Saat orang lain bersedih dan tiba-tiba kau merasakan sedih yang sama, lalu dengan cekatan, kau ulurkan bahumu sebagai tempat bertumpu, adalah empati.
Sebuah video dokumentasi monyet Langur di India yang ditayangkan channel YouTube BBC Earth, cukup memicu saya termenung. Video berdurasi 1.26 menit itu, menunjukkan betapa monyet memiliki empati.
Untuk membikin dokumentasi kehidupan monyet Langur di India, kru Spy in the Wild — tim kreatif yang membikin video tersebut — menggunakan monyet animatronik yang dilengkapi kamera bawaan. Ia semacam monyet penyusup.
Para monyet menerima bayi monyet palsu — yang dilengkapi kamera — itu ke tengah-tengah mereka. Lalu, salah satu dari monyet tersebut, dengan sikap keibuan, mencoba mendekati bayi monyet itu serupa ia mendekati anaknya sendiri.
Namun, saat monyet keibuan itu mendekati dan menyenggolnya, si monyet palsu kecil itu langsung terjatuh. Dan tentu saja, si monyet palsu itu tidak bangun. Sebab, ia bukan monyet sungguhan. Ia monyet-monyetan.
Kemudian, para monyet sungguhan mengelilingi sosoknya yang diam dan (seolah) sudah tak bernyawa tersebut. Tak diduga, monyet-monyet sungguhan itu saling menghibur dalam pelukan yang muram. Menghibur-dalam-pelukan-yang-muram.
Monyet keibuan yang tak sengaja menjatuhkan monyet kecil palsu itu, tampaknya percaya bahwa makhluk mungil itu telah mati. Yang terjadi selanjutnya, sebuah momen mengharukan.
Para monyet itu memeluk satu sama lain. Mereka berduka. Dan serupa manusia, mereka menguatkan satu dengan yang lainnya. Mereka tak mengatakan jika mereka sedang bersedih, tapi apa yang mereka lakukan menggambarkan sebuah kesedihan.
Bukankah kesedihan atau kebahagiaan yang tak dikatakan — dan hanya tergambar dari laku dan gerak-gerik kecil dari tubuh — justru lebih memberi tahu dan sangat amat menjelaskan?
Nabs, kamu tak perlu menjadi ahli perilaku hewan untuk mengenali apa yang terjadi dalam adegan di dalam video tersebut. Yang jelas, tak hanya manusia yang berkabung kala sesamanya mati, monyet pun iya.
Kita mungkin menganggap bahwa kesedihan merupakan pengalaman unik yang hanya dimiliki oleh manusia. Namun ternyata, monyet pun merasakan perkara yang sama.
Apa yang dilakukan para monyet Langur di India tersebut, mengingatkan saya akan sebuah sifat istimewa yang konon hanya dimiliki primata berlabel manusia: Empati.
Empati, secara umum bisa dimaknai sebagai keinginan untuk menolong sesama, mengalami emosi yang serupa dengan emosi orang lain, mengetahui apa yang orang lain rasakan dan pikirkan, sekaligus mengaburkan garis antara diri dan orang lain.
Saat orang lain bersedih dan tiba-tiba kau merasakan sedih yang sama, lalu dengan cekatan, kau ulurkan bahumu sebagai tempat bertumpu, adalah empati. Di situlah, kita layak disemat sebagai manusia.
Para monyet yang berada di dalam video dokumenter itu seolah menonjok saya dengan sebuah pertanyaan: kapan terakhir kali kamu berempati pada sesamamu?








