Sekitar 2014 lalu, tren kekopian sudah mulai diminati masyarakat Bojonegoro. Beberapa pegiat kopi sajian pun bermunculan. Antara lain, owner Kissaten, Ari Sujatmiko.
Ari mengaku sudah menyukai kopi sejak lama. Pemuda ini gemar meminum kopi tanpa gula. Dulu, dia sering datang ke coffee shop menikmati minuman hitam kental tersebut.
Hal itu sering dia lakukan saat masih tinggal di Surabaya. Dan sejak saat itu, munculah rasa penasaran terkait kopi tersebut.
“Rasa satu menu yang sama setiap coffee shop itu beda-beda. Waktu itu saya coba minum cappucino. Kok aneh?” kata Ari.
Pada 2014, dia mulai tertarik dengan varian kopi. Mulai dari ragam jenis kopi hingga berbagai cara penyeduhannya. Awalnya, dia bertanya-tanya di tiap coffee shop yang dikunjungi. Dia pun mencari tahu melalui internet.
Dari situ, Ari belajar mengenai jenis-jenis kopi. Dia baru tahu ternyata banyak sekali jenis kopi nusantara. Misalnya Toraja, Sidikalang, Kintamani, Aceh Gayo dan lain sebagainya.
Kemudian, dia belajar tentang bagaimana sih cara mengolah kopi? Mulai dari pemetikan buah, pemanggangan biji kopi, penggilingan, hingga penyeduhan.
“Kalau dibilang sih saya belajarnya otodidak. Belajar sendiri dari internet dan sharing dengan teman-teman pegiat kopi,” tukas bapak 1 anak ini.
Ketika pulang ke Bojonegoro, Ari berkeliling ke berbagai kafe yang ada. Dia mencari tempat dengan varian menu kopi dan cara penyeduhan. Namun, dia tidak menemukan apa yang dia cari. Akhirnya, Ari kembali lagi ke Surabaya.
“Di Surabaya itu aku sering datang ke Coffee Toffee dan Bengawan Solo. Aku tanya-tanya dan ngobrol banyak sama baristanya.” ujar pria kelahiran 1987 itu.
Banyak tahu tentang kopi tidaklah cukup bagi Ari. Dia merasa butuh praktik dari pengalaman yang didapat. Akhirnya, Ari memutuskan membeli beberapa alat pengolah biji kopi. Dari proses belajar kala itu, 1 kilo kopi dia habiskan dalam waktu seminggu.
“Aku masih ingat, pertama kali saya beli kopi itu kopi toarco, jenis Toraja. Aku sampai kembung tiap kali harus minum kopi. hehehe,” kata salah satu perintis Komunitas Penyeduh Kopi Bojonegoro ini.
Hobinya dalam menyeduh kopi pun membuahkan prestasi. Dia sempat mengikuti beberapa kompetisi barista. Pada 2017, Ari memperoleh juara 2 Cup Taster Battle di Coffee Art Sidoarjo. Beberapa kali dia juga jadi juri di ajang kompetisi lokal di Bojonegoro.
Menurut Ari, masyarakat Bojonegoro sudah mulai bisa mengenal dan menikmati kopi manual brew. Terbukti dengan semakin banyaknya coffee shop manual brew di Bojonegoro. Meskipun begitu, pasar dalam bisnis kopi ini masih tergolong segmented.
“Di Bojonegoro sendiri sudah berjalan maju, tapi masih lambat,” imbuh Ari.
Ari beberapa kali terlibat di event kopi Bojonegoro. Dia sempat menjadi panitia acara Festival Kopi dan Kuliner Bojonegoro di KDS. Tak hanya itu, Ari juga pernah menjadi juri dalam kompetisi manual brew di Bojonegoro.
Selama ini, Ari selalu termotivasi dari 2 sosok yang dia idolakan. Hendri Kurniawan dari ABCD Kopi dan Adi W. Taroepratjeka, pemandu acara kopi di stasiun tv swasta. Kedua sosok itulah yang selama ini menginspirasi Ari untuk terus belajar tentang kekopian.








