Jurnaba
Jurnaba
No Result
View All Result
Jurnaba

Bojonegoro Nadikerta, Denyut Nadi Nusantara

A Wahyu Rizkiawan by A Wahyu Rizkiawan
14/08/2024
in Destinasi
Bojonegoro Nadikerta, Denyut Nadi Nusantara

Jembatan Malo, Nadikerta Bojonegoro.

Sejak abad 10 M, Bojonegoro tercatat sebagai Nadikerta, Kota Bengawan penjaga denyut Nusantara.

Meski kontribusinya kerap terlupakan, sungai Bengawan merupakan satu-satunya Sumber Daya Alam (SDA) paling teruji dalam rangka memakmurkan Bojonegoro. Meski namanya hanya diingat kala terjadi bencana, sungai Bengawan pernah membawa nama Jipang (Bojonegoro) sebagai titik kunci peradaban Nusantara.

Njipangan: Wangsa Bengawan pengendali Peradaban Pesisir dan Pegunungan

Sungai Bengawan merupakan aset utama Kota Bojonegoro. Sungai terpanjang di Pulau Jawa itu, pernah menyemat Bojonegoro sebagai pengendali kemakmuran wilayah Hulu dan Hilir. Posisi Bojonegoro sebagai “jantung” Bengawan, membuatnya dikenal sebagai pengendali “ekor” dan “kepala” sungai Bengawan.

Sampai 1857, sungai di sepanjang Bojonegoro bernama Bengawan, bukan Bengawan Solo. Istilah Bengawan sangat identik Jipang (Bojonegoro), sebagai pusat para “Begawan” atau Brahmana. Sungai Bengawan membentang dari Babat Lamongan sampai Ngawi. Ini sesuai catatan  Nederlands Oost (1857) yang ditulis A. J. van der Aa.

Terlebih, Bojonegoro merupakan wilayah paling dominan terhadap sungai Bengawan, melebihi wilayah lainnya. Ini penting untuk diketahui. Sebab, dominasi ini terbukti empiris. Data dari Balai PSDA Bengawan Solo (2006) mengatakan, Bojonegoro wilayah terluas dan paling panjang dilintasi Sungai Bengawan.

Data Balai PSDA Bengawan Solo (2006). Dominasi Bojonegoro atas Sungai Bengawan.

Dari data di atas, terlihat secara sahih bahwa Bojonegoro menjadi wilayah paling luas (2,307.06 km2), sekaligus paling besar prosentasenya (10,84 persen). Bojonegoro berada jauh di atas Lamongan, Tuban, dan Gresik. Bahkan, dominasi Bojonegoro terhadap sungai Bengawan, 53 kali lipat dominasi Surakarta (Solo) yang hanya 44,03 km / 0,21 persen.

Identitas Bojonegoro sebagai imperium pengendali Bengawan, memiliki landasan historis dan literatur yang cukup kuat. Sejak masih bernama Jipang, Bojonegoro sudah identik sebagai pengendali Hulu (Wonogiri) dan Hilir (Gresik). Seperti disinggung Thomas Raffles dalam History of Java, makmur tidaknya Hulu dan Hilir Bengawan, tergantung Jipang (Bojonegoro).

Landasan Historis

Bojonegoro (Jipang) merupakan pewaris Wangsa Bengawan, penguasa maritim sungai yang kedigdayaan sungainya tercatat empiris sejak masa pemerintahan Raja Dyah Balitung (Medang Kuno), Raja Airlangga (Medang Kahuripan), Raja Wisnuwardhana (Singashari), hingga pemerintahan Raja Hayam Wuruk (Majapahit).

Hampir mayoritas Maharaja Jawa, selalu meninggalkan jejak empiris di wilayah Bojonegoro. Jejak itu berupa catatan prasasti, yang menggambarkan besarnya kontribusi masyarakat Bojonegoro dalam mengelola dan mengendalikan sungai.

Jipang (Bojonegoro) punya kontribusi besar bagi denyut nadi Nusantara. Secara ilmiah, ini bisa dilihat melalui Prasasti Telang (903 M), Prasasti Sangsang (907 M), Prasasti Pucangan (1041 M), Prasasti Maribong (1248 M), dan Prasasti Canggu (1358 M).  Tiga prasasti yang ditulis secara urut pada abad 10 M, abad 11 M, 13 M, dan 14 M itu, menyebut digdayanya Jipang (Bojonegoro) sebagai pengendali maritim sungai.

Prasasti Telang (903 M) dan Prasasti Sangsang (907 M) adalah prasasti yang ditulis di era Raja Dyah Balitung, penguasa Medang Kuno. Dua prasasti ini merupakan bukti berapa digdayanya pengelolaan sungai di wilayah Bojonegoro.

Di setiap Kemaharajaan, Jipang selalu menjadi vasal Istimewa. Pada era kemaharajaan Kahuripan, Singashari, dan Majapahit misalnya, Jipang dikenal sebagai vasal Brahmana. Vasal yang tak dipimpin seorang Bhre (Bathara), tapi dipimpin Brahmana. Sehingga, Jipang memiliki hak otonom mengelola wilayah sendiri.

Jipang sebagai entitas Wangsa Bengawan,  merupakan penyeimbang peradaban Pesisir dan Pegunungan. Penyeimbang Sriwijaya dan Medang Kuno, seperti disinggung dalam Prasasti Pucangan (1041 M). Pemersatu Jenggala dan Panjalu, seperti disinggung dalam Prasasti Maribong (1248 M).

Maka bukan kebetulan jika dalam Prasasti Canggu (1358 M), Raja Hayam Wuruk Majapahit memberi banyak titik Naditira Pradesa (Pelabuhan Sungai). Penguasa terbesar Majapahit itu, menetapkan Jipang sebagai wilayah paling banyak Pelabuhan Sungainya, dibanding wilayah lain.

Seperti dicatat J. Noorduyn dalam Further Topographical Notes on the Ferry Charter of 1358, ada sebanyak 17 pelabuhan Naditira Pradeca di wilayah Jipang. Titiknya tersebar dari Jipang Hulu (Margomulyo) hingga Jipang Hilir (Baureno). Artinya, Jipang memiliki paling banyak Naditira Pradeca dibanding wilayah-wilayah lain yang juga dilintasi Sungai Bengawan.

Daftar titik Naditira Pradeca (1358 M) sungai Bengawan.

Prasasti Canggu (1358 M) yang ditulis Raja Hayam Wuruk dan dikeluarkan secara resmi oleh Kerajaan Majapahit itu, telah  memperkuat trademark Jipang sebagai Nadikerta (Kota Bengawan). Tlatah pengendali buasnya sungai. Wilayah yang mampu menjadikan sungai sebagai musabab kemakmuran.

Denyut Nadikerta

Nadikerta bermakna Kota Sungai. Tentu, istilah ini merepresentasikan Jipang yang pernah menjadi penguasa imperium Bengawan sejak abad 11 M. Nadikerta jadi bukti penting bahwa Bojonegoro merupakan wilayah krusial, pengendali dan penentu denyut nadi perekonomian. Seperti disinggung Peter Carey dalam bukunya, The Power of Prophecy. 

Dalam konteks Nadikerta, sungai Bengawan merupakan SDA paling bisa diandalkan Bojonegoro. Literatur mencatat, sungai Bengawan mampu memaksimalkan potensi hutan jati dan tembakau Bojonegoro. Jati dan tembakau Bojonegoro, bisa masyhur hingga Eropa dan Cina, berkat keberadaan Sungai Bengawan.

Menghidupkan Nadikerta 

Dengan jasa dan kontribusinya yang cukup besar, keberadaan sungai Bengawan memang sempat terabaikan. Ia hanya diingat sebagai penyebab banjir dan kekacauan. Padahal, sejarah mencatat, sungai Bengawan sebagai medium pembawa ilmu, peradaban, dan kemakmuran.

Karena itu, sudah waktunya Pemkab Bojonegoro menghidupkan kembali konsep Nadikerta. Pemkab harus mulai memikirkan  ekonomi-kesejahteraan berbasis sungai Bengawan. Setidaknya,  istilah Nadikerta sebagai identitas kemakmuran Bojonegoro, harus dimunculkan.

Istilah Nadikerta harus diingat generasi penerus, sebagai bukti betapa baiknya hubungan leluhur dengan alam. Pada Era Digital ini, istilah Nadikerta bisa dikemas secara menarik sebagai slogan berdasar empat pilar kemakmuran: Nata Diraya, Keramat Tanggap.

Tags: Makin Tahu IndonesiaNadikerta Bojonegoro
Previous Post

Sejarah Tahu Bulat dan Perjuangan Para Petani Salak

Next Post

5 Cara Memupuk Rasa Cinta Tanah Air Indonesia

BERITA MENARIK LAINNYA

Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro
Destinasi

Gang Sedeng, Sudut Kreatif Kaum Urban Bojonegoro

05/12/2025
Sendang Banyu Urip, Penopang Ekosistem Lapangan Migas
Destinasi

Sendang Banyu Urip, Penopang Ekosistem Lapangan Migas

28/11/2025
TPG Stadium: Lapangan Bola Klusur-Klusur di Balen Bojonegoro
Destinasi

TPG Stadium: Lapangan Bola Klusur-Klusur di Balen Bojonegoro

29/09/2025

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Anyar Nabs

Alas Institute dan Komunitas MAPAK Sukosewu Kampanyekan Sedekah Sampah Melalui Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

Alas Institute dan Komunitas MAPAK Sukosewu Kampanyekan Sedekah Sampah Melalui Berbagi Takjil di Bulan Ramadan

16/03/2026
Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

Sejarah Nikah Malam Songo di Bojonegoro

15/03/2026
‎Abdulloh Umar: Menghidupkan Malam di Lima Hari Terakhir Ramadan

‎Abdulloh Umar: Menghidupkan Malam di Lima Hari Terakhir Ramadan

15/03/2026
Deregulasi: Tanpa Basis Sosial, Advokasi Hanya Retorika

Deregulasi: Tanpa Basis Sosial, Advokasi Hanya Retorika

14/03/2026
  • Home
  • Tentang
  • Squad
  • Aturan Privasi
  • Kirim Konten
  • Kontak
No Result
View All Result
  • PERISTIWA
  • JURNAKULTURA
  • DESTINASI
  • FIGUR
  • CECURHATAN
  • MANUSKRIP
  • FIKSI AKHIR PEKAN
  • SAINSKLOPEDIA
  • JURNAKOLOGI
  • SUSTAINERGI
  • JURNABA PENERBIT

© Jurnaba.co All Rights Reserved

error: