Aku sudah berjalan setidaknya 3 kilometer sejak turun dari bus yang kunaiki dari terminal Bojonegoro menuju terminal Betek. Ini pertama kalinya, dan entah apa yang membawaku sampai sejauh ini.
Ada tiga tukang ojek yang sudah menawarkan untuk mengantarku, tapi aku ingin berjalan. Mungkin untuk melampiaskan rasa kesal di hatiku. Berbulan-bulan sudah aku tak menulis.
Tak ada ide untuk disalurkan. Dan untuk itu aku pergi ke terminal, menaiki bus ketiga yang melintas, kemana pun itu akan membawaku.
Aku turun di terminal kedua di mana bus berhenti, dan memutuskan untuk berjalan tanpa arah. Entah kemana pun itu. Aku tidak tahu. Di gapura sebuah desa yang pertama kulihat, aku akan berhenti.
Tapi ini sudah satu jam aku berjalan kaki, kira-kira sudah 3 kilometer yang kutempuh, tapi belum ada tanda-tanda bahwa aku akan melihat perkampungan warga.
Aku mulai terpkir untuk berhenti saja di hutan ini. Barangkali ada sesuatu yang bisa kutulis. Setelah melewati satu jembatan kecil, aku masuk menapaki hutan jati. Ada banyak ulat hitam kecil bergelantungan.
Aku baru sadar jika ini sedang musimnya jati meranggas. Ulat-ulat memakan daun-daun jati hingga tinggal kerangkanya saja. Lantas, ulat-ulat itu akan turun, bergelantungan, dan menjadi kepompong.
Setelahnya mungkin jadi kupu-kupu… jika beruntung. Sebagian besar tidak. Tapi apa melanjutkan hidup bisa disebut dengan keberuntungan? Entahlah.
Aku mulai melihat sungai…dan hewan-hewan gembala yang sedang dimandikan. Ada rombongan kambing dan beberapa ekor sapi. Kupercepat langkahku karena sejujurnya aku sudah sangat merasa haus.
Barangkali penggembala hewan-hewan itu mau membagikan air minumnya padaku.
“Kulonuwun, Pak. Nderek tangklet, niki deso pundi nggih?” kucoba berbahasa jawa sebisaku.
“Niki Senganten. Lha, Mase bade teng pundi? Saking pundi?”
“Kulo saking Bojonegoro, Pak. Bade rekreasi mawon.”
“Lha pripun to? Rekreasi kok teng mriki? Lha bade ningali nopo? Nopo bade teng Waduk Pacal?” Bapak paruh baya tersebut ikut bingung, mengira aku sedang tersesat. Padahal memang sudah tujuanku menyesatkan diri ke tempat yang antah berantah.
“Mboten, Pak.” Aku bingung sendiri bagaimana menjelaskan maksudku.
“Pak, angsal nedi toyone?”
“Niki, diunjuk mawon.” Dia menyodorkan botol air mineral yang telah lusuh dan dibalut dengan plastik berwarna hitam.
Kuminum satu teguk, rasanya aneh, kemudian dua dan tiga teguk lagi, dan entah sampai berapa teguk. Aku begitu kehausan. Bapak tadi hanya menyaksikanku menghabiskan air minumnya. Mungkin karena merasa iba, ia merelakan bekal minum itu untukku.
Setelah berbincang beberapa lama dan menjelaskan maksud kedatanganku kemari, dia akhirnya mengerti dan mengajakku untuk mampir ke rumahnya.
Kami menyusuri jalan setapak sepanjang aliran anak sungai ini. Lantas di bagian yang dangkal, kami menginjak batu-batu besar untuk menyebrangi sungai. Sedang hewan gembalanya diikat di tongkat-tongkat yang sudah menancap di tanah.
“Monggo, mriki. Saget nyebrang nopo mboten?”
“Saget, Pak.”
Aku mengikuti Pak Topo, naik ke atas, memasuki perkampungan warga. Sepanjang perjalanan, Pak Topo terus diberondong pertanyaan soal siapa identitasku oleh warga yang melihat kami.
“Sinten, Pak?”
“Tamu saking pundi?”
“Larek’e to, Pak?”
Dan berbagai macam pertanyaan lainnya. Aku baru sadar bahwa suasana di desa begitu jauh dengan tempatku tinggal. Di sini, setiap orang hafal betul tetangganya, sehingga ketika ada orang asing sepertiku datang, mereka akan segera mencari tahu.
Rupanya Pak Topo ini adalah Kamituo di sini. Entah jabatan apa itu, mungkin semacam kepala dusun, dan itu membuatnya dihormati oleh penduduk di sini.
Kami sampai di rumah Pak Topo, disambut istrinya dengan secangkir kopi panas buatan sendiri. Ini kopi tumbuk dengan aroma khas yang pertama kali kuminum. Begitu segar, aku bertanya apa saja yang menjadi campuran kopinya.
“Campuran nopo to, Mas. Nggih kopi niku, diparingi beras kalih irisan kelopo sekedik. Samoun niku mawon.” Jawab Bu Topo, istri dari Pak Topo.
Entah siapa nama aslinya. Setiap perempuan yang sudah menikah di sini selalu dipanggil dengan nama suaminya dan ditambahi “Bu” di depannya.
Tiba-tiba aku teringat Pacarku, Sandi. Jika dia ada di sini, mungkin sudah menggerutu habis-habisan. Maklum, dia feminis garis keras. Tapi kini sedang berada di Jakarta untuk sebuah penelitian. Sandi, pacarku, seorang perempuan. Namanya memang mirip lelaki.
“Buk, kopine eco.”
“Eco nopo to, Mas. Sami mawon. Kopi teng mriki gih ngeten niki.”
“Sa’estu. Niki eco sanget. Gurih.”
Aku bercerita pada Pak dan Bu Topo soal pekerjaanku dan alasan yang mendorongku kemari. Mereka sepertinya masih agak bingung dengan pekerjaanku, tapi tetap menawariku tumpangan untuk bermalam. Kukira memang sebaiknya aku bermalam di sini.
Malam di sini begitu petang. Tak banyak pencahayaan, tapi jika menengadah ke atas, maka bintang-bintang bertebaran terlihat jelas. Aku memutuskan untuk mengambil senter dari tasku dan pergi ke bukit di belakang rumah Pak Topo. Bintang-bintang menarik perhatianku. Semakin naik ke atas bukit, maka bintang-bintang akan terasa lebih dekat.
Aku berdiri tepat di atas bukit. Menengadah ke atas sampai leherku terasa sakit. Angin di sini begitu kencang. Baju dua lapis yang kukenakan seperti tak ada artinya.
Aku memutuskan kembali sebelum masuk angin dan merepotkan keluarga Pak Topo. Di sepanjang perjalanan pulang, aku mendengar lolongan anjing liar. Seperti lolongan serigala yang kesepian, yang merindui bulan.
Aku berhenti sejenak, merogoh sakuku untuk menelepon Sandi. Sudah berapa lama aku tak menghubunginya? Tiga bulan? Mungkin juga lebih. Kutelpon Sandi. Wajahnya muncul dalam panggilan itu.
Tuuuttttt…tuuuutttttt…tuuuttttt…
“Halo?”
“Halo.”
Sejenak hening. Bagaimana aku harus memulai percakapan setelah sekian lama menghilang? Dia juga diam. Membiarkanku terlebih dahulu bicara.
“Gimana kabarmu?”
“Baik.”
“Syukurlah.”
Dia tidak menanyakan kembali kabarku. Mungkin marah.
“Kerjaan lancar?”
“Lancar.”
“Aku kangen.”
“Sama. Kenapa jadi asing begini sih? Aku nggak suka.” Protesnya dalam telpon. Dia menangis.
Aku diam mendengarkan tangisannya. Rupanya sebegitu menyebalkannya aku baginya. Dan separah ini aku tk menyadari perlakuan jahatku padanya. Membiarkan hubungan kami terkatung-katung tidak jelas selama tiga bulan, yang membuatnya sedih.
Setelah keadaan membaik, kami berbincang seperti biasa. Aku menceritakan padanya perihal writer block yang kualami dan perjalanan yang kutempuh, juga tentang Pak Topo dan keluarganya yang telah berbaik hati padaku.
“Sudah ada ide.”
“Sudah. Dua.”
“Mau nulis apa jadinya?”
“Kehidupan di sini.”
“Satu lagi?”
“Kamu.”
“Hah? Soal apaan?”
“Selamat malam.”
“Yaah, cepet banget sih. Yaudah, selamat malam.”
Kututup panggilan itu. Di kaki bukit ini, tempatku berdiri sekarang, aku mulai mengetik tentang kerinduanku pada Sandi lewat dongeng tentang serigala yang kesepian.
Mitologi Yunani soal serigala ini bisa kuceritakan kembali dengan penambahan dan penghilangan di beberapa bagian. Lolongan ini harus ditulis agar sampai padanya. Entah lewat bisikan angin atau guratan kaca di kamarnya.








