Gelombang Kedatangan Berikutnya

Pada 1790 M (akhir abad 18 M), konflik besar terjadi di Makkah – Madinah (Hijaz). Konflik ini disebabkan gerakan pemurnian Kaum Wahabi di Makkah. Para Sayyid banyak yang dieksekusi dan diburu Kaum Wahabi. Walhasil, Para Sayyid dari Hijaz ini mencari suaka hidup di Nusantara.

Para Sayyid dari Hijaz ini, ditampung dan dicarikan tempat oleh pemimpin kala itu, yaitu Sultan Hamengkubuwana II. Oleh Hamengkubuwana II, mereka diberi tempat untuk hidup di sekitar Jogja. Tempat ini kelak dikenal dengan istilah wilayah Sayyidan. Para Sayyid dari Hijaz itu hidup di Kampung Sayyidan.

Sultan Hamengkubuwana II adalah kakek dari Pangeran Diponegoro. Kelak ketika Pangeran Diponegoro mengangkat senjata pada (1825-1830 M), Para Sayyid dari Hijaz yang berada di Kampung Sayyidan ini ikut mendukung perang yang dikomandoi Pangeran Diponegoro tersebut.

Saat Pangeran Diponegoro kalah perang dan ditangkap Belanda pada 1830 M, Para Sayyid dari Hijaz beserta para pengikut Diponegoro lainnya tak mau menyerah. Mereka melarikan diri dan menyebar ke berbagai daerah. Mereka tetap menyimpan bara perlawanan pada para penjajah, sekaligus mendakwahkan Islam di daerah persembunyian.

Gelombang Kedatangan Berikutnya

KH Agus Sunyoto menjelaskan, pada 1832 M, dua tahun setelah Perang Diponegoro padam, Penjajah Belanda mendatangkan para Habib dari Yaman ke Nusantara. Inilah pertamakali Habib Yaman berada di Nusantara. Habib Yaman datang ke Nusantara, saat Islam sudah besar.

Para Habib dari Yaman ini, tidak mengalami ikut perang terhadap Belanda. Sebab, mereka didatangkan langsung oleh Belanda sendiri. Di Nusantara, Habib dari Yaman diangkat Belanda menjadi Kapitan Arab, Mufti, dan sejumlah jabatan administratif lainnya.

Habib Yaman ditugaskan Belanda menjaga stabilitas keamanan dalam bidang keagamaan. Sebab, pasca Perang Diponegoro, pemberontakan dari Kaum Tarekat masif menyerang Belanda.

Belanda merasa kewalahan menghadapi serangan Kaum Tarekat. Untuk meredam perlawanan Kaum Tarekat, Belanda mendatangkan Habib Yaman. Tugas mereka adalah membuat fatwa bahwa Tarekat itu haram. Tujuannya, agar serangan dari Kaum Tarekat pada Belanda melemah.

Dalam keterangan KH Agus Sunyoto, Sayyid Hijaz berbeda dengan Habib Yaman. Baik secara genealogi, kecenderungan, maupun tugasnya di Nusantara. Sayyid Hijaz datang ke Nusantara untuk berdakwah dan berasimilasi dengan warga lokal. Habib Yaman didatangkan Belanda, tak heran jika mereka cenderung membangun sekat feodal ala-ala penjajahan Belanda.

Tags: Beda Sayyid dan HabibMakin Tahu IndonesiaSadah Al Jawi
Previous Post

FTBM Bojonegoro Luncurkan Gerakan Merdeka Literasi

Next Post

Makna Kunjungan Syekh Al-Azhar ke Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi
Peristiwa

Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi

07/09/2026
DPRD Bojonegoro dan Dewan Pendidikan Susun Peta Jalan serta Evaluasi Regulasi
Peristiwa

DPRD Bojonegoro dan Dewan Pendidikan Susun Peta Jalan serta Evaluasi Regulasi

07/09/2026
Komunitas Lari Bojonegoro Galang Dana untuk Korban Bencana Gempa Nusa Tenggara Timur dan Kebakaran di Kalimantan
Peristiwa

Komunitas Lari Bojonegoro Galang Dana untuk Korban Bencana Gempa Nusa Tenggara Timur dan Kebakaran di Kalimantan

04/09/2026

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Atasan Cuma Bilang “OKE”, Kenapa Kita Overthinking?

Atasan Cuma Bilang “OKE”, Kenapa Kita Overthinking?

10/09/2026
Bolehkah Isi Perut Bumi Bojonegoro Dibedah?

Bolehkah Isi Perut Bumi Bojonegoro Dibedah?

08/09/2026
Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi

Relima Perpusnas RI Gelar Kelas Menulis: Bojonegoro dalam Sepotong Puisi

07/09/2026
DPRD Bojonegoro dan Dewan Pendidikan Susun Peta Jalan serta Evaluasi Regulasi

DPRD Bojonegoro dan Dewan Pendidikan Susun Peta Jalan serta Evaluasi Regulasi

07/09/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: